Diary Ramadhan: Cerita Ayudia Bing Slamet Puasa di Bali


  • Diary Ramadhan: Cerita Ayudia Bing Slamet Puasa di Bali
    Cerita Ayudia Bing Slamet menjalani puasa di Bali bersama keluarga (Foto:Dok.Ayudiac/Instagram)

    Bali kerap jadi destinasi wisata favorit bagi beberapa orang, baik domestik atau pun luar negeri. Bahkan, tak sedikit mereka yang datang memutuskan untuk menetap di pulau Dewata itu.

    Tak terkecuali juga salah satu selebriti ternama tanah air, Ayudia Chaerani atau dikenal dengan Ayudia Bing Slamet bersama Ditto Percussion dan buah hati mereka Dia Sekala Bumi. Dan di tahun 2021 ini merupakan kali pertama bagi mereka menjalani puasa dengan suasana yang berbeda di tempat yang paling mereka cintai, Bali. Seperti apa keseruannya? berikut wawancara eksklusif Herworld Indonesia bersama Ayudia Bing Slamet.




    (Baca Juga: Diary Ramadhan: Hannah Al Rashid Jalani Puasa Di Inggris)


    Hi Ayudia, bagaimana menjalani puasa di Bali tahun ini?

    Ini pertama kali saya menjalani puasa di Bali, walaupun saya suka sekali dengan Bali. Menjalani puasanya hampir sama seperti sebelumnya, hanya bedanya saya sudah tidak di Jakarta lagi dan tidak bertemu keluarga. Kehebohannya tetap sama, seperti menyiapkan buka puasa dan lainnya, karena sudah ada beberapa teman lama dan tim di sini. Namun, karena masih dalam situasi pandemi, saya tidak ada acara buka bersama dan hal ini membuat saya justru lebih fokus dengan diri sendiri dan keluarga. 



    (Ayudia dan keluarga berbuka puasa di pinggir pantai.Foto:Dok.Ayudiac/Instagram)


    Selain itu, suasana apalagi yang terasa berbeda dari menjalani puasa di Bali dan Jakarta?

    Sebetulnya tidak ada, tapi justru saya merasa lebih hikmat beribadah di Bali. Karena sahur tidak dibangunkan oleh siapapun, hanya alarm. Lalu subuh juga berpatok pada waktu dan aplikasi di handphone. Di dalam kesunyian itu, saya justru lebih merasa bisa mendengarkan panggilan-panggilan ibadah.


    Momen menarik yang baru dirasakan saat menjalani puasa di Bali?

    Saat di Jakarta, kita lebih terbiasa berbuka dengan suara adzan, kemudian di televisi jamnya pun WIB. Sementara di Bali menggunakan jam WITA dan itu membuat saya sedikit kesulitan untuk mengetahui waktu yang pasti. Jika mungkin di Jakarta ada list Imsakiyah, di Bali membingungkan untuk mengikuti yang mana bahkan memunculkan pertanyaan, "ini bener ngga, ya?". Alhasil saya dan keluarga pergi ke pantai dekat rumah, piknik dengan membawa makanan dan minum, kemudian setelah matahari terbenam, kami berbuka. 


    (Baca Juga: Marsha Timothy Cerita Industri Film Dan Keluarga)


    "Di dalam kesunyian, saya justru lebih merasa bisa mendengarkan panggilan-panggilan ibadah."


    Bagaimana Ayudia memaknai perbedaan itu?

    Hal ini anugerah buat saya meskipun terkesan sepi, tapi saya happy. Karena saya lebih fokus ke diri sendiri. Contohnya seperti sholat, saat sholat kita butuh ketenangan, tapi jika banyak suara, kita bisa terganggu. Walaupun sebetulnya keramaian di Jakarta tidak mengganggu juga sih saat itu, namun apa yang saya jalani sekarang banyak manfaat yang bisa diambil, seperti bisa mendengarkan diri sendiri, saat sahur bisa mindful, berbuka puasa yang tidak penuh nafsu. 


    Jika di Jakarta bisa saling berbagi bukaan sesama tetangga, bagaimana kehidupan Ayudia di Bali saat Ramadan ini?

    Kalau di Bali itu tergantung tempat, kebetulan rumahku tipe yang tidak berdekatan dengan tetangga. Intinya di sini saling menghargainya sangat kental. Walaupun jarang ditemui orang yang puasa, mereka makan ya makan saja, restoran tetap buka tanpa ada gorden yang menutup-nutupinya, tapi bukankah puasa memangnya harus seperti itu? di sini tim dan temen-temen juga agamanya berbeda, jadi ya saling menghargai saja dengan melakukan aktivitas kita masing-masing. 


    Sekarang Ayudia lebih rajin berolahraga, apa itu juga menjadi sesuatu yang baru di bulan Ramadan ini?

    Saya tidak tahu kenapa ini sesuatu yang spesial banget. Ini puasa pertama saya yang mencoba menerapkan gaya hidup baru, secara gizi dan makanan. Dan Saya merasa semakin cinta dengan puasa, entah kenapa. Dan ini kali pertama di Bali saya merasa berbeda karena memberanikan diri untuk berolahraga. Terutama di bulan April dan Mei, Bali cuacanya lagi adem dan dingin, sesuai yang diidam-idamkan setiap orang saat menjalani puasa. Ini luar biasa dan bahagia banget. Jadi, saya tetap bisa beraktivitas dengan mobilitas yang tinggi.


    (Baca Juga: Cerita Stephanie Poetri Di Balik Mini Album AM:PM)


    Lalu, target apa yang Ayudia buat untuk Ramadan tahun ini?

    Jujur tidak ada, saya hanya berusaha dan beribadah semaksimal mungkin. Walaupun sempat tidak enak badan yang juga berbarengan dengan menstruasi, sehingga sekalian tidak puasa. Justru di bulan puasa ini mengurangi dan menghilangkan target-target tertentu. Contohnya, saya rutin berolahraga untuk menaikan massa otot, dan di bulan puasa, target itu tidak bisa dijalani. Karena waktu pun terasa sempit. Yasudahlah, ini hanya setahun sekali dan saya putuskan untuk shade up-nya setelah puasa.



    (Sekala sering bangun sahur.Foto:Dok.Ayudiac/Instagram)


    Tahun ini, Sekala puasa juga?

    Sekala belum mulai menjalani puasa, namun saya tetap mengenalkannya. Dia sering kali ikut bangun sahur dan mencari saya dan Ditto di lantai bawah. Dia sendiri pun sudah tahu the idea dari puasa itu sendiri, namun belum mulai menjalaninya, karena dia pun masih kecil. Saya juga tidak mau memaksakan, karena dia bukanlah tipe yang harus dipaksa, kalau dia mau, dia pasti mencobanya.


    Lalu, apa menu berbuka dan sahur favoritmu?

    Makan biji salak dan kolak masih menjadi favorit. Di Bali ada juga yang menjual takjil, walaupun lumayan jauh dari rumah. Tapi, kebetulan saya dan Ditto juga bukan tipe orang yang harus ada makanan tertentu untuk berbuka atau sahur. Hanya saja, beberapa waktu lalu, kita meminta tolong nenek buyut memasak gulai untuk persiapan lebaran nanti. Sisanya, ya kita mengonsumsi makanan seperti biasanya saja. 


    Sudah pernah membuat takjil sendiri selama bulan Ramadan?

    Kemarin sempat buat biji salak, ice coffee jelly, pisang-pisang manis dan lain-lain. Kami memang lebih suka membuat makanan sendiri.


    (Baca Juga: Pevita Pearce & Sean Gelael Bagikan Rahasia Produktif)



    (Ayudia dan Ditto Percussion jogging ditepi pantai menjadi momen menyenangkan.Foto:Dok.Ayudiac/Instagram)


    Selain itu, kegiatan favorit apa yang biasanya Ayudia lakukan menunggu waktu berbuka?

    Siang dan sore, saya bekerja, mengurus Stuja, meeting bersama brand dan lain-lain. Secara aktivitas sama saja, yang membedakan mungkin ada jadwal berolahraga. Dulu kalau olahraga hanya di waktu pagi atau sore, kalau sekarang sebelum berbuka. Olahraga di tepi pantai itu seru banget, karena di Bali banyak tempat yang bisa di-eksplore buat jogging. Yang terpenting tetap aktif. 


    Setelah banyak bercerita, bagaimana Ayudia memaknai bulan Ramadan?

    Makna bulan Ramadan buat saya, terutama di tahun ini adalah tempat di mana bisa menahan segala nafsu. Bukan hanya makan dan minum, bahkan kemarin saya sempat menitik beratkan Ramadan dengan jadwal olahraga. Kemudian saya sadar bahwa semua hal itu, tidak bisa dipakaikan nafsu. Even olahraga saja, tidak boleh seperti itu. Itulah ibadah, segala sesuatu yang terlalu ambisius, ya tidak boleh juga. Jadi, Ramadan menjadi momen untuk berpikir lagi bahwa tidak semua hal bisa menggunakan nafsu dan emosi sesaat. Hal ini pula yang saya terapkan ke hal-hal lain juga, seperti tidak terlalu kelelahan mengerjakan pekerjaan.


    "Ramadan menjadi momen untuk berpikir lagi bahwa tidak semua hal bisa menggunakan nafsu dan emosi sesaat."


    Lalu apa rencanamu untuk merayakan lebaran nanti?

    Jujur, sebetulnya saya bukan orang yang harus merayakan sesuatu dan sepertinya tahun ini akan menjadi tahun yang flat. Saya menjalani seperti hari biasa saja, karena saya ingin meneruskan yang sudah banyak saya pelajari di bulan puasa. Jadi untuk lebaran nanti, tidak harus menentukan sesuatu. Saya berusaha memaknai itu dari dalam hati saja. Sekaligus saya ingin melihat kalau lebaran tidak melakukan apa-apa akan seperti apa rasanya, karena saya pun tidak mudik dan tidak bertemu keluarga.


    (Baca Juga: Andra Alodita & Hannah Al Rashid Berkarya Dalam Keterbatasan)


    Memaknai dari dalam, lalu apa makna lebaran bagi Ayudia?

    Momen maaf-maafan bersama semua orang dan keluarga. Hal ini juga sebetulnya bisa dilakukan tanpa tatap muka, terutama saat ini sedang pandemi. Tapi jika ini bisa berlalu, tentu ingin bertemu ramai-ramai dan kumpul keluarga, bercanda, dan Sekala bisa bertemu sepupu-sepupunya. Tapi melihat kondisi sekarang, ya ditunda dulu tanpa melupakan momen maaf-maafannya. 


    Terakhir, pesan Ayudia untuk pembaca Herworld untuk perayaan lebaran nanti?

    Semoga lebaran tahun ini tidak menghilangkan makna saling memaafkan walaupun belum bisa bertemu dengan keluarga, dan semoga puasa yang sudah dijalani bisa diterima Tuhan Yang Maha Esa. Harapannya tahun ini lebih baik, sehat selalu dan tetap jaga jarak terutama terus pakai masker!




  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Maudy Ayunda dan Amanda Khairunnisa Cover Agustus 2021
    Grab it Now!



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below