10 Penyebab Alergi Saat Di Rumah Dan Cara Mengatasinya


  • 10 Penyebab Alergi Saat Di Rumah Dan Cara Mengatasinya
    Ketahui penyebab alergi muncul saat di rumah (Foto:Dok/Pexels/Andrea)


    Selama pandemi virus corona dan new normal, sebagian aktivitas kita beralih ke dalam rumah. Mulai dari bekerja, belanja kebutuhan hingga cek kesehatan. Namun bukan berarti diri sepenuhnya akan terlindungi dari berbagai penyakit lain. Salah satunya yang mungkin saja bisa menyerangmu adalah alergi.

    Tanpa disadari berbagai benda dan furniture di dalam rumah kerap menyimpan debu yang bisa jadi pemicu alergi. Jika tidak rajin dibersihkan, kamu bisa mengalami hidung meler atau tersumbat, sering bersin, mata merah dan berair, kulit merah, gatal atau bahkan sesak nafas.



    Oleh sebabnya, penting untuk mengetahui dan mewaspadai berbagai sumber yang bisa buat alergi muncul saat berada di dalam rumah. Apa saja? Berikut deretannya.

    (Baca Juga: 7 Teknik Merapikan Rumah ala Marie Kondo)


    1. Latex


    (Sarung tangan berbahan latex.Foto:Dok/Pexels/Karolina)

    Di masa new normal ini, kita sering menggunakan sarung tangan yang terbuat dari latex. Ternyata tak sedikit orang yang alergi jika menghirup debu yang dihasilkan oleh bahan anti air ini.


    2. Bahan kimia dari pewangi/pembersih ruangan

    Pewangi atau pembersih ruangan terbuat dari banyak kombinasi bahan kimia. Jika tubuh dalam keadaan kurang fit, hal ini bisa memicu reaksi alergi. Gunakan minyak esensial berbahan alami sebagai pilihan, yang lebih ramah bagi tubuh.

    (Baca Juga: Ketahui Jenis Tanaman Yang Baik Diletakkan Di Dalam Rumah)


    3. Tungau

    Biasa hidup di kasur, bantal, sprei atau pun selimut. Tungau senang bermukim di tempat yang hangat, dan dekat dengan kulit manusia (kabarnya tungau suka sekali memakan kulit mati). Cuci sprei, selimut dan sarung bantal seminggu sekali dengan air hangat. Bersihkan matras/kasur/bantal dengan vacuum cleaner berkekuatan tinggi agar tungau terangkat.


    4. Hewan peliharaan


    (Hewan peliharaan di rumah.Foto:Dok/Pexels/Christian)

    Bulu yang rontok, kulit mati, air liur, urin/feses hewan peliharaan mengandung partikel protein yang jika mengering akan beterbangan lalu menempel di perabot rumah, menyatu dengan debu lain. Jaga kebersihan hewan peliharaan dengan memandikannya seminggu sekali. Bersihkan lantai dengan cairan antiseptic secara rutin.

    (Baca Juga: Isolasi Diri, 6 Hal Ini Bisa Kamu Lakukan Di Rumah)


    5. Jamur

    Keberadaan jamur menandakan suasana lembap. Saat panen, jamur akan mengeluarkan spora kering berukuran sangat kecil (mikroskopis) yang bagi sebagian orang akan mudah memicu reaksi alergi, bahkan bisa jadi penyebab serangan asma. Perhatikan ventilasi dan sirkulasi udara di area yang lembap. Sering buka jendela dan biarkan kehangatan sinar matahari masuk.


    6. Furnitur kayu buatan

    Kayu buatan yang dibuat dari serbuk sintetis, seperti papan partikel atau plywood mengandung formaldehida tajam baunya, dan bisa menyebabkan mata berair, gatal-gatal atau gangguan pernapasan. Sebaiknya pilih firnitur dengan bahan kayu solid.

    (Baca Juga: 5 Tips Mudah Buat yang Ingin Dekorasi Rumah Minimalis)


    7. Parfum/hairspray/sampo/cat rambut


    (Sampo.Foto:Dok/Pexels/Polina)

    Bahan kimia dan gas aerosol yang dihasilkan dari produk-produk ini tak jarang menimbulkan reaksi alergi. Saat ini banyak pilihan produk ramah lingkungan yang mengandung bahan-bahan alami. Saatnya memilih.


    8. Bunga

    Serbuk sari yang dihasilkan oleh bunga acap tertiup angin dan masuk ke dalam rongga pernafasan atau menempel di selaput lendir hidung atau mata. Kamu yang merasa sensitif terhadap serbuk sari, sebaiknya tidak meletakan tanaman outdoor di dalam rumah.

    (Baca Juga: Dekorasi Rumah Modern Dengan 'The Frame & The Serif')


    9. Kecoa

    Phobia terhadap kecoa? Ternyata ada alasannya. Kecoa termasuk golongan serangga penyebar bakteri yang paling tahan banting. Enzim pencernaan, air liur, feses, sampai tubuhnya dapat menjadi allergen. Semprot area tempat hidup kecoa dengan insektisida secara berkala.


    10. Makanan & obat


    (Alergi makanan.Foto:Dok/Pexels/Buenosia)

    Beberapa makanan dan obat tertentu bisa menimbulkan alergi sesaat setelah dimakan. Susu, telur, sea food, ikan, kacang adalah jenis makanan yang paling umum menimbulkan reaksi alergi. Juga beberapa jenis obat antibiotik.


    Menghindari faktor pemicu merupakan tindakan praktis untuk mencegah alergi terjadi dan kembali lagi. Namun hal ini acap kurang berhasil karena pemicu alergi sangat bervariasi jumlahnya. Meningkatkan imunitas tubuh dengan makanan segar dan sehat setiap hari serta banyak minum air putih dapat membuat kita tidak mudah terserang alergi. 

    Di masa pandemi ini banyak yang punya waktu ekstra untuk beberes rumah, menata kembali rak buku, sudut ruang, lemari baju, membongkar gudang, terjun ke dapur atau bahkan berkebun, membuat kompos dan merapikan tanaman. Debu yang biasanya menempel di buku-buku, tumpukan pakaian, atau sofa, kini lebih bebas beterbangan karena terusik sang nyonya rumah. Gunakan masker saat bersih-bersih rumah. Bahan masker medis dapat menyaring partikel berukuran mikro sebelum terhirup dan masuk dalam saluran pernafasan. Selain itu, buatlah udara di dalam rumah sebersih mungkin. HEPA filter (High Efficiency Particulate Air) banyak dianjurkan demi meningkatkan kualitas udara di dalam rumah.

    Jika alergi yang dialami hanya gejala ringan, kamu bisa mengoles obat topikal atau minum obat yang mengandung loratadine atau cetirizine, dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter/petugas apotek. Jika alergi sudah dirasa lebih berat dan sangat mengganggu, jangan tunda untuk berkonsultasi langsung ke dokter dan menjalani tes alergi sehingga dapat dipastikan apa saja penyebab alergi pada tubuh. 




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below