Her World Women of The Year 2016


  • Her World Women of The Year 2016
    Atas nama passion, para perempuan inspiratif ini sukses berdiri teguh pada kariernya untuk memajukan generasi Indonesia baru. (Foto: Dok. Her World Indonesia)

    Ria Sarwono & Carline Darjanto, Pendiri Cotton Ink


    TATA RIAS WAJAH DAN RAMBUT @ANETASHAEUNIKE_MAKEUPARTIST BUSANA COTTON INK, POMELO FASHION, REVES STUDIO


    Bermodalkan satu juta rupiah, kini Cotton Ink sukses menjadi salah satu brand lokal paling sukses di Indonesia. Penghargaan seperti The Most Innovative Brand dan Most Favorite Brand sukses diraih brand di bawah arahan dua perempuan kreatif ini.




    Telah berdiri selama 8 tahun, seperti apa perkembangan Cotton Ink?

    Ria: “Sudah sangat berkembang. Dulu, orang belum banyak yang biasa belanja daring. Bahkan fashion di Indonesia pun belum banyak yang mengusung busana siap pakai. Kami memanfaatkan platform yang ada seperti Facebook dan Blogspot. Bisa dibilang, kami memulai di saat yang tepat.”


    Kabarnya, kalian mulai dengan modal satu juta rupiah?

    Ria: “Benar. Dulu produksi kami masih kecil demi mendapatkan uang tambahan. Saya meminjam uang dari Bapak sebagai modal memproduksi 24 kaus, yang akhirnya berbuah seperti sekarang.”


    “Kami tak ingin jadi brand sekali lewat. Kami ingin terus berkembang merangkul semua perempuan Indonesia lainnya.”


    Seperti apa kesulitan yang harus dihadapi hingga mencapai posisi saat ini?

    Carline: “Saya merasa tertantang dari segi entrepreneurship. Semakin banyak tantangan pekerjaan, banyak kritikan pelanggan, atau saat supplier tidak bisa mengirimkan barang tepat waktu. Di awal, saya masih sering menangis karena kesal. Tapi lambat laun berubah dan fokus pada solusi.”


    Lalu, bagaimana kalian bertahan, sebagai brand, di tengah ramainya persaingan?

    Ria: “Sebenarnya dengan banyaknya brand baru, persaingan jadi semakin segar. Di sisi lain, kami jadi lebih bisa berjaga-jaga. Kami juga berusaha belajar dari brand internasional mengenai cara bertahan dan bersaing secara sehat.”


    Apa moto karier yang selalu dipegang?

    Ria: “Saya paling ingat ucapan Bapak, ‘Rencanakan pekerjaanmu dan kerjakan rencanamu.’ Jangan membuat rencana saja tapi tidak dilakukan. 

    Carline: “Ya, keluarga memang sangat mendukung kami. Dari sana kami merasa mendapatkan energi lebih. Kami tidak bekerja sendirian.”



    Evie Yulin, Country Director PT Merck Tbk


    TATA RIAS WAJAH DAN RAMBUT @ANETASHAEUNIKE_MAKEUPARTIST BUSANA MARKS & SPENCER


    Bergabung dengan perusahaan farmasi dan kimia tertua di dunia, Evie merupakan satu-satunya perempuan dalam jajaran direksi dan pengambil kebijakan utama soal obat resep di perusahaannya.


    Hal apa yang paling mengubah hidup Anda?

    “Saat saya terdeteksi penyakit kanker pada bulan September 2012 dan jenis kanker ini hanya menyerang lelaki usia 70 tahun ke atas. Sebagai seorang perempuan berumur 49 tahun, saya harus menjalani operasi dan kemoterapi sampai kehilangan rambut. Saya sempat depresi dan marah. Namun berkat kanker yang saya hadapi, saya jadi lebih fokus untuk hubungan antar manusia yang lebih baik. Ini adalah tahun keempat saya sebagai pejuang kanker, namun belum menjadi cancer survivor.”


    Apakah kualitas terbaik dari diri Anda?

    “Saya adalah orang yang well-organised. Saya memiliki rencana akan pencapaian setiap tahunnya. Untungnya, perusahaan saya juga dapat melihat usaha, kontribusi dan semua hal baik yang sudah saya lakukan, jadi cocok.”


    Bagaimana perkembangan farmasi di Indonesia?

    “Peluang farmasi sangat besar dikarenakan jumlah penduduk yang sangat banyak. Namun, belum banyak kesadaran akan berbagai macam penyakit kronis dan tidak kronis.”


    Apa kegiatan Anda di luar Merck?

    “Saya menjabat sebagai Vice Chairman dalam asosiasi nirlaba IPMG (International Pharmaceutical Manufacturer Group). IPMG merupakan sebuah perkumpulan industri farmasi asing yang ada di Indonesia. Hanya ada dua orang perempuan yang bergabung di dalamnya, dan saya adalah satu-satunya orang Indonesia di situ. Saya juga menjadi wakil bendahara di Ikatan Apoteker Indonesia. Kami menggalang dana untuk penyakit kanker dan membuat aktivitas reguler bagi panti asuhan. Mereka butuh orang yang peduli dan memberikan kasih sayang. Karena itu, saya lebih suka pendekatan secara personal.”



    Michelle Tjokosaputro, Presiden Direktur Bateeq


    BUSANA JEFFRY TAN


    Lulus dari Paris, perempuan tangguh ini membantu menyelamatkan bisnis keluarga yang menghidupi 10.000 orang dari kebangkrutan. Seiring berjalannya waktu, berdirilah brand Bateeq dengan konsep segar dan modern.


    Bagaimana perjalanan Anda membangun kembali kejayaan PT Dan Liris?

    “Akibat kondisi ayah yang sudah berkali-kali terkena stroke, saya diminta untuk aktif di Dan Liris pada divisi garmen dan kakak saya divisi tekstil. Puncaknya pada 2015, beliau lumpuh total dan terjadi demonstrasi besar-besaran akibat adanya PHK pada divisi tekstil. Saya yang pada saat itu sedang hamil, harus berjuang untuk menyelamatkan Dan Liris yang amat terpuruk.”


    Lalu, sosok pemimpin seperti apakah Anda?

    “Sesibuk apa pun saya, suami dan anak-anaklah yang paling penting. Begitu banyak orang-orang Dan Liris yang lebih mengenal perusahaan ini daripada saya sendiri. Saya selalu berucap kepada tim, “Please lead me, instead of me leading you”, karena saya berbeda dengan ayah. Hingga saat ini, perusahaan kami memiliki 11.000 orang pekerja. Seiring berjalannya waktu, berdirilah brand Bateeq dan hingga saat ini sudah ada 52 toko yang tersebar di berbagai daerah.”


    “Saya selalu berucap kepada tim, please lead me, instead of me leading you.”


    Bagaimana awal mula Anda menghadirkan handicraft yang dibuat oleh perempuan di berbagai pelosok daerah?

    “Kerajinan tangan itu sesuatu yang spesial, terlihat mudah namun sangat sulit. Kami akhirnya mengunjungi dusun-dusun di pelosok daerah dan memberikan pelatihan kepada para perempuan di sana.”



    Rini Sugianto, Animator


    FOTO DOK. PRIBADI


    Setelah lulus, Rini bekerja sebagai character animator di berbagai studio film internasional dan menggarap film seperti The Avengers, Iron Man 3, dan The Hunger Games: Catching Fire. Rini juga mengembangkan sekolah animasi online bernama Flash Frame Workshop.


    Apa tantangan paling sulit yang pernah Anda alami?

    “Tantangan selalu muncul karena rasa percaya diri saya sendiri. Apalagi setelah saya selesai kuliah, saya terus memikirkan karier dan keberhasilan untuk masa depan. Apakah yang saya pelajari berguna? Sesudah kontrak kerja satu tahun saya berakhir, timbul lagi rasa tidak percaya diri tersebut. Akhirnya saya percaya untuk terus berharap, mencoba, dan semuanya akan berhasil.”


    Indonesian needs more leaders. Kita tidak bisa terus menunggu orang lain untuk membuka jalan bagi kita, lebih baik buat jalan bagi kita sendiri.”


    Harapan dari sekolah animasi online Anda?

    “Harapan saya pada sekolah animasi online tersebut dapat memberikan pengetahuan, menjadi wadah untuk membagikan pengetahuan yang telah saya dapatkan selama bekerja di AS. Terlebih, sebagai tempat untuk mengembangkan pengalaman dan ilmu animator muda.”


    Bagaimanakah Anda menyesuaikan etika kerja di AS dan Indonesia?

    “Tidak ada kesempatan untuk duduk diam, bersantai, dan berhenti belajar. You really have to be good at it and responsible



    Fitriya Nur Annisa Dewi, Peneliti dan Kepala Program Riset Biomedis


    TATA RIAS WAJAH DAN RAMBUT QIQI FRANKY BUSANA TOTON THE LABEL


    Penyayang binatang ini bercita-cita menjadi dokter hewan sejak kecil. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil meraih penghargaan dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan.


    Sebagai dokter hewan, mengapa Anda memilih penelitian untuk kesehatan manusia?

    “Profesi ini tidak hanya mengobati anjing atau kucing, tetapi sangat luas. Dokter hewanlah yang bisa memastikan kesejahteraan hewan tetap terjamin. Saya menggeluti bidang ini agar penggunaan hewan dalam penelitian dilakukan secara etis di tangan dokter yang menyayangi mereka, serta ingin memanfaatkan bahan alami untuk meningkatkan kesehatan terutama para perempuan.”


    Apa yang membuat Anda ingin meneliti potensi daun katuk yang memenangkan beberapa penghargaan?

    “Kalau ‘kata orang’, daun katuk sangat berkontribusi untuk ASI, jadi pasti ada manfaat lain untuk payudara. Dari situ saya meneliti bagaimana potensinya untuk menyembuhkan atau mencegah kanker payudara. Dari tahun 2009 hingga saat ini, saya dan tim juga meneliti potensi kedelai dan tanaman lain untuk kanker payudara.”


    “Saya ingin memberikan jawaban ilmiah dari resep nenek moyang tentang penggunaan tanaman Indonesia sebagai pengobatan.”


    Apa saja kesulitan yang ditemui selama proses penelitian?

    “Untuk satu penelitian saja membutuhkan banyak hal yang harus digali agar pertanyaan ilmiah terjawab lebih cepat. Saya termasuk yang paling muda, usaha saya harus dua kali lipat untuk membuktikannya, but that’s a good point. Kalau secara personal, membagi waktu cukup sulit. Banyak hal yang harus dikerjakan dalam waktu yang sempit apalagi sesuatu yang sangat disuka. Beruntungnya, saya memiliki keluarga dan tim yang sangat suportif.”



    Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation


    TATA RIAS WAJAH DAN RAMBUT QIQI FRANKY BUSANA TOTON THE LABE


    Perempuan manis ini merupakan sosok di balik berdirinya Galeri Indonesia Kaya di Grand Indonesia. Renitasari berhasil mengemas sebuah ruang publik edutainment budaya berbasis multimedia pertama di Indonesia yang bisa diakses secara gratis.


    Tantangan seperti apa yang Anda lalui hingga sampai ke posisi saat ini?

    “Di awal karier, saya adalah seorang single parent yang harus bisa menjadi ayah dan ibu. Bagi saya, hidup tak harus selalu bahagia, melainkan bagaimana kita bisa melewati hal-hal yang menantang.” 


    Seberapa besar dampak yang diberikan GIK pada masyarakat?

    “Sebenarnya sampai saat ini, apa yang kami lakukan masih satu gelombang kecil. Namun di usia ketiga yang jatuh pada tahun ini, kami cukup bersyukur akan pencapaian yang sudah ada, seperti sukses meraih 300.000 pengunjung, lebih dari 1.000 pertunjukan sudah digelar, dan lebih dari 300 pekerja seni (baik senior mau pun junior) menggunakan tempat ini.”


    “Kesabaran untuk menghargai sebuah proses adalah moto utama dalam berkarier.”


    Program yang sedang dijalani saat ini?

    “Kami sedang membuka program Ruang Kreatif, workshop di mana seniman senior membagikan pengalaman dengan calon-calon seniman di berbagai kampus.”



    Yuni Jie, Desainer Interior


     TATA RIAS WAJAH DAN RAMBUT @BEAUTYBYYUSTI BUSANA REVES STUDIO


    Kecintaannya menggambar skesta membuat perempuan stylish ini menekuni studinya di Amerika Serikat untuk menjadi seorang desainer interior. Kembali ke Indonesia pada 2002, ia membangun perusahaan JIE Design dan mendapatkan banyak penghargaan. Keinginan untuk terus berkreasi dibuktikan dengan bergabung dalam ID12, sebuah perkumpulan desainer interior Indonesia.


    Apa yang membuat Anda berani membangun JIE Design?

    “Saya memikirkan ibu saya yang tinggal seorang diri di Indonesia. Saya pulang ke Indonesia dengan pemikiran untuk memulai bisnis desain interior yang saat itu belum populer. Saya sangat beruntung memiliki teman yang berbaik hati untuk menyewakan sebagian kecil lahan dari kantornya dengan harga terjangkau. Saya dapat bertahan karena dukungan ibu dan suami.”


    I speak a lot trough my social media. Berbagi inspirasi dari hal-hal kecil yang positif.”


    Bagaimana cara Anda menginspirasi orang lain?

    I speak a lot through my social media. Saya dapat berbagi pengalaman dan inspirasi dari berbagai hal kecil dalam kehidupan yang positif. Untuk inspirasi desain, saya menuangkannya melalui buku yang saya tulis. Melalui buku, saya dapat memberikan gagasan tentang dunia desain interior di Indonesia.”


    Apa arti ID12 bagi diri Anda?

    “Saya adalah salah satu desainer termuda di ID12. Mereka seperti keluarga bagi saya dan kami selalu menginspirasi satu sama lain. Meskipun memiliki bidang yang sama, kami percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Gaya desain kita juga berbeda jadi tidak ada istilah rebutan klien.”



    Santhi Serad, Pendiri ACMI dan Kebun Bumi Halaman


    TATA RIAS WAJAH DAN RAMBUT QIQI FRANKY BUSANA TANGAN


    Ia memiliki kebun dengan lebih dari 300 tanaman herbal Indonesia. Bersama William Wongso, Santhi terlibat dalam komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia.


    Kesulitan paling diingat sepanjang karier?

    “Beberapa tahun yang lalu saya sudah mendapatkan izin untuk mengembangkan produk dengan label jamu, tetapi dibatalkan oleh teman bisnis saya. Namun saya tidak putus asa dan akan tetap mencari peluang lain dari bumi herbal.”


    Bagaimana Anda menjadikan Kebun Bumi Herbal sebagai sarana edukasi?

    “Baru-baru ini kami membangun fasilitas flying fox di atas kebun herbal. Kami juga menghadirkan demo masak dengan basis tanaman obat serta permainan menarik, seperti mengajak anak-anak mengenal tanaman herbal. Saya senang mereka dapat membawa pulang pengetahuan itu dengan bangga.”


    “Menjadi perempuan itu harus mandiri, kreatif, juga berani mengemukakan pendapat.”


    Bisa ceritakan program rutin Aku Cinta Masakan Indonesia?

    “Mulai dari mengunjungi pasar tradisional, memperkenalkan masakan Indonesia dan bumbu-bumbunya ke luar negeri. Selain kelas memasak, ada potluck, seperti mengulik resep masakan rumahan dengan tema per dua bulannya, semisal membawa resep dengan olahan singkong. November ini ACMI ke Seoul dan Namibia untuk promosi makanan Indonesia. Saya ingin orang Indonesia tidak lupa dengan resep nenek moyang, makanya sering saya ingatkan agar selalu mencatat dan melestarikan resep-resep tersebut.”



    Amanda Witdarmono, Pendiri We The Teachers


     TATA RIAS WAJAH DAN RAMBUT @BEAUTYBYYUSTI BUSANA KRINOU


    Sejak dulu, Amanda sudah tertarik dengan dunia pendidikan. Ia mendirikan gerakan We The Teachers, yang memajukan profesi guru dan tenaga pendidik di berbagai wilayah pelosok Indonesia demi kesetaraan edukasi.


    Bagaimana tercetus ide untuk mendirikan We The Teachers?

    “Semua berawal saat saya mengambil jurusan Teacher’s College di Columbia University. Saya mewawancara lebih dari 100 guru untuk laporan tugas akhir. Di situ, saya melihat banyak hal yang memengaruhi kualitas persiapan guru. Sebagian besar lelah menyiapkan RPP yang menghabiskan 80% keseharian mereka, ditambah tanggung jawab pribadi sebagai ibu dan ayah. Mereka tidak mungkin bisa menyiapkan materi belajar ideal saat sibuk. Saya akhirnya mengumpulkan beberapa guru di sebuah perpustakaan untuk saling berbagi ilmu. Prinsipnya lebih pada ‘We’ (kita, bersama-sama) karena tidak semua guru sempurna. Masing-masing punya cara mengajar di kelas yang bisa dibagikan ke guru lain.”


    “Indonesia memiliki potensi edukasi yang sangat besar dan saya berharap kita tidak menyia-nyiakannya.”


    Kontribusi apa yang sudah dilakukan bagi profesi guru dan edukasi Indonesia?

    “Kami berusaha mengingatkan kembali misi para guru dalam memberikan kegiatan belajar mengajar yang lebih bermakna. Kami cukup bersyukur, sejak tiga tahun berjalan, kami berhasil mengumpulkan 2.800 guru dari Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, Lampung, hingga Papua.”



    OLEH AMALTA R DYANDRA, KIKI RIAMA PRISKILA, OLIVIA ATEN FOTO HANAFI DIGITAL IMAGING RAGAMAYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA AUDI FRISTYA, NABILA MECADINISA, ARIFA MALIK



 

Related Articles

Her World Women of The Year 2014

Her World Women of The Year 2014

oleh Zamira Mahardini

Her World Women of The Year 2018

Her World Women of The Year 2018

oleh Zamira Mahardini

Her World Women of The Year 2019

Her World Women of The Year 2019

oleh Zamira Mahardini

Her World Women of The Year 2015

Her World Women of The Year 2015

oleh Zamira Mahardini

Advertisement - Continue Reading Below