Pentas Unik Penuh Tawa di Musikal 'Into the Woods'


  • Pentas Unik Penuh Tawa di Musikal 'Into the Woods'
    Kelompok teater TEMAN mengusung pertunjukan ternama Broadway 'Into the Woods' yang memukau di Salihara, Jakarta. (Foto: Dok/TEMAN)


    Menjadi pertunjukan teater ternama di Broadway sejak 1980-an, pernah difilmkan juga dengan bintang Meryl Streep, drama musikal 'Into the Woods' dari karya Stephen Sondheim dan buku James Lapine tak pelak menjanjikan sebagai sebuah seni pertunjukan.

    Ini juga yang mendasari kelompok Teater Musikal Nusantara (TEMAN) mengusungnya ke panggung Salihara, Jakarta beberapa waktu lalu. Kisah yang berkelindan antara The Witch and the Baker, Cinderella, 'Little Red Riding Hood', 'Rapunzel' dan 'Jack and the Beanstalks' itu hadir diiringi musik live dari orkestra. 



    Menariknya, mereka menambahkan sentuhan tradisi Indonesia, lewat kostum dari bahan tenun, atau seni budaya khas Indonesia yang sesekali muncul di sepanjang pertunjukan. Terdiri dari dua babak cerita, musikal 'Into the Woods' tampil mengesankan dengan totalitas para pemain, kreativitas dan kekompakan yang asik. Menghibur sekaligus mengundang tawa. 

    (Baca juga: Ulasan Seni: Pertunjukan Musikal Mamma Mia!)

    Tetap memertahankan narasi dan lirik dalam bahasa Inggris, para pemain muncul dengan nyanyian 'Into the Woods' yang populer di bagian pembuka. Sebelum kemudian, the Witch (diperankan dengan meyakinkan oleh Lea Simanjuntak) menggangu ketenangan si Pembuat roti (Sugie Phua) dan istrinya (Frances Lee) yang jika inginkan anak mesti mengumpulkan empat 'persembahan', yakni berupa sapi putih, sepatu emas, tudung merah, dan rambut keemasan. 

    (Musikal Into the Woods. Foto: Dok/TEMAN)


    Semua syarat lalu mengacu pada empat karakter, yakni Jack (Jeremiah Purwoto) dari Jack and the Beanstalk yang memboyong sapi putih untuk dijual di pasar. Cinderella (Andrea Miranda) yang mengenakan sepatu emas sebelum dipinang sang Pangeran. Red Riding Little Hood bertudung merah (Claris Tan) yang mencari makanan dan menghindari serigala jahat. Lalu, Rapunzel (Claudya Christina) yang berada di atas menara dengan rambut keemasannya yang panjang. 

    Satu persatu adegan muncul bergantian dengan nyanyian serta tarian yang diset sedemikian rupa. Di luar empat karakter tersebut, pembuat roti dan istrinya, serta sang penyihir, ada pangeran dan saudaranya serta ibu Jack yang tak kalah mencuri perhatian. Masing-masing tampil dengan maksimal. 

    Yang menarik justru saat beberapa pemeran tampil solo. Menunjukkan kebolehannya menyanyikan lagu yang sesuai karakter mereka, dan diiringi dengan tepuk tangan meriah kala mereka usai beraksi. Semua mendapat tempat dan juga tawa. 

    Jika di babak pertama, semua karakter menggapai impiannya, di babak kedua semua dihadapkan pada pilihan hidup yang berbeda. Cinderella mesti menghadapi pangeran yang selingkuh, penyihir kehilangan kekuatannya, sementara istri raksasa di mana Jack mendapatkan kekayaan menuntut balas 

    Pentas musikal 

    Dari balik layar, drama musikal 'Into the Woods' digarap Chriskevin Adefrid (Indonesia) dengan arahan Director Benjamin Chow (Singapore), Artistic Director Venytha Yoshiantini (Indonesia), dan Music Director Ivan Tangkulung (Indonesia). Chriskevin sendiri mengungkapkan arahan artistik dari Into The Woods membungkus elemen - elemen budaya asing dengan budaya Indonesia.

    "Jadi ini menjadi sesuatu yang sangat fresh; Sebuah pertunjukan teater musikal dengan lisensi resmi, namun dengan arahan artistik yang kolaboratif," ujarnya, selaku produser dari Into The Woods. 

    (Pentas Into the Woods. Foto: Dok/TEMAN)


    Dalam catatan produksinya, pementasan 'Into The Woods' merupakan produksi pertama kelompok teater TEMAN, yang juga menjadi debut kolaborasi karya anak muda tanah air dan internasional. Memegang lisensi dari Music Theatre International (MTI) dan dukungan penuh dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Badan Ekonomi Kreatif, pertunjukan ini menggabungkan banyak seniman bertalenta, dari Indonesia dan juga Singapura.

    Karakter-karakter dalam cerita Into The Woods jika ditilik lebih jauh sebenarnya memiliki kemiripan dengan tokoh-tokoh cerita rakyat Indonesia, sehingga menjadi berasa 'dekat' dan mudah dipahami. 

    Secara keseluruhan, pentas Into the Woods tampak berupaya memadukan seni dan budaya tradisional Indonesia dengan salah satu karya teater musikal paling sukses di dunia, baik secara komersil maupun artistik. Dan pertunjukan itu berhasil berkat para pemeran, musisi dan juga kreativitas di baliknya. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below