5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bunuh Diri


  • 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bunuh Diri
    5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bunuh Diri

    Pekan lalu, dunia dikejutkan dengan kematian desainer ternama, Kate Spade, dan salah seorang host program food and travel, Anthony Bourdain, dengan motif yang sama yaitu bunuh diri. Jika ditarik ke belakang tentu hal ini tidak baru saja marak, melainkan sejak puluhan tahun yang lalu.  Mulai dari Marilyn Monroe, Alexander McQueen, Kurt Cobain, hingga Adolf Hitler.


    Di awal tahun ini saja misalnya. Aksi bunuh diri DJ kenamaan Avicii jadi sorotan publik lantaran dirinya sedang berada di puncak ketenaran. Lalu di tahun 2017 silam, dunia seakan dihancurkan hatinya oleh kepergian penyanyi favorit mereka yaitu Chester Bennington (vokalis grup band Linkin Park) setelah Chris Cornell (vokalis grup band Soundagarden & Audioslave) ditemukan tewas dua bulan sebelumnya. Bahkan  di tahun 2014, aktor kawakan Robin Williams juga memutuskan untuk gantung diri hingga wafat. 




    Publik pun bertanya-tanya, alasan apa yang mendasari mereka melakukan itu disaat nampaknya semua hal berhasil diperoleh. Harta benda serta ketenaran yang jadi mimpi banyak orang bak tak ada artinya ketika ternyata sesungguhnya jauh di lubuk jiwa, mereka adalah pribadi-pribadi tak bahagia. Bahwa pencapaian yang sukses digapai tak kemudian bisa mengobati sesuatu yang kemudian disebut 'mental illness'.




    Di sini, ada lima hal mengenai bunuh diri yang layak Anda ketahui.


    Pertama, pahami segala sesuatu tentang penyakit mental

    Di sini, penyakit mental tak berarti 'gila'. Melainkan lebih pada kondisi kejiwaan tak tenang seperti stress yang menjurus pada depresi. Menurut American Psychological Situation, kebanyakan bunuh diri adalah hasil akhir dari batin yang terganggu secara kronis dan tiap tahun, usia pelakunya kian belia yaitu antara 15 hingga 24 tahun. Artinya, faktor lingkungan juga punya andil dalam membuatnya kian marak, khususnya lingkungan sosial dan media sosial.


    (Baca juga: 9 Tanda Fisik dari Gangguan Kesehatan Mental)


    Kedua, mereka butuh teman

    Dalam masa-masa penuh tekanan, salah satu situasi paling mudah untuk seseorang mengakhiri hidupnya adalah: KESEPIAN. Loneliness is real dan ini adalah momen di mana penderita mental illness mulai merasa tak punya siapa-siapa dan hidupnya tak lagi bermakna. Meski kelihatannya mereka dilingkari oleh banyak orang yang peduli, namun jauh di lubuk hati, mereka hanya butuh satu atau dua orang saja yang betul-betul memahami hidupnya.


    Seringkali mereka gagal di sini. Dalam menemukan penyelamat hati. Jangankan membagi sedikit keluh kesahnya, bersandar sejenak saja mereka tak bisa. Kadang, mereka hanya butuh teman untuk mengeluarkan emosi. Menangis, marah, atau menceritakan semua yang mereka mau. Biarkan. Karena memang itu yang sedang mereka butuhkan. Jangan pernah memberi judge 'cengeng', 'drama', 'lebay', 'manja', dan sejenisnya karena justru itu akan semakin membuat mereka merasa kesepian dan tidak ada yang mau mengerti. Keinginan bunuh diri pun akan semakin kuat.




    Ketiga, mereka tak dapat pertolongan

    Pengidap penyakit mental SANGAT butuh pertolongan. Di Amerika dan beberapa negara lainnya, telah disediakan nomor telepon khusus untuk mencegah aksi bunuh diri. Psikolog, psikiater, dan ragam terapi sudah selalu ditawarkan untuk menurunkan angka bunuh diri tiap tahunnya namun jumlahnya malah makin meningkat. Mengapa? Karena penderita biasanya malu dan menolak untuk melabeli dirinya sendiri sebagai pengidap penyakit mental. Ini yang mengkhawatirkan. Sebab artinya, pertolongan paling sederhana dan ampuh adalah dari orang-orang terdekat. Keluarga, sahabat, atau pasangan. Oleh sebab itu, be aware. Jangan sampai hal ini terjadi pada orang-orang  terdekat Anda. Mulailah peduli dan jangan acuh.


    Keempat, mereka merasa terinspirasi

    Dengan adanya pemberitaan terus-menerus tentang wafatnya seorang public figure akibat bunuh diri, banyak orang kemudian jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Pernyataan ini didapat dari sebuah berita mengenai mental health di sebuah channel Youtube sesaat setelah Kate Spade ditemukan tewas di apartemennya dengan lilitan scarf pada handle pintu. Menurut berita tersebut, informasi repetitif yang dikuatkan oleh pengulangan tragedi oleh begitu banyak orang, akan menguatkan tekad orang lain untuk melakukan hal yang sama karena dianggap sebagai penyelesaian masalah secara cepat dalam kondisi pikiran kalut dan terlampau lelah. 


    (Baca juga: 9 Makanan yang Dapat Bikin 'Mood' Lebih Baik)


    Kelima, kenali penyakit-penyakit tertentu

    Dalam ilmu kesehatan jiwa, ada beberapa penyakit yang harus diwaspadai karena sangat terkait pada aksi bunuh diri, yaitu:

    1. Bipolar

    2. Depresi berat

    3. Anoreksia Nervosa

    4. Borderline Personality Disorder (BPD), dan

    5. Skizofrenia


    Lima penyakit kejiwaan di atas amat mudah lead to suicide. Oleh sebab itu, kenali tanda-tandanya dan perhatikan orang-orang terdekat atau bahkan diri Anda sendiri. Kate Spade sendiri diketahui memiliki penyakit bipolar cukup parah. Ketika ia digugat cerai oleh sang suami setelah berjuang mempertahankan rumahtangganya, ia merasa limbung dan luar biasa depresi hingga batinnya diras tak bisa memberi toleransi lagi,


    Ada pun situasi lain di luar penyakit kejiwaan yang juga bisa membuat orang ingin mengakhiri hidup mereka. Seperti misalnya korban bullying, pemilik hutang piutang, seseorang dengan orientasi seksual tertentu (LGBT), sampai mereka yang merasa memiliki aib atau gagal mencapai sesuatu.


    So, belajar dari apa yang terjadi pada Kate Spade, Anthony Bourdain, Avicii, dan semua yang pergi akibat bunuh diri, ada baiknya kita mulai peduli dengan kesehatan mental diri sendiri dan juga sesama. Supaya bisa saling tolong dan supaya juga bisa membenahi diri. Sebab biar bagaimanapun, tentu saja bunuh diri bukan jawaban dan bukan pula akhir dari sebuah permasalahan. Just remember, bahagia itu mewah dan mahal. Indeed!




    Mengatasi hal ini, Anda bisa menghubungi hotline 119 yang telah dibuka sejak tahun 2016 lalu oleh Kemenkes RI untuk melakukan konseling masalah kejiwaan dan juga mencegah terjadinya bunuh diri. Sebab tak hanya di Jepang, Korea, dan dunia Barat, tren ini juga kian ramai di Indonesia. Negara pun akhirnya turun tangan. 




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below