Food & travel

Hangatnya Santap Keluarga Jadi Inspirasi Noesaka

By : Vanessa Masli - 2023-08-19 12:00:02 Hangatnya Santap Keluarga Jadi Inspirasi Noesaka

Bulan Agustus menjadi bulan yang identik dengan perayaan bagi masyarakat Indonesia, dari ujung Barat sampai Timur. Segala keragaman, mulai dari hayati hingga budaya, semua aspek tentang Indonesia menjadi highlight bagi setiap warga negaranya, apalagi setiap tanggal 17 Agustus ketika Tanah Air resmi memproklamasikan kemerdekaannya.


Banyak keragaman alam, budaya, dan tradisi yang menghadirkan berbagai menu makanan khas dari setiap daerah di Indonesia, plus sudah pasti dinikmati oleh setiap lidah warga Indonesia. Mulai dari kudapan ringan hingga makanan penutup, kuliner khas Indonesia tak pernah gagal menggugah rasa dan menghadirkan nostalgia.


Kali ini, Her World ingin mengeksplorasi citarasa Tanah Air yang berhasil bikin kangen suasana kumpul keluarga dalam balutan sajian yang lebih modern. Di pusat kota Jakarta, kami menikmati citarasa otentik makanan Indonesia yang mengambil inspirasi kehangatan santap bersama keluarga.


Tak disangka kehangatan tersebut kami dapatkan di salah satu tempat hangout yang tengah diminati masyarakat ibukota, One Satrio, yang berlokasi di Kuningan, Jakarta. Memang banyak tenant yang tawarkan berbagai macam makanan, tapi restoran Noesaka menjadi tujuan kami kali ini.


Ragam rasa Nusantara yang otentik


Resmi dibuka pada Desember 2022 silam, Noesaka menjadi salah satu brand restoran terbaru dari Artisan Kuliner Group. Bahasa Sansekerta yang menjadi inspirasi nama restoran ini; ‘Nusa’ yang berarti pulau dan ‘Saka’ yang berarti landasan kuat, cukup menggambarkan citarasa otentik dari daerah-daerah di Indonesia yang berusaha disajikan di Noesaka.


Mulai dari camilan-camilan tradisional yang disajikan dengan tampilan modern hingga makanan utama yang dipastikan membuat setiap pengunjung siap menyantap, Noesaka pastikan tak hanya rasanya yang otentik, tapi juga hadirkan rasa nostalgia, seolah-olah sedang menyantapnya bersama orang-orang tersayang dari cara penyajiannya. Setidaknya, itu yang kami rasakan dalam setiap makanannya.


Rasa yang tak berlebih, tapi bikin nagih



(Terong Teri Kacang Balado. Foto: Dok. Insan Obi/Her World Indonesia)


Perjalanan citarasa Nusantara kami bersama Noesaka dibuka dengan beberapa makanan ringan. Tahu Pong Petis, camilan khas Jawa Timur yang mungkin tak lagi asing di telinga. Tahu yang digoreng hingga renyah dan disajikan dengan bumbu petis hadirkan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas.


Namun, lidah kami dibikin ketagihan dengan dua hidangan pembuka dari restoran ini. Dimulai dengan Terong Teri Kacang Balado kreasi Noesaka. Potongan terong yang digoreng tepung, lalu dicampurkan dengan saus teri kacang balado berlimpah. Tekstur terong yang tak terlalu lembek ditambahkan dengan tekstur kriuk dari ikan teri dan kacang. Plus, citarasa manis, gurih, dan pedas yang berhasil bikin kami terus nambah.



(Tempe Goreng Sambel Tempe. Foto: Dok. Insan Obi/Her World Indonesia)


Lalu, Tempe Goreng Sambal Tempe. Yep, tak aneh mendengar namanya karena setiap elemennya memang memanfaatkan fermentasi kacang kedelai yang jadi favorit banyak orang Indonesia. Camilan khas Tegal yang menginspirasi potongan tipis tempe, dibalur tepung yang kaya rasa sebelum digoreng kering. Penyajiannya pun ditata cantik dengan sambal tempe yang hadirkan citarasa pedas dan gurih, sudah pasti membuat kami kembali potongan (atau porsi kedua).


(Baca Juga: Unik tapi Enak! Ini 5 Bakmi Khas Setiap Daerah di Indonesia)


Rasa dan sajiannya bikin nostalgia


Kehangatan santap bersama keluarga saat perayaan istimewa atau semangat berbagi yang menjadi salah satu elemen penting masyarakat Indonesia setiap kali berkumpul bersama orang-orang tersayang menjadi inspirasi dari setiap makanan yang disajikan, memenuhi meja kami.


“Memang biasa kami sajikan dalam bentuk family set,” ungkap head chef dari Noesaka, Wko Wahyono Nugroho. Kalau bicara tentang porsi penyajian, Noesaka bisa menyajikan makanan-makanan yang tak hanya menyenangkan mata dan lidah, tapi memastikan perut kenyang.


Mulai dari Sate Ayam Campur dengan menyajikan potongan-potongan sate ayam yang dibalur bumbu khas dari berbagai daerah. Mulai dari Sate Ayam Khas Madura, Sate Ayam Bumbu Rujak, hingga Sate Kulit Ayam, banyak rasa yang bisa dinikmati dalam satu penyajian.


Lalu, Soto Tangkar khas Betawi yang disajikan dengan dua potong sate tangkar menjadi salah satu highlight pengalaman kami bersantap di Noesaka. Potongan daging sapi yang empuk, kentang, dan tomat yang diredam kuah susu kaya rempah. They didn’t go subtle on the taste karena kuah susunya berhasil mengundang kami untuk kembali mengambil setiap potongan daging dan sayuran di dalamnya, tanpa lupa dinikmati dengan kuahnya.


Keseruan set santapan keluarga dari Noesaka tak berhenti di situ. Sebuah nampan besar menjadi pemeran utama dalam rangkaian eksplorasi rasa kali ini, Kambing Guling yang disajikan lengkap dengan Asinan Sayur Betawi, Sambal Kacang, dan Sambal Matah. Kuliner khas Jakarta yang memarinasi kaki kambing dengan rempah-rempah khas Indonesia lalu dibakar hingga kecokelatan. Manis dan gurih jadi rasa yang dominan, tapi kaki kambing yang empuk dan tak bau juga membuat makanan satu ini semakin nikmat.



(Soto Tangkar hingga Kambing Guling, lengkap untuk disantap bersama. Foto: Dok. Insan Obi/Her World Indonesia)


Namun, ada dua menu makanan yang terdengar asing di telinga tapi merupakan menu khas dari Indonesia. Mulai dari menu bernama Jangan Lombok yang sekilas mirip sayur lodeh, tapi makanan khas Wonosari ini mencampurkan potongan cabe, bawang putih, bawang merah, cabai merah dan hijau, tempe, tahu, kentang, dan daging kisi sengkel dalam kuah santan. Saat disantap selagi hangat, menu satu ini hadirkan sensasi gurih dari santan dan pedas yang nendang dari potongan-potongan cabai di dalamnya.


Lalu, kedua adalah Trancam khas Tulung Agung yang bisa menjadi opsi sayuran segar atau palate cleanser di tengah menu-menu kaya rempah. Campuran daun kenikir, kacang panjang, tauge pendek, daun kemangi, dan mentimun berikan kesegaran yang disempurnakan dengan sambal kencur kelapa. Dua menu ini berhasil memperkenalkan dirinya dengan baik saat kami menyantapnya.


Penutup manis yang pas di lidah



(Pisang Goreng Serabut dan Jongkong Jawa dengan Es Krim Kopi bisa jadi pilihan. Foto: Dok. Sulthan Rafi W/Her World Indonesia)


Perut kami memang sudah kenyang, tapi selalu ada ruang untuk hidangan penutup. Sepakat? Kalau tak sepakat, mungkin mencoba dua menu penutup ini bisa jadi pengecualian. Dimulai dengan empat gulungan berserabut yang membuat kami bertanya-tanya. Risol bukan, lumpia bukan, tapi ternyata pisang goreng.


Pisang Goreng Serabut adalah salah satu menu penutup sekaligus camilan manis yang bisa jadi opsi saat bersantap di Noesaka. Potongan pisang yang dipilih memiliki citarasa manis dan sedikit asam sehingga cocok dipadukan dengan saus karamel serta es krim vanila sebagai pendamping. Kami menyantapnya selagi hangat dan dicelupkan sedikit ke es krim vanila yang dingin, kombinasi yang tak pernah gagal.


Namun, makanan manis tradisional Jawa yaitu jongkong dan dipadukan dengan es krim kopi berhasil meninggalkan kesan bagi kami. Rasa jongkong yang manis diseimbangkan dengan rasa es krim kopi yang cenderung pahit. Lalu, tekstur jongkong yang lembut dipadukan dengan tekstur dari berbagai topping, mulai dari pacar cina, buah nangka, hingga kukis vanila. Sebuah “pesta” berhasil memuaskan lidah kami.


Minuman tradisional dijaga kesegarannya


Tentu kami tak mungkin menyantap semua menu tanpa ada yang melepaskan dahaga. Beberapa pilihan menu disajikan oleh Noesaka, minuman tradisional yang hadir dengan tampilan lebih segar untuk dinikmati.



(Beberapa minuman kreasi Noesaka yang cocok untuk melepas dahaga. Foto: Dok. Insan Obi/Her World Indonesia)


Mulai dari Kunyit Manisan yang padukan kunyit, jus lemon, jus jeruk nipis, gula aren, dan cabe sehingga hadirkan rasa asam, manis, serta sedikit pedas di pangkal lidah. Lalu, Tamarind Pala yang hadirkan kesegaran dari perpaduan asam Jawa dan manisan pala.


Lalu, Es Laksamana Mengamuk yang tawarkan kesegaran buah mangga dari Indramayu dipadukan dengan gurihnya santan dan kelapa muda. Kemudian untuk sedikit sensasi soda, Mango Soda Gembira bisa jadi opsi dengan menjadikan mangga sebagai komponen utama dalam setiap elemennya.



(Wedang Uwuh yang hangatnya beri kesan. Foto: Dok. Insan Obi/Her World Indonesia)


(Baca Juga: Marriot Bonvoy Sambut HUT RI ke-78 Dengan Kuliner Indonesia)


Namun, ada satu minuman tradisional yang mungkin dekat dengan sebagian masyarakat Indonesia, tapi Noesaka berhasil sajikan dengan lebih istimewa yaitu Wedang Uwuh. Tak berubah namanya, tak berubah rasanya, tapi presentasinya jauh lebih menggugah. Minuman tradisional khas Yogyakarta ini yang didominasi aroma kayu manis dan adas menjadi penutup manis eksplorasi rasa dan nostalgia kami bersama Noesaka.



Food & travel