Ulasan Seni: 'Bawi Lamus: Bumi Pertiwi, Tanah Dayak'


  • Ulasan Seni: 'Bawi Lamus: Bumi Pertiwi, Tanah Dayak'
    Pertunjukan 'Bawi Lamus' mengangkat seni dan budaya suku Dayak Ngaju dengan asik dan mengesankan. (Foto: DiniFelicitas/herworldIndonesia)


    "Bisakah kau dengar jeritan alam? /Seolah tak ada rasa hanya bising /

    Bumi yang dipijak tak lagi dihiraukan /Akankah usai? /



    Wahai manusia tahukah engkau akan asalmu? /Sewajarnya hidupmu berdampingan /

    Berbeda atau sama /Tanah yang ada di kakimu, sama /Langit yang akan kembali biru, sama /Ooh… oh, oh, oh…."

    Lirik lagu 'Alam' yang diciptakan Erwin Gutawa dan Ria Leimena membuka pertunjukan 'Bawi Lamus'. Lagu yang terdengar melodius tersebut dilantunkan Sophia Latjuba yang semula hanya duduk bersimpuh di atas panggung kecil. Sambil menyanyi dengan suara khasnya, ia meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama.

    Sophia adalah Bawi Lamus, perempuan cantik dan perkasa dalam Bahasa Dayak. Namun Bawi Lamus juga menggambarkan Ibu Pertiwi, tanah di mana Suku Dayak Ngaju berdiri. Menjaga tradisi  dan budayanya, menyatu dengan keindahan alamnya, serta menjunjung tinggi leluhurnya.

    (Baca juga: Ulasan Seni: Pertunjukan Musikal Mamma Mia!)

    Seorang bocah laki-laki dalam busana khas Suku Dayak Ngaju memasuki panggung sambil menggerakkan tarian kegelisahan akan kondisi alam. Pohon-pohon di hutan bertumbangan oleh karena penebangan liar, penambangan emas dan batubara, serta pembukaan besar-besaran perkebunan kelapa sawit.  Tanah Dayak yang subur digambarkan hanya menyisakan sebatang pohon, sementara satwa huniannya berlarian ke perkampungan karena kehilangan tempat tinggal.

    Itulah 'Alam', segmen pertama dari Bawi Lamus: Bumi Pertiwi, Tanah Dayak. Dikemas sebagai pertunjukan musik dan tari, Bawi Lamus menjadi suatu narasi tentang keindahan alam dan cita-cita masyarakat di Desa Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah. Khususnya, Suku Dayak Ngaju yang merupakan salah satu dari 400-an sub-etnis Suku Dayak di provinsi tersebut. Tak terbayang betapa kaya nilai sejarah dan budaya yang ada di balik pementasan yang digarap oleh Jay Subyakto sebagai penata artistik ini.

    Maka dalam setiap perpindahan segmen, layar menampilkan tata multimedia yang memaparkan kisah dan fakta-fakta sejarah yang ingin disampaikan. Terkadang paparan ini terlalu cepat beralih, membuat penonton tak sempat menuntaskan keingintahuannya. Namun sebenarnya, hal itu tak terlalu mengganggu keinginan untuk memahami pementasan ini secara penuh.

    Pada segmen kedua, 'Manusia', dikisahkan asal mula manusia seperti dipaparkan dalam Kitab Kaharingan. Kaharingan menjadi semacam agama leluhur masyarakat Suku Dayak, yang keberadaannya diyakini sudah ada sebelum enam agama resmi di Indonesia hadir. Kitab suci mereka, disebut Panaturan, berisi karya penciptaan Ranying Hatalla (Tuhan Yang Maha Kuasa) dan asal mula manusia, serta panduan upacara-upacara adat.


    (Pertunjukan Bawi Lamus. Foto: DiniFelicitas/herworldIndonesia)


    Adegan ini menampilkan harmoni tiga tarian: Tari Lawang Sekepeng, Tari Bahalai, Tari Wurung Jue, serta Upacara Tampung Tawar. Keempatnya menggambarkan rangkaian perayaan perkawinan Suku Dayak Maanyan. Ritual penyembuhan dalam Suku Dayak juga dihadirkan lewat tarian, seperti Tari Wadian Bawo dan Tari Gelang Dadas. Para penari yang didatangkan langsung dari Palangkaraya menunjukkan bagaimana dalam tarian ini masyarakat mengundang mahluk-mahluk surga memberi kesembuhan.

    Adegan tak kalah penting dalam sejarah Suku Dayak adalah peristiwa sejarah di Tumbang Anoi pada 1894. Inilah kisah epik bersatunya sub-sub etnis Suku Dayak yang semula berpencar di seluruh pulau. Pertikaian antarsesama Suku Dayak yang berakhir dengan kesepakatan damai ini diperlihatkan pada segmen ketiga, Sejarah.

    Perdamaian di Tumbang Anoi membawa harapan pada Masa Depan. Dewa-dewa yang jadi penentu masa depan muncul di segmen terakhir pementasan ini. Mereka lah penguasa matahari, bulan, dan waktu, selain juga sosok pemberi harapan yang disimbolisasi sebagai Burung Tingang.

    Nuansa magis

    Bawi Lamus menjadi pertunjukan yang memuaskan mata dan telinga penonton. Gerak tari yang dinamis ditimpali dengan suara-suara teriakan para penari pria-nya, menambah nuansa magis dari adegan-adegannya. Tarian-tarian khas Dayak ini dibuat lebih modern oleh koreografer Edhi Agus Wiluyo dan Siko Setyanto. Harapannya, agar lebih dapat diterima oleh penonton generasi milenial.


    (Pertunjukan Bawi Lamus. Foto: DiniFelicitas/herworldIndonesia)


    Pementasan diperkuat penampilan live orchestra dari EG Orchestra pimpinan Erwin Gutawa. Tentunya menjadi kesempatan langka menyaksikan dua bentuk pertunjukan yang berbeda dalam satu panggung. Lea Simanjuntak yang membawakan beberapa lagu dalam show yang dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 13-14 Oktober lalu ini juga tampil prima.

    Bagian penting lainnya dari Bawi Lamus tak lain atribut yang dikenakan para pemain. Selain kostum yang dipersiapkan Paquita Widjaja Rustandi, hairpiece dibuat desainer Rinaldy A. Yunardi, serta desain tato oleh Aman Durga Sipatiti, yang menekuni seni merajah tubuh tradisional.

    Sayang sekali, pertunjukan yang digagas oleh Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang dan disutradarai Inet Leimena ini hanya berlangsung dua hari. Padahal, Bawi Lamus menjadi momen yang tepat untuk mengenal seni dan budaya Suku Dayak Ngaju, yang belum pernah terekspos sebelumnya. Bawi Lamus menjadi suara masyarakat “suku dari hulu” ini agar generasi muda turut melestarikan lingkungan dan tradisinya.

    "Iyuh, iyuh apang /iyuh, iyuh Indang /iyuh kare tundah jalahang /ela kalapea tatu hiyang.

    Ya, ya, ayahanda /ya, ya, ibunda /ya, kalian sanak keluarga /wasiat leluhur jangan lupa…."