Sering Bertengkar Dengan Pasangan, Sehat Atau Tidak Ya?


  • Sering Bertengkar Dengan Pasangan, Sehat Atau Tidak Ya?
    Yakinkah sebuah hubungan akan berjalan baik jika kuantitas berkelahi lebih banyak dari kualitas asmara yang dibagi? (Foto: Dok. Alice Donovan Rouse/Unsplash)

    Menurut Joseph Cilona, Psy. D, seorang psikolog klinis asal Manhattan, tak ada formula khusus yang bisa menjelaskan tentang seberapa jarang harusnya tiap pasangan bertengkar dan bagaimana cara paling tepat untuk menekan konflik yang dirasa berpotensi memutus ikatan. “Karena sesungguhnya berselisih paham itu wajar dan tak harus berujung pada negativitas apalagi yang lebih sering bertengkar bukan berarti layak memutus hubungannya. Sebaliknya, mereka yang jarang berselisih, sekalinya bertengkar bisa langsung menyatakan untuk berpisah. Ini yang dinamakan karakter relasi."


    Ramanu Durvasula, Ph. D., yang juga merupakan psikolog klinis sekaligus penulis buku Should I Stay or Should I Go menambahkan bahwa baginya, pertengkaran adalah bentuk lain dari kepedulian seseorang terhadap hubungan yang sedang dijalani. Jadi, apakah semua pertengkaran bisa dibilang normal? Tentu tidak. Ada tiga pertanyaan penting yang harus kamu jawab sendiri. Apakah perselisihan yang sering kamu lakukan bena-rbenar sehat dan punya imbas positif, atau malah banyak merugikan sehingga benar-benar harus segera diakhiri?


    (Baca Juga: Apakah Wajar Merasa Bosan Dalam Hubungan?)


    Pertama, apakah pertengkaran itu adil?

    Daripada mempertanyakan mengapa kamu sering adu argumen, lebih baik pikirkan tentang mengapa kamu selalu benar? Jika kalian berdua masih menggunakan kalimat “Saya marah sekali saat kamu...”, “Sepertinya selama ini saya merasa kurang didengar...”, atau selalu menghindari penggunaan katakata kasar yang berpotensi menghina atau menyudutkan satu sama lain, artinya kalian masih saling menghargai. “You’re in a good place! Don’t worry,” ujar Durvasula. 


    Namun, jika perkelahian itu sering bersifat menyerang (personal attacks), seperti memanggil dengan nama lengkap lalu murka, mengkritik habis-habisan penampilan satu sama lain, dan sering menggunakan kalimat “Kamu pikir kamu siapa?” maka it’s not healthy anymore. “Jangan sampai sebuah argumen malah membuat kamu ketakutan. Fokus pada kualitasnya. Jika kiranya perdebatan selalu berujung menyakitkan bahkan tanpa jalan keluar, berpikir ulanglah untuk tetap bersama,” tambahnya.


    Kedua, bagaimana cara mengakhirinya?

    Hal yang tak kalah penting adalah dengan melihat bagaimana biasanya kamu berdua berbaikan. Ini jelas bukan perkara mudah apalagi jika keributannya cukup besar. Jika kamu dan pasangan selalu berhasil merasa nyaman dan mesra kembali dengan atau tanpa kata maaf, maka artinya kalian sudah cukup baik mengenal satu sama lain. “Couples who are able to go trough conflict into harmony end up having productive fights, which leads to greater intimacy,” sambung David Klow, selaku terapis keluarga dan pernikahan di Chicago.  


    (Baca Juga: Tanda Hubungan Cinta Tidak Akan Bertahan Lama)


    Ketiga, apakah merasa terancam?

    Jika tiap bertengkar kamu selalu merasa tidak aman dan terintimidasi secara emosional, fisik, serta psikologis, maka inilah saat yang tepat untuk waspada. “Saat pertengkaran sudah dirasa tidak sehat, carilah pertolongan sesegera mungkin baik pada teman, keluarga, atau sang profesional untuk membantu kamu keluar dari situasi tersebut sebelum semuanya makin buruk,” ungkap Durvasula mengakhiri seluruh penjelasannya


    ”Salah satu ciri pertengkaran sehat dan produktif adalah yang meributkan isu terkini terutama dalam mencari jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapi. Bukan tentang problema lama yang selalu dibahas dan dibahas lagi tanpa kompromi serta solusi.” - David Klow


    DISCLAIMER : Artikel ini sudah terbit di majalah Her World Indonesia edisi Juli 2019 dengan judul "Terlalu seringkah Anda bertengkar?".