Apresiasi Her World Women of The Year 2021


  • Apresiasi Her World Women of The Year 2021
    Her World Indonesia Women Of The Year 2021. (Foto: Dok. Her World Indonesia; Dok. Pribadi)

    Nanda Mei Sholihah, 22,

    Atlet Paralimpik Cabang Atletik

    Her World Woman Of The Year 2021

    OLEH: RENGGANIS PARAHITA, FOTO: DOK. HERWORLD INDONESIA


    Sebagai salah satu atlet paralimpik muda asal Solo yang masih terus membanggakan Indonesia, tentu bukan hal mudah baginya untuk menyabet lebih dari 20 medali emas baik dari pertandingan nasional dan juga internasional. Ada dukungan dan pesan orangtua di baliknya yang terbukti berhasil membuat perempuan pemilik hobi masak ini jadi punya banyak prestasi.



    “Lakukan apa pun yang kamu suka selama itu positif untuk hidupmu. Jalani! Jangan pernah membatasi diri apalagi jika kamu tahu kamu mampu”. Pesan inilah yang selalu terngiang dalam benak pelari atletik yang mengaku pernah jatuh hati pada sesama atlet ini. Tanpa dukungan orangtua, terutama saat ia mulai beranjak remaja di usia 11 tahun, mungkin dirinya sudah tenggelam dalam ejekan yang dulu kerap diterimanya “Dulu waktu saya kecil, yah namanya juga masih anak-anak, teman-teman sering mengejek tangan saya buntung. Rasa sedih jelas ada. Namun karena pada dasarnya saya adalah orang yang cuek, maka sedih saya pun tak pernah sampai berlarut. Malah karena orangtua tak pernah berhenti kasih dukungan, saya pun terus ikut kelas olahraga dan pertandingan-pertandingan yang ada. Alhamdulillah selalu menang hingga kepercayaan diri saya pun semakin kuat”. Tukas atlet yang sampai sekarang masih penasaran ingin coba cabang olahraga lain yaitu menembak dan memanah dan masih susah untuk menyukai sepak bola karena teknik bermainnya yang dirasa sangat sulit.

    Sejak pandemi, diakui memang waktu untuk latihan jadi banyak berkurang terutama pada saat awal-awal Corona. Fasilitas olahraga semua ditutup sehingga para atlet harus latihan sendiri di rumah. Sedangkan atlet lari dan sprinter seperti dirinya jadi kesulitan karena latihan lari di lintasan tetap diperlukan. Untungnya, kini ia sudah bisa kembali ke lapangan. Meski situasinya berbeda yaitu tetap tidak bisa latihan ramai-ramai seperti dulu lagi, namun setidaknya kerinduan akan trek yang sesungguhnya pun terobati. “Iya, jadi kami latihannya dibagi dua sesi. Untuk yang nomor lintasan dapat jadwal pagi, sedangkan untuk nomor lapangan dapat giliran sore.” Tambahnya.

    Sebelum mengakhiri perbincangan, atlet yang mengaku ikut membeli tanaman hias dan semakin suka coba resep masakan baru sejak pandemi ini pun berpesan agar, jangan pernah merasa malu jika kita punya keluarga, teman, apalagi anak yang menyandang disabilitas. Karena rasa malu itulah yang justru nantinya akan membuat mereka semakin tidak berkembang terutama setelah dewasa. Mereka jadi semakin tak bisa apa-apa. Tuntun saja untuk melakukan apa pun yang mereka mau. Sebab di Indonesia, para difabel masih sering dipandang sebelah mata sehingga mereka sulit mengekspresikan diri di tengah masyarakat. “Saya justru sangat bersyukur dengan keadaan ini. Karena dengan begini, saya malah bisa berprestasi dan membanggakan orangtua. Mungkin kalau kondisinya lain, saya malah tak tahu akan jadi apa. Selain itu, rasa syukur terbesar saya juga adalah memiliki keluarga yang luar biasa suportif yang pada akhirnya malah membuat saya bisa sampai di titik ini”. Tutup mahasiswi Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Keolahragaan (FKOR) UNS yang juga mengaku punya bakat lain yaitu menggambar dan mendesain pakaian.


    Suci Apriani, 22

    Ketua KPAD Kediri, Lombok Barat

    Her World Woman Of The Year 2021

    OLEH: RENGGANIS PARAHITA, FOTO: DOK. SUCI APRIANI


    Menggagalkan praktik perkawinan anak boleh dibilang merupakan salah satu tindakan paling berani yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang usianya tak lebih dari 22 tahun. Apalagi jika terjadi di desa atau daerah-daerah terpencil di Indonesia. Isu ini pun sudah lama jadi perhatian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pada khususnya dan negara pada umumnya. Di sinilah Suci, hadir untuk menolong anak-anak keluar dari praktik perkawinan usia anak yang sudah terlanjur mengakar di daerahnya. Segala jenis ancaman pun pernah ia terima mulai dari disumpahi takkan menikah sampai usia berapapun hingga ancaman fisik seperti tangannya akan dipotong dan dibegal jika bersikeras menggagalkan perkawinan anak yang nyaris terjadi.

    Hal utama yang membuatnya konsisten dalam menyuarakan hal ini adalah keikutsertaannya pada tahun 2016 dalam sebuah program bernama ‘Yes I Do’ yang digagas oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dengan berbagai mitra berkaca pula dari pengalaman keluarga di mana kakak laki-lakinya harus menghadapi perceraian karena menikah di usia yang terlalu muda (20 tahun) dengan seorang anak perempuan berusia 15 tahun. Orangtuanya pun bercerai saat ia masih kecil. Jadi ia pikir, hal-hal seperti ini harusnya bisa tidak terjadi jika seseorang baik laki-laki atau perempuan bisa mematangkan diri dulu sebelum benar-benar melangsungkan perkawinan. Setidaknya, ada banyak hal yang harus diperkaya dan dinikmati saat masih sendiri sehingga pemicu keretakan rumah tangga seperti misalnya ingin bekerja, ingin kuliah, atau bahkan ingin mengembangkan potensi tak muncul belakangan pada saat sudah memiliki anak. Anak pun kemudian jadi korban sehingga sering terjadi pertengkaran yang berujung pada perceraian.

    Lebih dari itu, teman-teman sebayanya juga banyak yang sudah punya anak ketika masih SMP sehingga mereka menyesal dan tak lagi bisa bebas bermain. Rangkaian kenyataan inilah yang kemudian membuatnya berhenti tinggal diam dan memutuskan untuk bergabung dalam Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) dan menjadikannya perempuan pertama di Indonesia yang berhasil menjadi ketua KPAD. Banyak penghargaan yang ia dapat dan banyak pula pujian yang mampir pada dirinya. Namun hal tersebut tak serta-merta membuat mahasiswa S1 Pendidikan Kimia di Universitas Mataram ini berpuas diri. Ia masih punya cita-cita besar untuk masuk dan jadi bagian dalam Lembaga PBB serta keliling dunia untuk melihat bagaimana perlindungan anak yang berhubungan dengan perkawinan usia muda digalakkan di negara berebeda.

    Lepas dari segala perjuangan dan ketidakgentarannya menentang praktik perkawinan anak, Suci juga masih punya hobi yang sama dengan perempuan seusianya. Ia amat senang membaca Webtoon, nonton drama Korea, jalan-jalan ke pantai bersama teman, hingga makan enak. Baginya, waktu bekerja dan waktu senggang memang harus dipisahkan. Beruntunglah ia memiliki keluarga yang suportif terutama sang ibu yang juga jadi sosok paling inspiratif dalam hidupnya. Bahkan, sang ibu memberi kebebasan luar biasa baginya untuk terus bergerak dalam urusan ini. “Saking suportifnya, segala kegiatan saya yang berhubungan dengan KPAD, rapat-rapat penting, atau sekedar penyuluhan dan pemberdayaan anak perempuan, selalu ia arahkan untuk dilakukan di rumah. Jadi, rumah saya boleh dibilang selalu ramai karena setiap ada kumpul-kumpul seringkali dilakukan di rumah. Ibu malah senang!” tutup anak bungsu dari tiga bersaudara yang dulunya punya cita-cita ingin menjadi guru. Satu pesan darinya adalah “Jangan pernah jadikan perkawinan anak sebagai solusi karena hal itu justru akan membuka permasalahan baru lagi”.


    Nadhira Afifa, 25

    Dokter, Penulis Buku, dan Commencement Student Speaker

    Her World Woman Of The Year 2021

    OLEH VANESSA MASLI FOTO DOK. NADHIRA AFIFA


    Meringankan beban orang lain atau memberi manfaat sebesar-besarnya bagi banyak orang adalah hal yang membuat seorang Nadhira Afifa merasa sepenuhnya bahagia. Perasaan inilah yang kemudian mendorong perempuan 25 tahun ini untuk mengemban tanggung jawab sebagai seorang dokter. Nama Nadhira Afifa menggema di penjuru Tanah Air ketika ia mendapat kesempatan untuk menjadi commencement student speaker pada wisuda daring Harvard University pada 2020 lalu, tepatnya saat ia resmi menyelesaikan studi pascasarjananya dengan mengambil jurusan Public Health.

    Ketika menempuh studinya di Harvard, Nadhira memfokuskan diri untuk memahami lebih dalam tentang nutrisi. Bersama dengan rekan-rekan mahasiswanya juga, ia pun bertolak ke Tanzania, Afrika Timur untuk mengambil bagian dalam penanganan masalah gizi buruk di kalangan remaja usia sekolah.

    Setelah pulang ke Indonesia, Nadhira melanjutkan misinya untuk meringankan beban orang lain melalui profesinya sebagai dokter. Kemudian ia pun berbagi informasi melalui video-video yang diunggah ke kanal YouTube miliknya, mendirikan sebuah wadah donasi bertajuk Bunda.plus yang digunakan untuk menyalurkan bantuan yang berhubungan dengan kebutuhan bayi, baik untuk dijual kembali atau diberikan kepada yang membutuhkan, dan meluncurkan buku bertajuk Limitless yang mengisahkan tentang perjuangan dan perjalanan hidup menempuh pendidikan sebagai dokter, baik ketika menimba ilmu di Universitas Indonesia maupun di Harvard University.

    Meski sosoknya telah banyak dikenal dan menjadi inspirasi, namun ia kerap merasa belum cukup dan tidak percaya diri, “Kalau jadi dokter memang kita lifelong learner, ya. Jadi memang harus selalu belajar dan memang ilmunya selalu updated. Jadi kalau kita tidak mengikuti pace-nya akan ketinggalan dan praktiknya akan salah. Itu saja sudah cukup jadi struggle bagi saya karena sampai kapanpun sepertinya saya tidak akan pernah cukup. Rasanya akan kurang terus dan harus belajar terus. Jadi, at some point, kadang kalau sedang praktik, masih saja sering merasa kurang mampu dan kurang percaya diri terutama juga ketika bertemu dengan pasien,” ungkapnya.

    Namun, dedikasinya untuk terus menjadi manfaat bagi banyak orang pun menjadi motivasinya untuk menjalani profesi tersebut sepenuh hati. Kesulitan dan rasa tidak percaya diri pelan-pelan ia olah dengan memotivasi diri untuk terus berilmu dan berkemampuan. Meski baru saja menjadi seorang ibu pada bulan Juni lalu, ia tetap jadi sosok perempuan yang tak pernah berhenti bermimpi. Rupanya semakin ia dewasa, mimpinya semakin tinggi. Namun, ia mengaku bahwa kini ia sedang fokus membangun mimpi-mimpi jangka panjangnya termasuk mimpi untuk mengambil spesialisasi dalam lima tahun ke depan.

    Dengan pengalaman dan inspirasi yang diberikannya, Nadhira merasa bahwa menjadi perempuan adalah hal yang sangat istimewa karena ada banyak peran yang harus dijalani setiap harinya. Mulai dari sebagai ibu hingga menjadi wanita karier. Untuk itu, Nadhira berpesan pada semua perempuan Indonesia untuk jangan merasa tidak berhak mendapatkan pendidikan tinggi atau untuk mengejar karier karena selama perempuan dapat membagi peran dengan baik, semua dapat diatasi dengan baik pula. “Menjadi perempuan yang pintar itu tidak hanya untuk diri sendiri tetapi bisa menghasilkan generasi-generasi yang pintar juga. Jadi, peran perempuan itu sangat-sangat penting,” ungkap Nadhira mengakhiri perbincangan.


    Maudy Ayunda, 26

    Penyanyi & Aktor

    Her World Women Of The Year 2021

    OLEH VANESSA MASLI FOTO DOK. HER WORLD INDONESIA


    Sosok Maudy Ayunda sudah tak asing lagi dalam dunia hiburan Indonesia. Sejak memulai kariernya pada usia 11 tahun melalui perannya sebagai Rena dalam film Untuk Rena (2005) arahan sutradara Riri Riza, ia pun berhasil mendapatkan penghargaan di Film Festival Jakarta 2006 untuk kategori Aktris Utama Terpilih.

    Perjalanannya dalam industri hiburan pun semakin lebar ketika ia kembali berakting dalam film Sang Pemimpi. Memerankan tokoh Zakiah Nurmala sekaligus membawakan lagu bertajuk Mengejar Mimpi yang juga menjadi bagian dari soundtrack film tersebut, Maudy Ayunda yang pada saat itu masih berusia 26 tahun pun terlibat juga dalam dua teater musikal berjudul Rumah Tanpa Jendela dan Tendangan dari Langit.

    Pada 2012, Maudy pun berakting bersama Adipati Koesmadji dalam dua film berbeda, yaitu Malaikat Tanpa Sayap dan Perahu Kertas. Ia pun membawa beberapa lagu yang turut melengkapi soundtrack film adaptasi dari buku karya Dewi Lestari tersebut. Atas karyanya itulah Maudy meraih Piala Maya 2012 dalam kategori Lagu Tema Terpilih untuk Perahu Kertas.

    Terlepas dari talenta dan kreativitas yang membesarkan namanya, kecintaannya untuk belajar dalam berbagai hal akhirnya mendorongnya menempuh studi di University of Oxford dengan jurusan Philosophy, Politics and Economics dan lulus pada 2016. Di saat yang sama, ia pun tetap aktif bermain film dan juga merilis karya musik seperti album Moments (2015) dan Oxygen (2018).

    Selain film dan musik, Maudy pun menuangkan kecintaannya pada literasi dan kegemarannya akan membaca dalam berbagai buku inspiratif yang ia luncurkan. Mulai dari A Forest of Fables pada 2005, #Dear Tomorrow: Notes to My Future Self pada 2018, hingga dua novel bertajuk Kina’s Story yang diterbitkan pada 2019 silam.

    Namun, cintanya untuk terus menimba ilmu pun tetap menjadi semangatnya sampai ia memutuskan untuk melanjutkan studi di salah satu universitas ternama dunia, Stanford University. Mengambil tidak hanya satu tetapi dua gelar yaitu Master jurusan Bisnis dan juga Edukasi, menjadikan pengalamannya menjalani hari di negeri Paman Sam ini pun memberinya makna dan perspektif baru akan bagaimana dirinya menjalani hari-hari setelah kembali ke Indonesia.

    Dalam video berdurasi 13 menit yang ia unggah di kanal YouTube, Maudy mengungkapkan bahwa dirinya belajar banyak tentang adaptasi, terlebih di tengah pandemi. Ketika pandemi melanda dunia pada 2020, Maudy tengah menjalani masa-masanya sebagai mahasiswi di Stanford dan harus merasakan suasana kampus yang sekejap sunyi dengan kelas-kelas yang berubah virtual. Namun, perlahan, masa pandemi pun mendekatkannya pada diri sendiri dan alam sehingga pengalamannya menjalani studi terasa lebih istimewa.

    Kini, Maudy telah kembali ke Tanah Air dan dengan berbagai pelajaran serta pengalaman yang ia miliki, aktris kelahiran tahun 1994 ini siap untuk kembali berkarya baik dalam dunia hiburan maupun dunia pendidikan Indonesia. Lagu Don’t Know Why dan Not For Us adalah dua bukti nyata semangat Maudy untuk kembali bermusik yang tidak hanya menghibur tetapi juga membangun perspektif baru bagi generasi muda Indonesia.


    Tiza Mafira, 37,

    Ahli Hukum dan Kebijakan Lingkungan

    Her World Women Of The Year 2021

    OLEH ELLYZA AURELIA FOTO DOK. TIZA MAFIRA


    Sosok Tiza Mafira dikenal sebagai aktivis lingkungan yang berperan penting dalam pembatasan penggunaan plastik. Dengan latar belakang ilmu hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Harvard Law School, perempuan berusia 37 tahun ini bekerja sebagai ahli hukum dan kebijakan lingkungan dengan spesialisasi di bidang perubahan iklim dan pengelolaan sampah. Bukan hanya sekadar ucapan, Tiza mewujudkan rasa cinta lingkungannya sebagai profesi yang ia jalani, yaitu sebagai Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP). Kepeduliannya terhadap lingkungan terlihat dari upaya yang Tiza lakukan untuk mendorong pelarangan penggunaan kantong plastik di lebih dari 50 kota di Indonesia.


    Sebelum menjadi aktivis lingkungan seperti saat ini, Tiza menyadari bahwa masih belum ada peraturan yang secara spesifik mengatur pengelolaan sampah plastik. Hal ini mendorongnya untuk fokus dalam advokasi kebijakan pembatasan plastik sekali pakai. Bahkan, ia sampai meninggalkan pekerjaannya di law firm untuk berfokus dalam pengelolaan sampah plastik. “Saya mendalami ilmu hukum lingkungan ketika S1 dan S2. Saya melihat bahwa untuk masalah sampah plastik, ada kekosongan hukum,” ujar Tiza. Demi mengawali tujuan mulia tersebut, Tiza menciptakan gerakan Plastic Bag Diet bersama dengan teman-teman dan organisasi lain yang memiliki kesamaan visi. Dimulai dari kegiatan sukarela, gerakan ini dijadikan sebagai organisasi yang dapat dilakukan secara penuh waktu.


    Namun, niat baik untuk mengatur sampah plastik tidak berjalan dengan lancar. Penolakan, terutama dari sektor industri, sering menjadi kendala dalam pelaksanaan campaign ini. Penyusunan peraturan harus dilakukan dengan cermat untuk mencegah adanya celah yang berpotensi membatalkan kebijakan pelarangan kantong plastik. Walaupun perjalanan Tiza banyak mengalami hambatan, ia tidak pernah berhenti untuk terus berjuang. Tiza sadar bahwa jalan yang ia pilih akan dihadapkan dengan berbagai tantangan, bahkan kegagalan. Namun, kerja sama tim bersama Gerakan masyarakat menjadi motivasi baginya untuk terus berjuang. “Gerakan masyarakat untuk mencapai perubahan adalah sebuah maraton, bukan sebuah sprint,” jelasnya. Upaya yang diperjuangkan Tiza bersama teman-temannya membuahkan hasil. Selain berhasil mengadvokasi pelarangan kantong plastik di Bali dan Jakarta setelah menghadapi berbagai penolakan, keberhasilan tersebut juga membuatnya memperoleh berbagai penghargaan, seperti UN Ocean Hero (2018), Anugerah Revolusi Mental (2019), dan GenT Future Leader of Asia Award (2020). Selain itu, Tiza juga ditawarkan untuk tampil dalam dua film dokumenter, yaitu Story of Plastic (2019) dan Pulau Plastik (2021).


    Walaupun telah berhasil dalam mengupayakan advokasi pelarangan kantong plastik, Tiza tidak ingin berhenti sampai di situ saja. Ia berencana untuk terus mendorong kebijakan-kebijakan lain yang dapat berkontribusi terhadap krisis iklim, seperti kebijakan pro lingkungan, pro energi terbarukan, pro kebersihan air dan udara. Tiza menyadari bahwa profesi yang ia jalani saat ini akan terus menghadapi tantangan dan kegagalan. Makna dari sebuah pekerjaan menjadi motivasi baginya untuk terus berjuang menghadapi tantangan dan kegagalan tersebut. “Jangan lupa mencari makna dalam setiap pekerjaan dan sesuatu yang dapat kita pegang sebagai kompas tujuan. Karena makna itulah yang akan membantu kita tetap gigih dan konsisten, meskipun sering mengalami kegagalan,” tutup Tiza.


    Amanda & Janna Soekasah, 42,

    Director Ghea Resort & Co. Founder Bracelet of Hope

    Her World Women Of The Year 2021

    OLEH KIKI RIAMA PRISKILA FOTO DOK. AMANDA & JANNA SOEKASAH


    Harapan punya makna yang kuat bagi siapa pun yang mendengarnya. Harapan bisa menjadi first small step untuk membuat seseorang tetap tegar dalam menjalani rintangan hidup. Inilah yang menjadi pegangan bagi Amanda & Janna Soekasah dalam mendirikan gerakan Bracelet of Hope atau dikenal dengan Gelang Harapan pada 2014. “Saat itu di luar negeri sedang marak gerakan sosial yang menggunakan media sosial sebagai wadahnya. Salah satunya adalah ice bucket challenge untuk menebarkan awareness tentang ILS Syndrome. Terinspirasi dari sana, kami dan beberapa teman seperti Wulan Guritno dan Dimas Beck yang punya latar belakang fashion dan dunia kreatif, memaksimalkan platform ini untuk mendaur ulang sisa-sisa kain dari Ghea Fashion Studio menjadi gelang-gelang cantik. Gelang sendiri dipilih karena bentuknya yang bundar sehingga melambangkan unity dan bisa digunakan siapa saja,” ujar Janna, yang juga merupakan anak dari desainer kondang, Ghea Panggabean.


    Dari produksi gelang tersebut, Amanda & Janna menyumbangkan seluruh hasil penjualan pada komunitas kanker. Kenapa kanker? “Waktu itu, penyakit kanker sangat dekat dengan kami. Kebetulan nenek kami adalah seorang penyintas. Bahkan kami cukup sering mendengar kabar ada teman atau keluarga dekat yang terkena kanker. Mulai dari usia tua hingga anak-anak. Akhirnya kami memutuskan untuk fokus menyebarkan awareness terhadap penyakit kanker dan bentuk solidaritas bagi para penderita kanker,” jelas Janna. Gerakan yang kala itu bernama “I am Hope” ini pun akhirnya viral di media sosial. Bahkan berhasil membuat toko offline di Plaza Indonesia. Kini, harapan itu telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan besar yang menyentuh hati lebih banyak orang. Amanda & Janna bersama Wulan Guritno mendirikan Yayasan Dunia Kasih Harapan yang bukan hanya fokus pada kanker, tapi juga menjadi gerakan positif untuk membantu di segala bidang sosial. Tak hanya sekadar menjual produk, namun Amanda Janna juga mencoba teknik care entertainment dalam mendapatkan donasi.

    “Kami menyajikan packaging yang lebih fun, misalnya dari media sosial, lewat acara musik hingga film, sesuai dengan passion kami,” lanjut Amanda. Dari sana, semakin banyak gerakan yang akhirnya tercipta. Sebut saja seperti “Bracelet of Hope” yang launching pada 2017 untuk fokus pada edukasi budaya anak-anak muda dan hasil penjualan gelang disumbangkan ke seniman jalanan. Pada 2018, ada gerakan “Bracelet of Peace” yang diluncurkan bersama enam pemuka agama sebagai simbol dari keberagaman yang harmonis. Hasil penjualan saat itu didonasikan ke pesantren yang mengajarkan toleransi beragama. Terakhir, mereka fokus pada konservasi alam ketika Amanda, Janna, dan Wulan terpilih sebagai Duta WWF di bidang konservasi satwa liar. “Pada 2020 sendiri, demi merayakan ulang tahun Ghea Fashion ke-40, kami menciptakan second line bernama Ghea Resort sebagai tribute dengan tujuan untuk melestarikan alam, satwa, dan suku-suku di Indonesia lewat print cantik,” ungkap Amanda.

    Harapan memang punya banyak bentuk, bahkan bisa menjadi sebuah petualangan. Momen jatuh-bangun yang pasti dirasakan siapa saja, termasuk Amanda & Janna. Salah satunya saat menciptakan sebuah gerakan baru bertajuk “Kasih”, hasil kolaborasi dengan desainer Stella Rissa, yang dilakukan selama pandemi di awal tahun 2021. “Di saat-saat sulit seperti ini, kasih itu sangat penting. Dalam arti saling peduli, saling memberi, dan saling merangkul satu sama lain. Hasil keuntungan dari t-shirt ini ingin kami tujukan untuk kesetaraan bagi anak perempuan dan pembelaan hak anak. Kami juga bekerja sama dengan organisasi Plan International,” jelas Janna. Nantinya, donasi juga akan

    diberikan untuk penyediaan air bersih di daerah Sumba. Konsistensi yang dikerjakan sejak 2014 memang berhasil membuahkan karya yang manis. Keduanya mengaku bahwa tanpa adanya konsistensi, gerakan ini pasti tidak akan bisa sustain. Lalu apa yang terus memicu konsistensi mereka? “Setiap ada orang yang merasa terbantu dengan adanya perhatian kecil dari kami. Mungkin kalau dibandingkan dengan instansi Pemerintah, pemberian ini belum seberapa, tapi bisa melihat senyuman dan mendapat pelukan dari mereka yang membutuhkan, itulah yang menjaga api semangat kami,” ungkap Janna.

    Selain itu, Amanda juga menambahkan bahwa kerja sama tim adalah poin yang tak kalah penting.

    Inspirasi dari sang ibu juga terus menyemangati mereka. “Kami sangat berterimakasih pada Mama Ghea. Karena kami belajar dari beliau untuk be creative with a purpose,” tambah Janna. Pada akhirnya, melalui semua gerakan ini, keduanya berharap bisa membuktikan pada dunia bahwa selalu ada harapan dalam semua rintangan.


    Shinta Nurfauzia, 33

    CEO dan Co-Founder Lemonilo

    Her World Women Of The Year 2021

    OLEH ELLYZA AURELIA FOTO DOK. SHINTA NURFAUZIA


    Shinta Nurfauzia, seorang perempuan yang pernah mengalami fase quarter life crisis untuk menemukan tujuan hidupnya. Walaupun memiliki latar belakang di bidang hukum, bahkan pernah bekerja di sektor hukum, Shinta memutuskan untuk fokus menjadi seorang pebisnis. Sebuah keputusan yang tidak semua orang berani ambil. Sejak kecil, Shinta sudah memiliki ketertarikan dengan dunia bisnis. Ia telah mencoba untuk berjualan setelah melihat kegiatan bisnis yang dilakukan oleh lingkungan keluarganya. Selain itu, CEO Lemonilo ini juga ingin memiliki dampak besar bagi masyarakat. Dia merasa bahwa manfaat sosial yang diberikan kepada masyarakat terasa lebih besar ketika menjadi pebisnis. “Kita harus mendedikasikan diri kita kepada lingkungan sekitar, kepada masyarakat,” ujar Shinta.


    Proses membangun sebuah bisnis jelas bukan hal yang mudah. Shinta akhirnya bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama ketika sedang menjalani pendidikan magister. Mereka tertarik untuk mendirikan bisnis di bidang kesehatan karena memiliki manfaat besar bagi masyarakat. Dengan didasari kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih belum menerapkan gaya hidup sehat, mereka berencana untuk menjadi penggerak. Lemonilo adalah jawaban atas masalah tersebut, yaitu dengan membuka akses hidup sehat bagi masyarakat Indonesia dengan produk yang healthy, affordable, dan tasty.

    Shinta menyadari bahwa dunia bisnis membutuhkan kerja keras dan konsistensi. Hal ini diakui olehnya ketika mendirikan dua bisnis di sektor kesehatan sebelumnya. Walaupun memiliki tujuan untuk gaya hidup sehat bagi masyarakat, namun ia merasa masih belum cocok dengan kegiatan bisnis tersebut. Setelah belajar dari pengalaman, Shinta bersama kedua rekannya akhirnya berhasil mendirikan Lemonilo yang sesuai dengan passion mereka. “Tantangan dalam bisnis harus dihadapi bersama-sama. Kita harus punya sense of mission yang sama,” jelas Shinta. Selain itu, Shinta juga menganggap bahwa konsistensi dan kerja sama tim merupakan faktor penting dalam menjalani sebuah bisnis. Passion dibutuhkan untuk menjaga konsistensi dalam tim. Menurutnya, tanpa adanya rasa cinta terhadap pekerjaan, maka proses yang ditempuh akan terasa berat. Dalam hal kerja sama tim, Shinta percaya bahwa faktor tersebut dapat dicapai ketika kita bersama dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan.

    Walaupun dikenal sebagai pebisnis, namun Shinta tetap tidak melupakan perannya sebagai seorang ibu di keluarganya. Sebaliknya, peran tersebut justru mendorongnya untuk mengasah kemampuan bisnisnya menjadi lebih baik. Ia merasa bahwa keseimbangan yang harus dijalankan di dunia pekerjaan dan keluarga membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Seorang pebisnis biasanya juga memiliki role model yang merupakan pebisnis juga. Hal tersebut sama seperti Shinta. Baginya, cukup banyak pebisnis yang menjadi inspirasinya. Salah satunya adalah CEO Tesla, Elon Musk. Menurut Shinta, Musk memiliki pola pikir yang hebat, seperti memiliki berbagai ide inovatif dan out of the box. Sosok tersebut juga berani untuk mengambil risiko dan belajar di luar zona nyaman. Sebuah kemampuan yang tidak dimiliki oleh banyak orang.

    Hal tersebut menjadi motivasi bagi Shinta. Ia pun berencana untuk terus mengembangkan Lemonilo menjadi lebih besar. Setelah bisnis ini bisa memiliki CEO profesional lain, Shinta berencana untuk mencari ide-ide dan membangun bisnis lain yang memiliki pengaruh positif bagi masyarakat. “Cari pekerjaan yang bisa membuatmu bahagia. Hadapi kebimbanganmu, jangan dihindari,” pesan Shinta.


    Marissa Anita, 38,

    Lead Editor Greatmind.id, Aktris, Presenter

    Her World Women Of The Year 2021

    OLEH KIKI RIAMA PRISKILA FOTO DOK. JOZZ FELIX


    Sosok Marissa Anita dikenal dengan segudang prestasi dan kesibukannya. Mengawali karier sebagai jurnalis di Metro TV, NET, Al-Jazeera, dan ABC Australia. Selain terlibat dalam jurnalistik, Marissa juga sangat menyukai akting hingga ia mengambil peran di beberapa film dan berhasil meraih penghargaan seperti Aktris Pendatang Baru Terpilih (2014) di Piala Maya untuk film Selamat Pagi, Malam. Bukan hanya berakting di layar lebar, Marissa juga menjadi seorang pemain teater sejak tahun 2005 dan bergabung dengan komunitas teater The Jakarta Players. Menjadi seorang jurnalis, presenter, sekaligus aktris pun tak membuat Marissa berhenti belajar. Ia mulai mendalami tentang Media Practice di University of Sydney pada 2006 dan melanjutkan jurusan Digital Media & Society di Loughborough University, Inggris pada 2016. Marissa pun mengakui bahwa di usia 20, ia punya banyak ambisi dan ingin terus mencoba hal-hal baru.


    Perubahan mulai terjadi ketika ia memasuki usia 30-an. Marissa pelan-pelan tertarik dengan konsep slow-living atau being mindful with life. “Tinggal di kota besar membuat kita terbiasa untuk hidup secara otomatis. Setiap hari sudah ada rutinitas yang harus dijalankan, jadi kita enggak terlalu menikmatinya, rasanya we take everything for granted,” jelas Marissa. Isu mental health pun menjadi isu serius bagi Marissa. “Sekitar enam tahun lalu, saya mengalami kesedihan luar biasa dan depresi. Ada momen di mana saya bisa menangis tanpa tahu alasannya. Ternyata itu semua berasal dari trauma masa kecil yang belum selesai,” kenang Marissa. Pada momen struggling itu pun Marissa mengaku sempat membuat keputusan yang kurang bijak. Dalam usahanya untuk memulihkan diri, Marissa membaca banyak buku dan menghabiskan waktu dengan diri sendiri.


    “Ketika kita merasakan ketidak-nyamanan, jangan lari dari itu. Karena saat kita berani untuk menatapnya, itu adalah awal dari kesembuhan kita,” lanjutnya. Meditasi juga jadi cara Marissa untuk menemukan Kembali kebahagiaan dalam hidupnya. “Waktu itu saya mencoba meditasi duduk, meditasi makan, dan meditasi jalan. Intinya, semua dilakukan secara mindful dan betul-betul dinikmati,” jelas Marissa. Selain itu, menulis dan journaling jadi cara lain baginya untuk move on dan bisa menyadari kenyamanan diri sendiri. Dengan begitu, Marissa mengaku ia lebih bisa mengatur emosinya. Nyatanya, pengalaman ini pulalah yang menjadi inspirasi dari ragam tulisan dan opini Marissa dalam Greatmind.id, sebuah wadah yang mengeksplorasi pemikiran tentang ide, aspirasi, dan advokasi terhadap berbagai topik kehidupan.


    Dalam tulisan-tulisannya seperti ‘Toxic Relationship, Stoikisme: Filosofi Anti Cemas, dan Sabotase Diri’, Marissa berusaha membantu masyarakat Indonesia untuk bisa memahami lebih dalam tentang mental health itu sendiri. “Saat ini sudah banyak orang yang sadar akan mental health, which is good. Tapi belum banyak referensi atau ilmu tentang kesehatan mental yang tersedia di lanskap mainstream,” jelasnya. Marissa sendiri terinspirasi dari sebuah channel Youtube berjudul The School of Life yang menjadi favoritnya selama di Inggris dan merasa terbantu dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.


    Carys Mihardja, 17

    Founder Carys Care

    Her World Women Of The Year 2021

    OLEH SHANTICA WARMAN FOTO DOK. CARYS MIHARDJA


    Tiga tahun lalu, Carys Mihardja tersentuh melihat anak-anak dengan down syndrome yang selalu memperlihatkan wajah gembira & tulus. Kala itu, Carys yang baru saja memasuki masa remaja, datang ke pawai yang diadakan oleh POTADS (Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome) dalam rangka memeringati Hari Down Syndrome Dunia. Carys Care dibentuk pada 2018 sebagai platform yang bertujuan menggalang awareness terhadap para penyandang down syndrome. “Mereka punya bakat terpendam, walaupun kemampuan yang dimiliki tidak sama dengan kita. Lebih tepat jika kita menyebut mereka itu memiliki different ability bukan disability,” ungkap siswa Sekolah Pelita Harapan Lippo Village ini.

    Carys menemukan tak sedikit dari teman down syndrome yang memiliki talenta, seperti menari atau melukis. Beberapa hasil lukisan mereka diproduksi oleh rekanan Carys Care menjadi sebuah tas, t-shirt, tumbler, scarf, pouch dan lain-lain. Merchandise ini dijual dan seluruh keuntungannya digunakan untuk memberi dukungan finansial pada keluarga dengan anak down syndrome bekerjasama dengan POTADS. “Kami ingin bakat dan karya mereka bisa dihargai dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas.” Carys Care sendiri dibangun dengan komitmen tinggi agar semua berjalan secara sustainable. “Saya tidak mau ini terbangun secara hit & run saja. Hanya sekali terus berhenti. Saya ingin gerakan ini terus berlangsung, walaupun saya melanjutkan kuliah nanti.” Dalam rangka hari Down Syndrome Dunia tahun ini, Carys menggelar virtual painting competition yang melibatkan tak kurang dari 300 teman down syndrome di seluruh Indonesia. Untuk itu, ia memerlukan dana yang tidak sedikit.


    Carys adalah siswa SMA yang mengaku tidak cukup percaya diri untuk mengetuk pintu membawa proposal mencari dana. Di usia sekolah yang belum ada penghasilan, Carys sering berpikir ingin menggunakan tabungan ataupun uang jajannya selama pandemi (karena sekolah online) untuk membeli kebutuhan yang diperlukan untuk men-support teman-teman down syndrome nya. “Dengan cara itu tentu yang saya lakukan tidak akan bisa bertahan lama,” begitu pikirnya. Ternyata semesta mendengar kegalauan gadis cilik yang hobi nonton Netflix dan volunteering ini. Ia dihubungi beberapa pihak yang akan menyediakan peralatan melukis sejumlah yang diperlukan, juga menyediakan hadiah untuk para pemenang lomba lukis ini. Tak hanya itu, Carys juga menerima tawaran kerjasama dari beberapa pihak yang akan membantunya memproduksi tas dari hasil lukisan. Ini yang disebutnya sebagai gerakan yang menghasilkan awareness dalam lingkup yang luas. Semakin banyak orang yang peduli, akan semakin berkelanjutan gerakan ini nantinya.


    Youth Empowerment

    Apa pencapaian Carys Care setelah tiga tahun berdiri? “We’re so blessed!” Banyak support datang dan yang terpenting, awareness yang dicita-citakan sudah mulai terlihat wujudnya. Dalam rangka Hari Down Syndrome Sedunia, Carys bekerjasama dengan UNICEF menjalankan program give back. “Selama ini, anak dengan down syndrome dikenal sebagai kalangan yang perlu disokong. Namun kali ini, mereka justru ingin memberi lewat karya,” tutur Carys. Lewat program kolaborasi bersama UNICEF, karya dari teman-teman down syndrome akan dipasarkan dan hasilnya disumbangkan pada anak-anak yang membutuhkan di Indonesia.

    Tahun lalu, Carys masuk dalam salah satu penerima 2020 APEC Award kategori Best Social Impact. Sebelumnya, ia juga sempat bertemu dan berbincang dengan tokoh United Nation, alm. Kofi Annan di Bali yang hingga kini menginspirasi Carys dalam membuat gerakan Youth Empowerment. Bulan Juni lalu, Carys menjadi salah satu penerima The Diana Award 2021. Penghargaan ini ditujukan kepada generasi muda yang aktif menjalankan kegiatan sosial untuk kemanusiaan, layaknya Princess of Wales.

    Award itu bagi saya adalah bonus. Saya mementingkan bagaimana kita berkontribusi bagi orang lain,” tutur Carys yang sejak kecil memang telah terbiasa bekerja sosial.


    Greysia Polii, 33, dan Apriyani, 23,

    Atlet Badminton Indonesia

    Her World Women Of The Year 2021

    OLEH ELLYZA AURELIA FOTO DOK. GREYSIA POLII & APRIYANI RAHAYU


    Menjadi juara olimpiade merupakan perjuangan panjang setelah menghadapi berbagai rintangan. Greysia Polii dan Apriyani membuktikan bahwa usaha dan kerja keras yang mereka lakukan berhasil membawa pulang medali emas bagi Indonesia dalam kancah Olimpiade Tokyo 2021. Tidak tanggung-tanggung, kedua pemain ganda putri ini bahkan telah fokus untuk menjadi atlet badminton sejak kecil.

    Greysia Polii telah mengenal olahraga, terutama bulu tangkis sejak usia 5 tahun. Menurutnya, latar belakang sebagian besar keluarga yang merupakan olahragawan membuat wanita berusia 33 tahun ini tertarik dan akhirnya lebih serius untuk menjadi atlet badminton sejak usia 8 tahun. Hal serupa dialami juga oleh Apri. Orang tuanya telah mengenalkan berbagai cabang olahraga sejak kecil dan melihat bahwa Apri memiliki potensi di bidang bulu tangkis. Dorongan orang tua tersebut menjadi salah satu motivasi baginya untuk konsisten menjadi seorang atlet bulu tangkis.

    Menjadi juara dalam kompetisi sekelas Olimpiade Tokyo 2021 jelas jadi sebuah kebanggaan yang luar biasa. Apriyani mengakui bahwa berhasil membawa pulang medali emas Olimpiade merupakan impiannya sejak belia.

    Sementara bagi Greysia, medali emas tersebut menjadi bukti dari berbagai proses yang telah ia alami. Tak hanya sekadar latihan, namun peristiwa kekalahan bahkan pernah mengalami diskualifikasi pada London 2012 Olympic, menjadi proses yang pernah dihadapi selama menjadi seorang atlet bulu tangkis.

    “Ada proses pendewasaan yang membentuk karakter, bukan hanya di dalam lapangan, tapi juga di luar lapangan,” ujar Greysia.

    Tantangan ada untuk dihadapi, bukan dihindari. Dulu, Apriyani merasa bahwa kekalahan kadangkali merupakan kegagalan dalam kariernya. Namun, kemudian ia yakin bahwa dedikasi dan pengorbanan atas banyak hal yang telah ia lakukan sejak kecil dapat menjadi modal penting untuk menghadapi rintangan. Perempuan berusia 23 tahun ini pun selalu meyakinkan dirinya untuk terus berjuang.

    Dalam menghadapi Olimpiade Tokyo 2021, Apri kemudian menyiapkan berbagai kebutuhan mulai dari fisik, teknik bermain, nutrisi hingga sisi psikologisnya terutama karen harus bertanding di tengah kondisi pandemi COVID-19. Untuk mencapai prestasi besar, tentu wajar apabila seseorang juga harus memberikan dedikasi yang maksimal.

    Walau telah berhasil mencapai salah satu impiannya sejak kecil dengan menjadi juara dalam Olimpiade Tokyo 2021, Apri akan terus meningkatkan performa dan prestasinya di cabang olahraga bulu tangkis. Masih ada berbagai kompetisi yang dapat ia ikuti dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia lagi. Di usianya yang masih muda, Apri juga masih memiliki berbagai peluang untuk berpartisipasi dalam kompetisi badminton lainnya.

    Tak Cuma Apri, Greysia juga yakin bahwa kemenangan yang berhasil ia torehkan merupakan hasil pembelajaran dari berbagai kegagalan dan tantangan di masa lalu. Kemenangan dan kekalahan menjadi pengalaman berharga untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Sementara bagi Apri, totalitas sangat dibutuhkan untuk terus fokus meniti karier walau berbagai telah tantangan menanti.

    “Untuk meniti karier, kita butuh pengorbanan, kesabaran, keikhlasan, dan totalitas,” ucap Apriyani.






  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Vanesha Prescilla Cover September 2021
    Grab it Now!



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below