Mengenal Hustle Culture Dan Bahaya Kerja Tanpa Batas


  • Mengenal Hustle Culture Dan Bahaya Kerja Tanpa Batas
    Hustle culture. (Foto: Dok. Andrea Piacquadio/Pexels)

    Ketika dunia terkoneksi berkat internet, kamu dan sebagian besar orang dituntut untuk melakukan segala sesuatu lebih cepat. Mengetahui informasi lebih cepat, berkompetisi akan siapa yang membagikan berita terhangat paling cepat di group chat masing-masing, termasuk menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam waktu yang singkat.


    Bagi sebagian orang yang menjadikan karier dan pekerjaannya sebagai prioritas, tentu istilah workaholic tak lagi asing. Mungkin disematkan pada kamu yang hampir tak henti bekerja maupun sebutan bagi rekanmu yang juga punya kecenderungan lakukan hal serupa. Rasanya sebutan workaholic paling menggambarkan seseorang yang bekerja terus menerus tanpa kenal waktu.




    Rupanya, masa pandemi menghadirkan fenomena baru dalam kehidupan banyak orang, dengan pola kerja yang tiba-tiba virtual. Batas-batas yang kian bias, koneksi internet yang semakin jadi prioritas, serta kebutuhan sehari-hari yang tetap harus dipenuhi terlepas dari pemasukan yang menipis, fenomena hustle atau hustle culture pun muncul dan jadi bagian dalam cara banyak orang membangun karier.


    (Baca Juga: Inspirasi Outfit Interview Kerja Wanita Ini Bisa Kamu Coba)


    Mengenal Hustle Culture


    Pada dasarnya, hustle culture adalah fenomena ketika kamu terus menerus bekerja. Sebuah kecenderungan yang seolah-olah mengharuskan diri untuk bekerja sebanyak mungkin, bahkan mengorbankan akhir pekan. Budaya hustle ini menjadi hal yang norma di kalangan anak muda, apalagi yang baru meniti karier.


    Banyak orang, khususnya mahasiswa yang baru lulus dan masih single, cukup menyukai bagaimana konsep hustle culture bekerja. Mulai dari bagaimana “sibuk” mereka, mengerjakan banyak hal dalam waktu yang sama hingga cara mereka menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, hustle culture menjadi standar seseorang untuk mengukur produktivitas sehari-hari.


    hustle culture

    (Berbagai pekerjaan dilakukan tanpa kenal batas. Foto: Dok. Jessica Lewis Creative/Pexels)


    Mungkin kamu belum sadar, tapi ketika sebagian besar waktumu habis di depan layar laptop atau smartphone. Lalu, dimana pun kamu berada, coffee shop hingga rumah, mungkin bersama keluarga atau sahabat, fokusmu sebagian besar tertuju pada pekerjaan. Mungkin harus diakui bahwa kamu juga jadi bagian dari fenomena hustle ini.


    Hustle culture tidak hanya disebabkan oleh dunia digital


    Mungkin kehadiran internet yang mengubah kehidupan menjadi serba digital dianggap memunculkan fenomena hustle culture di tengah masyarakat, khususnya pusat kota. Namun, trusted advisor dan high performance coach, Helena Abidin mengungkapkan beberapa alasan hustle culture hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat.


    “Langsung mendapat didikan dari orang tua bahwa kita harus kerja keras, you have to work hard, study hard, dan dunia ini adalah kompetisi. Di sekolah juga mengajarkan begitu dan ketika masuk ke dunia kerja, kita juga melihat kondisinya seperti itu” jelas Helena. Hustle culture, rupanya, datang dari persepsi masyarakat akan kesuksesan yang mengharuskan seseorang bekerja keras layaknya sebuah mesin.


    Mungkin jabatan, mungkin juga penghasilan menjadi beberapa hal yang mendorong seseorang untuk bekerja luar biasa keras. Namun, tanpa sadar, perasaan diri yang kerap merasa kurang, ditambah sering kali membandingkan diri dengan orang lain juga salah satu pemicu seseorang menjadi workaholic dan mengambil bagian dalam fenomena hustle culture.


    Ketika hustle culture bertemu dengan media sosial


    Fenomena hustle culture muncul karena ada idealisme dalam diri setiap orang akan bagaimana mereka harus menjalani hidup, termasuk karier. Kecenderungan untuk bekerja tanpa henti dengan pola pikir seperti ini pun dipertemukan dengan media sosial, menghadirkan istilah performative workaholism.


    hustle culture

    (Hustle culture jadi cara untuk meniti karier. Foto: Dok. Djordje Petrovic/Pexels)


    Singkatnya, performative workaholism memadukan kultur hustling dan media sosial. Kecenderungan seseorang untuk bekerja secara berlebihan dengan tujuan mendapatkan reaksi dari orang lain, termasuk warga internet. Mungkin dalam bentuk foto aesthetic yang memperlihatkan kamu di sebuah kafe bersama dua laptop bersinar terang hingga video 30 detik yang mengajak banyak orang untuk melihat keseharianmu yang sangat sibuk.


    Performative workaholism menjadi salah satu bentuk ekstrem dari hustle culture di tengah budaya media sosial yang tidak jarang membuat sebagian orang membandingkan diri mereka dengan orang lain.


    (Baca Juga: 4 Tips Nego Kenaikan Gaji Atau Tambahan Fasilitas Kerja)


    Inilah hal-hal yang perlu kamu ketahui seputar hustle culture dan alasan kamu harus mengenal batas dalam bekerja selagi meniti karier. Semoga bermanfaat ya!





  • Our Digital Cover




    Latest Issue Her World Velove Vexia Cover April 2022
    Grab it Now!



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below