Hari Raya Nyepi: Fakta & Acara Yang Tiada Sebab Virus Corona


  • Hari Raya Nyepi: Fakta & Acara Yang Tiada Sebab Virus Corona
    Hari Raya Nyepi kali ini berbeda dengan adanya pandemi virus corona. Simak fakta dan kegiatan yang mengalami perubahan sebab pandemi corona(Foto:Dok/unsplash)


    Sebagai peringatan sekaligus hari besar bagi umat Hindu, Hari Raya Nyepi kerap memiliki tujuan yang bermanfaat bagi bumi dan manusia. Tak seperti perayaan lainnya yang ramai dipenuhi dengan pawai, kumpul bersama, dan lainnya, sebaliknya momen ini diperingati dengan suasana hening dan damai.

    Dikenal juga dengan sebutan Tahun Baru Saka, di tahun ke 1942 ini, Hari Raya Nyepi masih memperkuat tradisi 'Catur Brata' Penyepian yang mengusung empat pantangan yang harus dilaksanakan. Di antaranya adalah tidak melakukan pekerjaan (amati karya), tidak menyalakan api (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan) dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan). 



    Sebelum dan setelah menjalani ritual 'Catur Brata' Penyepian dalam kurun waktu 24 jam, berbagai upacara dan festival menjadi perayaan yang meriah dan menyenangkan. Di antaranya adalah upacara Melasti, Festival Omed-Omedan, pawai Ogoh-Ogoh dan lainnya yang bisa diikuti kala menyambut Hari Raya Nyepi.

    Namun akibat pandemi virus corona yang kerap diwaspadai dengan melakukan social distancing dan self-isolation, beberapa acaranya kerap dibatasi pengikut, bahkan ada pula yang ditiadakan. Hal ini merupakan himbauan dari Gubernur Bali I Wayan Koster dan para pemimpin Desa Adat di berbagai wilayahnya

    Meskipun tak dilakukan dengan kemeriahan, namun Hari Raya Nyepi masih bisa dirayakan dengan cara lain. Selain sarat akan makna peringatan ini juga memiliki fakta unik di dalamnya. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut diantaranya yang patut diketahui.

    (Baca Juga: Makna Ucapan Hari Raya Nyepi yang Unik Dan Menarik)


    Fakta Hari Raya Nyepi


    1. Inspirasi dunia

    Perayaan Nyepi menjadi inspirasi bagi dunia. PBB sendiri juga telah menetapkan 21 Maret sebagai World Silent Day sebagai hari besar yang bisa dijalani oleh seluruh masyarakat di dunia. Bedanya, Hari Raya Nyepi lebih mengarah pada kegiatan spiritual dengan harapan mendapatkan kerahmatan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sementara pada World Silent Day perayaan ini menjadi langkah menyelamatkan bumi dari global warming dan perubahan iklim. 


    2. Pantangan Nyepi 

    Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka diperingati dari tahun ke tahun dan memiliki sederet pantangan untuk dilakukan. Dikenal dengan 'Catur Brata' Penyepian terdapat empat pantangan yang harus dilaksanakan, seperti tidak melakukan pekerjaan (amati karya), tidak menyalakan api termasuk memasak (amati geni), tidak bepergian (amati lelungan) dan tidak bersenang-senang (amati lelanguan). Tak hanya sekedar ritual, tapi hal ini juga mengandung manfaat kala diikuti. 

    Dengan tidak melanggar empat pantangan itu, diyakini bahwa seluruh umat terutama Hindu, harus menjaga emosi dalam diri. Menahan hasrat dan keinginan serta mendahulukan keberkatan dari Tuhan dengan mengintropeksi diri agar menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.


    3. Penghematan dan pengurangan karbon dioksida

    Hari Raya Nyepi menjadi salah satu momen untuk menghemat berbagai gaya hidup manusia saat ini. Di antaranya adalah bahan bakar.

    Saat tidak bepergian, kendaraan seperti mobil dan motor tidak beroperasi. Sehingga hal ini menjadi upaya penghematan bahan bakar. Kabarnya peringatan ini bisa menyimpan hingga satu juta liter. Sementara itu, dengan tidak adanya aktivitas, hari ini bisa mengurangi karbon dioksida dan membuat udara menjadi lebih segar.

    (Baca Juga: Fakta Menarik tentang Hari Nyepi di Bali)


    Perubahan Upacara Saat Pandemi Virus Corona


    1. Upacara Melasti

    Sebelum menjalani puncak acara Nyepi, ritual Melasti atau Mekiyis menjadi pendahulu yang dirayakan dengan penuh suka cita dan keakraban antara manusia, alam dan Tuhan. Upacara ini biasanya dilakukan dua hingga empat hari menjelang Nyepi. 

    Sebagaimana upacara, seluruh umat Hindu di Bali berbondong-bondong berjalan menuju laut dan danau untuk mensucikan diri atas perbuatannya selama hidup dan bersiap untuk menjalani kehidupan baru dengan penuh kerahmatan. Beberapanya pula membawa berbagai benda sakral di dalam pura seperti pralingga, pratima, arca dan lainnya yang juga akan disucikan. 

    Ritual ini biasanya tidak dilakukan serentak, melainkan bergantian dengan penduduk desa lainnya. Tujuannya adalah demi kelancaran dan kehikmatan saat menjalani upacara ini. Di tahun ini pula mereka yang melakukannya pun dibatasi hingga 25 orang demi mencegah virus corona.


    2. Pawai Ogoh-Ogoh

    Sehari sebelum perayaan Nyepi, Pawai Ogoh-ogoh menjadi acara yang paling dinanti. Hal ini merupakan bagian dari ritual Buta Yadnya sebagai bentuk penangkalan hadirnya unsur negatif di kehidupan manusia.

    Tradisi ini menarik untuk disaksikan karena dipenuhi oleh seluruh masyarakat yang mengangkat patung atau boneka sebagai lambang keburukan yang kerap mengelilingi manusia. Boneka itu juga dibuat dengan menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan yang dirancang oleh masyarakat Bali. 

    Berbeda dengan upacara Melasti yang dilaksanakan dengan waktu bergantian, khusus untuk pawai Ogoh-Ogoh dilakukan dengan serempak di berbagai wilayahnya. Perayaan ini juga menari perhatian para wisatawan untuk menyaksikan kemeriahannya.

    Namun di tahun ini, pawai Ogoh-Ogoh resmi ditiadakan. Hal ini merupakan perintah dari Gubernur Bali I Wayan Koster karena adanya pandemi virus corona atau Covid-19. Meskipun tak bisa terlaksana pada Hari Raya Nyepi, kabarnya festival hanya diundur sampai waktu yang ditentukan.


    3. Festival Omed-Omedan atau Ngembak Geni

    Festival Omed-Omedan menjadi festival yang paling dinanti oleh seluruh masyarakat di Bali, terutama bagi para anak mudanya yang belum menikah. 

    Acara ini mengajak dua kubu pria dan wanita untuk saling berpelukan erat dan atau berciuman. Sementara kedua kubu akan berusaha memisahkannya dengan menyirami air serta menariknya. 

    Festival ini kerap diperuntukan bagi mereka yang berusia 17-30 tahun yang belum membangun rumah tangga atau menikah. Biasanya acara yang dikenal juga dengan sebutan Ngembak Geni ini diselenggarakan di desa Pakraman Sesetan.

    Namun, festival ini juga jadi bagian acara memeriahkan Hari Raya Nyepi yang ditiadakan akibat wabah virus corona saat ini. Hal ini untuk pencegahan penyebaran Covid-19 dan menjaga kesehatan masyarakat Bali.

    (Baca Juga: 7 Perayaan & Festival Bali Yang Menarik Untuk Diikuti)


    Kegiatan yang bisa dilakukan saat Nyepi

    Meskipun Hari Raya Nyepi menjadi momen sakral untuk tidak melakukan berbagai aktivitas, namun ada hal yang bisa dilakukan kala itu atau setelahnya yang bermanfaat untuk dirimu. Keheningan di hari itu bisa dijadikan waktu yang tepat mengintropeksi diri sekaligus menenangkan jiwa dan raga. 


    1. Meditasi

    Meditasi saat Hari Raya Nyepi kerap jadi kegiatan yang bisa membantu pikiran dan jiwa menjadi lebih tenang. Suasana damai dan tentram kala itu bisa mendukung untuk meditasi berhasil dilakukan. 

    Melakukannya pun tak perlu keluar dari rumah, karena kamu bisa duduk dengan kaki bersila dengan posisi yang nyaman dan memejamkan mata di kamar dan di ruang tamu. Kemudian kamu bisa mulai untuk rileksasi, fokus pada suara sekitar yang menenangkan. Selain itu, manfaat yang didapatkan pun beragam, mulai meningkatkan konsentrasi, menghindari insomnia dan memperlancar peredaran darah.


    2. Intropeksi diri

    Melihat kesunyian bumi dalam satu hari menjadi momen tepat untuk melakukan intropeksi diri. Suasana yang syahdu kerap mendukung untuk kamu mengembalikan ingatan serta perbuatan selama ini. Kemudian, dengan begitu kamu bisa mulai mengintropeksi diri dengan melupakan kesalahan orang lain, kesalahan diri dan siap memulai sesuatu yang baru dengan lebih baik lagi.


    3. Beristirahat

    Dengan empat pantangan dalam Hari Raya Nyepi, peringatan ini bisa jadi waktu tepat untuk mengistirahatkan sejenak raga dan pikiran yang selama ini tak berhenti bekerja.


    4. Melihat alam yang indah

    Tidak adanya aktivitas di Hari Raya Nyepi, seperti berkendara dan lainnya, buat alam dan cuaca menjadi bersih dan segar di esok harinya. Hal ini bisa kamu manfaatkan untuk melihat keindahan alam Bali mulai dari pantai dan langit biru cerah. Bahkan di malam hari taburan bintang juga terasa lebih nyata dan mudah terlihat oleh mata.

    Namun dengan adanya pandemi virus corona, pastikan untuk menghindari keramaian dengan melakukan social distancing dan selalu menjaga kebersihan di mana pun kamu berada.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below