Hati-hati, Ini Dampak Buruk Terlalu Sering Memikirkan Uang


  • Hati-hati, Ini Dampak Buruk Terlalu Sering Memikirkan Uang
    Sebuah penelitian menunjukkan dampak buruk saat seseorang terlalu mementingkan uang dan kekayaan. (Foto: Dok. Pexels/Andrea)

    Benarkah uang akar segala kejahatan? Penelitian mengungkap, hanya dengan memikirkan uang, seseorang secara tidak sadar akan membuat keputusan tidak etis, seperti berbohong, atau membuat keputusan tak bermoral, demikian penelitian yang dilakukan para ahli dari Harvard dan University of Utah's David Eccles School of Business.


    Dalam jurnal berjudul “Organizational Behavior and Human Decision Processes” disebutkan, “Meskipun seseorang berniat baik, atau merasa dapat membedakan yang benar dan salah, terdapat faktor yang memengaruhi keputusan dan perilaku yang tidak Anda sadari,” ungkap Kristin Smith-Crowe, salah satu penulis, profesor manajemen di University of Utah David Eccles School of Business.




    Studi tersebut meminta beberapa mahasiswa bisnis untuk membuat kalimat dari berbagai kelompok kata. Beberapa frase harus memiliki fokus keuangan, seperti “ia menghabiskan banyak uang”, dan frase lainnya harus bersifat netral, seperti “ia berjalan di rumput”. Para peneliti menemukan, mahasiswa yang tereskpos frase keuangan berpotensi berbohong lebih sering dalam kegiatan selanjutnya, meskipun tak menerima imbalan finansial secara langsung. Tidak hanya itu, para konsumen juga harus berhati-hati karena motif memperoleh keuntungan juga bisa membuat mereka membuat keputusan tak etis. 


    (Baca Juga: 5 Langkah Bijak Kelola Dana Pinjaman Agar Bisnis Aman)


    Peneliti menguak fakta, para partisipan membuat konsep uang yang dihubungkan dengan kerangka keputusan bisnis. Menyebabkan mereka berfikir sempit saat memperhitungkan biaya manfaat dan mengejar kepentingan pribadi dengan mengesampingkan pertimbangan moral.


    (Baca Juga: Rahasia Mengatur Uang Bulanan)


    Sebetulnya ini bukan penelitian pertama yang mengamati hubungan antara uang dengan perilaku culas. Studi pada 2012 menemukan, orang kaya tidak hanya cenderung berbohong, menipu, melakukan perilaku tak etis di kantor, tetapi juga tega mengambil permen dari anak-anak. Dalam eksperimen tersebut, orang-orang yang lebih kaya mengambil permen dua kali lebih banyak dari botol berlabel “for children”, daripada orang orang yang lebih miskin.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below