Tebaran Puisi di Panggung 'Cinta Tak Pernah Sederhana'


  • Tebaran Puisi di Panggung 'Cinta Tak Pernah Sederhana'
    Reza Rahadian dan Marsha Timothy sebagai Adam dan Hawa dalam pertunjukan 'Cinta tak Pernah Sederhana'. (Foto: Dok/TitimangsaFoundation)


    Apa jadinya jika puisi-puisi cinta para penyair ternama Indonesia diangkat ke atas panggung? Inilah yang diusung konser musikal puisi 'Cinta tak Pernah Sederhana' yang dipentaskan pada akhir pekan lalu di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. 

    Puisi-puisi cinta dari 26 penyair dirangkai menjadi satu keutuhan cerita lewat karakter Adam, Hawa, Malaikat, Perempuan malam, Laki-laki penyair dan Perempuan rahasia. Setiap karakter berdialog dengan untaian kata-kata cinta. 



    Agus Noor, sebagai penulis dan sutradara mencoba menghadirkan konsep pertunjukan yang tak biasa dan penuh resiko. Puisi-puisi cinta bergema dan hadir dalam konteks yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya.

    (Baca juga: Ulasan Seni: Bawilamus, Bumi Pertiwi Tanah Dayak) 

    Konser dibuka dengan hadirnya Malaikat (diperankan Chelsea Islan) sebagai narator. Tarian dan musik menghentak serta panggung gemerlap yang diset sedemikian rupa menjadi tampak hidup dan megah. Sebuah opening yang menjanjikan untuk kemudian menyambung ke alur cerita. 


    (Maya Hasan dan Chelsea Islan dalam panggung Cinta tak Pernah Sederhana. Foto: Dok/TitimangsaFoundation) 


    Diceritakan Adam (Reza Rahadian) manusia pertama yang diyakini juga penyair pertama di surga. Lalu ia bertemu Hawa (Marsha Timothy) dan mengenal cinta. Adam dan Hawa adalah sepasang kekasih pertama di surga dan mereka ingin mencintai dengan sederhana, tapi cinta tak pernah sederhana. 

    'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada./

    Untaian kata Hawa disambut Adam dengan mesra. Ada cinta di mata mereka. Puisi yang kemudian dibalas dengan nyanyian rindu yang sama menusuknya. 

    Sementara di dunia, Laki-laki penyair (Teuku Rifnu Wikana) mencintai seorang Perempuan malam (Atiqah Hasiholan) dengan sepenuh hati tapi ragu. 


    (Atiqah Hasiholan dalam pentas Cinta tak Pernah Sederhana. Foto: Dok/TitimangsaFoundation) 


    "Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!" teriaknya. Tapi cinta mereka juga tak pernah sederhana. Perempuan malam ditangkap karena dituduh berdosa dan meninggal dunia. 

    Perempuan rahasia (Sita Nursanti) hadir menyampaikan untaian kata-kata cinta dan kesadaran akan makna cinta itu sendiri. Bahwa kadang cinta memang tak pernah sederhana. 

    (Baca juga: Pentas Unik Penuh Tawa di Musikal 'Into the Woods')

    Ditulis dan disutradarai Agus Noor, konser musikal puisi 'Cinta tak Pernah Sederhana' merangkum untaian kata cinta dari penyair ternama Indonesia. Banyak kutipan yang terdengar familiar di telinga. Sebut saja di antaranya puisi Sapardi Djoko Damono dengan 'Hujan bulan Juni', atau puisi-puisi ironis Joko Pinurbo lewat 'Dunia Dangdut'. 

    Selain mereka, dalam catatan produksinya Agus mengungkapkan ada sekitar 26 penyair ternama Indonesia yang puisinya dirangkai jadi satu di atas panggung. Lainnya, ada WS Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohammad, Sutardji Calzoum Bachry, Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, Abdul Hadi WM, Toety Heraty, Emha Ainun Nadjib, Taufik Ismail, M. Aan Mansyur, Gunawan Maryanto, Acep Zamzam Noor, Warih Wisatsana, Hasan Aspahani, Avianti Armand, Ahda Imran, Cecep Syamsul Hari, Nenden Lilis A, Ags Arya Dipayana, Mutia Sukma, Iswadi Pratama dan Putu Wijaya. 

    "Sebagai pertunjukan, saya membayangkan ada alur dramatik, ada perhitungan dramaturgi, yang membuat puisi-puisi itu bisa menjadi kesatuan alur dan kisah," ungkapnya. 

    Mengangkat rangkaian puisi cinta para penyair ke atas panggung ini tak lepas dari gagasan Happy Salma sebagai produser. Menurutnya, ia terinspirasi dari ketakjuban akan lirik lagu Karma yang dibawakan Dewa Budjana. Bukan hanya takjub karena aransemen dan gitarnya, tapi juga pada lirik yang ditulis Putu WIjaya. Ia membayangkan suatu kemungkinan pentas puisi cinta yang berbeda dengan pembacaan puisi atau deklamasi. 

    Hasilnya adalah konser musikal yang memiliki satu kisah. Reza dan Marsha bisa jadi Adam dan Hawa yang membuat semua pasangan iri saat mereka berduaan, berpelukan dan atau berciuman di atas panggung. Sementara, Rifnu dan Atiqah membuat hentakan dan kejutan saat mereka tampil sebagai pasangan laki-laki penyair dan Perempuan malam. Ada musik dangdut yang menghentak, serta sentilan relijius yang menggelitik karena suara azan subuh. Keduanya lalu asik memadu kasih di dalam kamar dan dilabeli 'dosa'.


    (Reza Rahadian di panggung Cinta tak Pernah Sederhana. Foto: Dok/TitimangsaFoundation) 


    Makna cinta memang digali lebih dalam oleh Agus Noor. Bukan lagi soal cinta pada pasangan, tapi lebih dari itu, juga soal cinta pada sang pencipta. Ada muatan perjalanan spiritual di penghujung cerita. 

    Namun, seperti yang disampaikannya, bahwa pentas ini penuh resiko. Tak mudah memang menghadirkan cerita lewat puisi-puisi cinta dalam rangkaian satu kisah yang utuh dan menarik untuk disimak. 

    Meski, di luar itu, konser ini menghadirkan aksi para pemeran yang membawakan adegannya dengan sangat baik. Aksi Reza menyanyikan lagu cinta, serta hentakan tarian Atiqah adalah beberapa adegan yang bakal menempel di ingatan. 

    Selain gumaman akan untaian kata dari bait 'Hujan Bulan Juni', alunan kata cinta dan maknanya menjadi bahan renungan saat beranjak pulang. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below