Ini Alasan Deteksi Dini Selamatkan Kita Dari Kanker Payudara


  • Ini Alasan Deteksi Dini Selamatkan Kita Dari Kanker Payudara
    Deteksi dini untuk atasi risiko kanker payudara. (Foto: Dok. Anna Tarazevich/Pexels)

    Bulan Oktober menjadi salah satu bulan istimewa untuk menyebarkan berbagai aspek penting dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kesehatan. Mulai dari kondisi psikologis hingga fisik, masyarakat diajak untuk semakin aware dengan hal-hal yang terjadi dalam tubuh, salah satunya adalah penyakit kanker payudara.


    Penyakit kanker pada dasarnya menjadi salah satu masalah kesehatan yang dialami oleh berbagai negara di seluruh dunia. Sebuah kondisi yang ditandai dengan perkembangan sel yang abnormal tak terkendali dan mampu menyerang jaringan-jaringan tubuh hingga menjadi salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).




    Melalui data Global Burden of Cancer (GLOBOCAN) yang dirilis oleh WHO pada 2018 menunjukkan bahwa jumlah kasus kanker mencapai angka 18,1 juta kasus serta kematian akibat kanker mencapai 9,6 juta pada tahun 2018. Setidaknya, satu dari lima penduduk pria maupun satu dari lima penduduk wanita di seluruh dunia menderita kanker.


    Kanker payudara menempati posisi kedua sebagai salah satu jenis penyakit kanker yang banyak dialami oleh masyarakat, sebesar 2,08 juta kasus baru. Kanker payudara juga menjadi salah satu dari lima jenis kanker dengan jumlah kematian terbanyak di dunia. Bahaya yang mengintai pun jadi salah satu alasan penting bagi tenaga medis maupun aktivis kesehatan untuk mengumandangkan pentingnya menghindari risiko tersebut.


    (Baca Juga: 14 Penyebab Nyeri Payudara yang Perlu Diketahui)


    Indonesia, sebagai negara ke-8 di wilayah Asia Tenggara dalam kasus penyakit kanker, pun mendorong masyarakat untuk semakin menyadari bahaya penyakit tersebut dan semakin memahami cara pengendaliannya. Hal ini juga berlaku bagi para penderita kanker payudara yang menjadi jenis kanker yang paling banyak dialami wanita Indonesia.


    Momen breast cancer awareness yang jatuh pada bulan Oktober pun digunakan oleh para aktivis kesehatan maupun tenaga media untuk semakin menyadarkan masyarakat, terlebih wanita, tentang bahaya kanker payudara dan bagaimana mendeteksi lebih dini


    Langkah untuk menyebarkan kesadaran tersebut pun juga dilakukan tim Her World Indonesia untuk berbincang dengan konsultan bedah payudara dari RS Royal Taruma, Dr. Alfiah Amiruddin, MD, MSURG dan juga bra specialist dari Victoria’s Secret, Jane Bellinda tentang pentingnya mendeteksi kondisi payudara lebih dini untuk menghindari risiko kanker payudara.


    (Baca Juga: Ketahui 11 Kemungkinan Penyebab Payudara Gatal Pada Wanita)


    Untuk itu, ketahui alasan kamu harus lakukan deteksi kondisi payudara lebih dini dan berkala untuk hindari risiko kanker.


    Kanker payudara bisa menyerang siapa saja

    Penyakit kanker payudara sendiri merupakan sebuah keganasan yang menyerang area payudara dan sekitarnya. Meski data menunjukkan bahwa kasus kanker payudara lebih banyak diderita wanita, tidak menutup kemungkinan juga dialami oleh pria.

    “Jadi kanker payudara itu salah satu kanker yang menimpa kaum hawa, tetapi tidak terkecuali pria pun saat ini bisa terkena kanker payudara. Tidak bergantung pada jenis kelamin, usia, maupun status ekonomi sosial, tetapi menyerang siapa saja dan kalau sudah terjadi, kita akan berhadapan dengan masalah yang cukup besar dan rumit,” jelas Dr. Alfiah.


    Selain itu, Dr. Alfiah juga menjelaskan bahwa Indonesia masih berhadapan dengan kasus kanker payudara yang cukup tinggi di masyarakat. Penyakit kanker payudara ini memiliki setidaknya 20 jenis sehingga gejalanya pun beragam, bahkan ada jenis kanker payudara yang tidak menimbulkan ciri atau gejala untuk memudahkanmu mendeteksi kemungkinan sel kanker tersebut.

    deteksi dini untuk cegah risiko kanker payudara

    (Gejala kanker payudara semakin beragam. Foto: Dok. Klaus Nielsen/Pexels)


    Namun, tidak sedikit masyarakat yang mengenali ciri-ciri kanker payudara dengan munculnya benjolan di area payudara. Faktanya, benjolan bukan satu-satunya gejala dari kanker payudara. “Harus digarisbawahi bahwa ada jenis kanker payudara yang tidak disertai dengan benjolan. Jadi jangan mengidentikkan suatu kanker payudara itu dengan adanya benjolan. Jangan juga, mengidentikkan kanker payudara dengan rasa nyeri karena sekarang [gejala] sudah mulai bergeser,” ungkap Dr. Alfiah.


    Tren yang muncul saat ini, tidak hanya mungkin dialami oleh pria, tetapi kanker payudara juga bisa menyerang oleh masyarakat usia muda. Semula, kemungkinan kanker payudara dialami oleh wanita yang sudah selesai menopause, kelompok usia di atas 50 tahun, tetapi kini dapat kelompok usianya semakin luas.


    Bahkan Dr. Alfiah pernah menangani kasus kanker payudara yang dialami oleh wanita berusia sangat belia. “Saya pernah menemukan dua kasus itu di usia 12 tahun. Itu [kasus] yang termuda, saya menggali lebih lanjut, sudah berapa lama benjolan itu. Pasien bilang itu satu bulan setelah mendapat haid pertama. Namun, setelah melakukan kajian lebih lanjut, ternyata pasien ini memang dalam histori keluarga ada ibu, saudara ibunya, dan neneknya juga menderita kanker payudara. Jadi bisa dicurigai mungkin ini memang karena genetik,” cerita Dr. Alfiah.

    deteksi dini untuk cegah risiko kanker payudara

    (Genetik menjadi salah satu faktor pemicu. Foto: Dok. Tiger Lily/Pexels)

    Lalu, apa faktor pemicunya?

    Hingga saat ini belum ada teori yang memberikan keterangan pasti tentang faktor-faktor pemicu kanker payudara, tetapi keturunan atau genetik bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya. Namun, genetik hanya berdampak sebanyak lima hingga 10 persen. Sedangkan 90 hingga 95 persen penyebab kanker payudara datang dari berbagai faktor. Beberapa penelitian mengaitkan hormonal, makanan, dan gaya hidup tiap-tiap individu.


    “Jadi saat ini memang hormonal memegang peranan penting untuk terjadinya kanker payudara. Namun, yang jelas kanker payudara tidak mungkin hanya dipicu oleh satu faktor saja. Ada banyak faktor yang saling berkumpul dan memberikan kontribusi,” jelas Dr. Alfiah.


    Untuk itu, melakukan deteksi dini menjadi salah satu langkah pencegahan sekaligus penanganan diri dari risiko kanker payudara. Dengan kelompok usia dan gender yang semakin luas, kanker payudara menjadi salah satu jenis kanker yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Semakin cepat mendeteksi kemungkinan adanya kanker payudara akan mempercepat perawatan sehingga peluangmu untuk sembuh lebih besar.


    Mengenal dua metode untuk deteksi kanker payudara


    Mungkin kamu tidak asing mendengar istilah ultrasonografi atau USG. Metode pemeriksaan payudara yang tidak menggunakan radiasi, tetapi suara dengan frekuensi yang tinggi sehingga tidak bisa didengarkan oleh telinga. USG menjadi metode yang aman dilakukan kapan saja dan usia berapapun, termasuk wanita yang sedang mengandung.


    Selain memberikan keamanan bagi pasien, USG menjadi metode deteksi yang penting bagi ahli bedah payudara. Metode ini dapat mengetahui ukuran dan jumlah tumor, serta detail kondisi sel kanker di area tersebut.


    (Baca Juga: 8 Upaya Cegah Risiko Terserang Kanker Payudara)


    “Semua sangat penting bagi saya sebagai bedah payudara, karena dapat memperkirakan berapa tebal lapisan kulit yang harus saya lakukan, posisi sayatan sehingga tidak terlihat oleh mata. Ini semua [USG] memberikan banyak bantuan informasi kepada dokter yang akan melakukan operasi sehingga nanti hasil operasinya diharapkan tidak mengganggu estetika dan kosmetik dari payudara itu sendiri. Jadi, melakukan USG itu tidak hanya untuk menentukan ini mengarah kemana [sayatan] tetapi membantu dokter mencapai hasil estetika operasi yang bagus,” jelas Dr. Alfiah.


    Berbeda dengan USG, mamografi menjadi salah satu metode deteksi dini yang banyak digunakan untuk mengetahui adanya sel kanker pada area payudara. Namun metode ini lebih dianjurkan bagi orang-orang berusia 40 tahun ke atas untuk mendeteksi kondisi payudara mereka, satu kali dalam satu tahun.


    deteksi dini untuk atasi kanker payudara

    (Ultrasonografi atau USG menjadi salah metode untuk deteksi kanker payudara. Foto: Dok. Mart Production)


    Namun, tidak sedikit orang yang enggan melakukan mamografi karena efek samping dari radiasi. Dr. Alfiah pun menekankan bahwa dengan sedikit penekanan pada area payudara maka dosis radiasi yang dibutuhkan untuk melihat seluruh lapisan menjadi lebih sedikit, secara otomatis efek sampingnya menjadi minimal.


    Pentingnya mendeteksi kanker payudara sejak dini


    Bulan Breast Cancer Awareness pun menjadi momen untuk terus menggaungkan pentingnya melakukan deteksi kanker payudara sejak dini, memeriksa kondisi payudara secara berkala. Sebab, dengan rutin memeriksa, sel kanker dapat lebih cepat dan mudah untuk ditangani. Namun perlu diingat, kamu dapat melakukan pemeriksaan payudara satu minggu setelah haid.


    Jika kamu memeriksakannya sebelum atau menjelang menstruasi, kadar hormon estrogen yang meningkat pada masa tersebut menyebabkan rasa nyeri ketika melakukan pemeriksaan, terutama metode mamografi yang menggunakan sedikit penekanan saat area payudara diperiksa.


    Kesadaran itu juga yang berusaha dibangun oleh brand pakaian dalam internasional, Victoria’s Secret melalui inisiatifnya untuk menggaungkan kampanye mengenai kanker payudara. Jane Bellinda, bra specialist dari Victoria's Secret mengungkapkan bahwa brand tersebut melakukan kerjasama dengan desainer dan juga aktivis kanker payudara, Stella McCartney. 

    Selama lebih dari 20 tahun, Stella menjadi salah satu sosok yang vokal tentang kesadaran akan menjaga kesehatan payudara, khususnya dari kanker. Ia giat mengumpulkan dana untuk riset sekaligus mengkampanyekan upaya pencegahan risiko kanker payudara melalui yayasan The Stella Cares Foundation. Victoria's Secret pun turut memberikan bantuan dana kepada yayasan tersebut.

    Selain itu, sebagai bentuk komitmennya, Victoria's Secret pun mendirikan The VS Global Fund for Women's Cancers dengan Pelotonia untuk mendanai proyek riset inovatif yang bertujuan untuk penyembuhan kanker pada wanita, termasuk kanker payudara. Setiap tahunnya, brand pakaian dalam ini mendonasikan setidaknya 5 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan 71 miliar rupiah untuk riset mengenai kanker tersebut.


    (Kampanye #CheckYourself, gerakkan wanita untuk mendeteksi kanker payudara lebih dini. Foto: Dok. Victoria's Secret Indonesia)

    Dengan #CheckYourself, Victoria’s Secret menggunakan platformnya untuk terus menyadarkan masyarakat akan bahaya kanker payudara dan bagaimana deteksi dapat menjadi langkah awal untuk mencegah risiko masyarakat terkena kanker payudara. Sebuah komitmen yang terus dijalankan oleh brand pakaian dalam tersebut.


    (Baca Juga: 6 Penyebab Payudara Kendur Paling Umum & Cara Mencegahnya!)


    Inilah alasan kamu harus melakukan deteksi dini untuk bisa mencegah risiko kanker payudara yang nantinya menyelamatkan nyawamu. Kalau kamu ingin tahu keseruan obrolan Her World Indonesia bersama Dr. Alfiah Amiruddin, MD, MSURG dan Jane Bellinda, kamu bisa menyaksikannya kembali melalui akun Instagram resmi Her World Indonesia.


    Gerakan untuk mendeteksi kondisi payudara lebih dini yang dilakukan oleh Victoria's Secret ini juga membagikan langkah-langkah #CheckYourself bersama Stella McCartney yang bisa kamu temukan dengan mengunjungi akun Instagram Victoria's Secret. Semoga semakin banyak wanita Indonesia yang lebih sayang akan kesehatan payudaranya. Happy Breast Cancer Awareness Month!





  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Vanesha Prescilla Cover September 2021
    Grab it Now!



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below