Ndaru Patma, Atlet Para-Tenis Yang Belajar Mencintai Diri


  • Ndaru Patma, Atlet Para-Tenis Yang Belajar Mencintai Diri
    Mencintai diri tak selamanya mudah, apalagi saat dihadapkan dengan keadaan yang tak terbayangkan. (Foto: Dok. Instagram/@ndarupatma)

    Kisah Ndaru Patma Putri, seorang atlet para-tenis, berawal saat gempa berskala 5,9 richter di Jogja pada 2006. Saat itu ia masih kelas 2 SMP, usianya sekitar 14 tahun. “Gempanya seperti ombak, jadi saya jatuh dan bangun berkali-kali. Saya sudah lari ke luar rumah, namun tembok rumah tetangga runtuh dan menimpa punggung saya sehingga posisinya seperti sedang mencium lutut. Tembok pun baru bisa diangkat oleh enam orang. Saat itu, saya masih sadar namun saya tak bisa merasakan seluruh kaki,” kenang Ndaru. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menyatakan syaraf tulang belakang terluka sehingga Ndaru harus menggunakan kursi roda seumur hidupnya.


    Butuh waktu lama bagi Ndaru untuk menerima kenyataan. “Kala itu saya berada di titik terendah dalam hidup,” ujarnya sambil mengingat kembali pernyataan dokter. Ia yang dulu terbiasa aktif di sekolah dan mahir menggunakan motor, harus kesakitan setiap malam karena ada besi penyangga di punggung. Pada tahun pertama menggunakan kursi roda, Ndaru pun hampir mengakhiri hidupnya dengan pisau. “Saya menyimpan pisau di belakang kursi roda selama satu minggu,” lanjut anak keempat dari lima bersaudara ini.




    (Baca Juga: Cara Mencintai Diri Sendiri, Apapun Kekurangannya)


    Selain Ndaru, sang ibu juga sempat mengalami kesulitan melihat anak perempuannya harus duduk di kursi roda. “Karena kami bukan keluarga kaya. Bahkan dulu saya tak punya cita-cita untuk lanjut ke SMA. Rencananya setelah lulus SMP, saya ikut Kakak ke Malaysia untuk jadi buruh jahit,” jelas Ndaru.



    (Ndaru Patma berusaha untuk tak patah semangat. Foto: Insan Obi/Pengarah Gaya: Yolanda Deayu/Tata Rias Wajah dan Rambut: @meriklaa/Busana: H&M Conscious/Aksesori: Aidan and Ice)

    Namun niatan bunuh diri akhirnya hilang karena Ndaru melihat kedua orang tuanya yang tak pernah lelah mengurusnya. Ia juga sempat bertemu yayasan penyandang disabilitas dari seluruh Indonesia. Di sana, ia melihat masih banyak orang dengan kondisi yang lebih parah, bahkan sejak lahir, tapi masih bisa tersenyum. Kini, ia justru memaksimalkan potensi diri sebagai atlet para-tenis nasional. Prestasinya pun tak main-main, ia mulai bertanding di Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) atau setingkat Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga kejuaraan ASEAN Para Games.


    (Baca Juga: 10 Artis Ini Tetap Pede Meski Memiliki Kekurangan)





    Kesibukannya sebagai atlet pun membuat Ndaru memutuskan untuk merantau ke Jakarta seorang diri. Lalu, apakah Ndaru kini sudah berdamai dengan diri sendiri? “Bagi saya, proses perdamaian itu seumur hidup. Kadang hingga saat ini, pasti masih ada titik yang membuat saya down. Tapi intinya, bagaimana saya bisa bangkit dari sana,” ungkap Ndaru. Ia juga merasa masih perlu adanya peningkatan awareness, khususnya bagi penyandang disabilitas, bahwa mereka juga memiliki potensi dalam diri. “Cantik tak melulu soal fisik. Saat kita masih berguna bagi orang lain, kita pasti akan terlihat cantik,” tutupnya.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below