7 Buku Dan Novel Tentang Kartini Yang Menginspirasi


  • 7 Buku Dan Novel Tentang Kartini Yang Menginspirasi
    Buku dan Novel Tentang Kartini yang Menginspirasi. (Foto: Dok/mizanstore.com, goodreads)


    Mendengar kata Kartini, ingatan langsung terlekat pada bukunya yang fenomenal berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Sudah pernah membacanya belum? Jika belum, berarti kini saatnya.  

    Lahir di Rembang, Jawa tengah pada 21 April 1879, Kartini dan buah pikirannya yang menginspirasi di zamannya inilah yang membuat namanya terus dikenang dan dirayakan. Lewat tulisan-tulisannya, ia mendobrak tatanan yang berlaku bagi perempuan kala itu. Ia menunjukkan kepedulian, dan juga berani mengungkapkan pendapatnya. 



    Surat Kartini tak hanya membahas soal satu hal akan kesetaraan saja, tapi juga pendidikan, kemanusiaan, dan lainnya. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang kemudian melahirkan banyak karya lainnya, entah itu terjemahan yang lebih lengkap, dibagi dalam tahapan tertentu, atau juga tertuang dalam fiksi akan Kartini masa kini.  

    Dirangkum dari sejumlah sumber, berikut beberapa buku Kartini, tentang dan yang terinspirasi karenanya yang bisa jadi bacaan kala merayakan Hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Selasa (21/4).


    (Baca juga: Kutipan-kutipan Paling Inspiratif dari RA Kartini) 


    1. Habis Gelap Terbitlah Terang

    Buku Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang

    (Foto: wikipedia.com) 


    Sebelum buku ini diterbitkan PN Balai Pustaka (1922), kumpulan surat Kartini untuk sahabat penanya di Eropa pernah terbit dalam bahasa Belanda bertajuk Door Duisternis tot Licht atau Dari Kegelapan Menuju Cahaya (1911). Buku ini diterbitkan atas prakarsa JH Abendanon, menteri kebudayan agama dan kerajinan hindia belanda setelah mengumpulkan 108 surat yang dikirimkan kartini.  Surat pena yang ditulis dalam bahasa Belanda itu kemudian diterjemahkan Empat Saudara, yang kemudian diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran'.  Sastrawan Armijn Pane, yang disebut-sebut sebagai Empat Saudara, kemudian menerbitkan lagi buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang' (1938) dengan penyajian berbeda. Dibagi dalam lima bab, buku ini menunjukkan tahapan perubahan sikap dan pemikiran kartini.  


    (Baca Juga: Menjadi Kartini di 'Find Your True Glow on Kartini Day')


    2. 'Panggil Aku Kartini Sadja'

     

    Buku Kartini: 'Panggil Aku Kartini Sadja'

    (Foto: Dok/shopee.co.id) 


    Ditulis Pramoedya Ananta Toer (1962), buku ini mengulik kecerdasan dan keberanian Kartini yang di masanya bisa jadi tidak pernah terpikirkan oleh perempuan lain kala itu. Buku ini mengungkap nilai penting dari gagasan yang disebutkan Kartini dalam surat-surat kepada temannya. 


    3. 'Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya'

    Buku Kartini: Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya

    (Foto: Dok/goodreads.com) 

    Buku ini merupakan hasil terjemahan Sulastin Sutrisno, mahasiswa studi sastra di Universitas Leiden terhadap buku asli kumpulan surat Kartini. Diterbitkan Djambatan pada 1979, buku ini kemudian digunakan lagi untuk penulisan buku dengan tema lebih sepsifik. Diantaranya hadir buku yang diberi judul 'Kartini, Surat-surat Kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya' (1989).


    (Baca Juga: Hari Kartini: 10 Film dengan Pesan 'Women Empowerment')


    4. 'Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904'

    Buku Kartini: Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904

    (Foto: Dok/abebooks) 


    Yang menarik dari buku karya Joost Cote yang terbit pada 1992 ini adalah ia menerjemahkan seluruh surat asli yang ditujukan Kartini kepada Abendanon-Mandri, termasuk surat yang tak pernah dipublikasikan dalam Door Duisternis Tot Licht. Joost Cote juga menerbitkan buku lainnnya yang diberi judul 'On feminism and nationalism, Kartini's letters to Stella Zeehandelaar 1899-1903' yang kemudian diterjemahkan dengan judul, 'Aku Mau...Feminisme dan Nasionalisme. surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 189901903'.


    5. 'Kartini, Kisah yang Tersembunyi'

    Buku Kartini, Kisah yang Tersembunyi

    (Foto: Dok/bukukita.com)

    Berbeda dengan buku dan surat yang ditulis Kartini, karya Aguk Irawan ini menghadirkan Kartini dalam bentuk penceritaan yang menarik untuk diikuti. Berikut kutipannya: 'Pada tahun 1879, seorang wanita pemberontak lahir dari rahim perempuan jelata bernama Nyai Ngasirah. Kartini namanya. Berbeda dengan kaum laki-laki yang melawan penjajahan di medan perang, Kartini memberontak dari sebuah kerangkeng bernama pingitan.' Membacanya sekaligus juga bisa membayangkan apa dan bagaimana keteguhan sikap Kartini kala itu.


    (Baca Juga: Hari Kartini: 6 Tokoh Perempuan Hebat Masa Kini)


    6. 'Kartini: Sebuah Novel'

    Kartini: Sebuah Novel

    (Foto: Dok/mizanstore.com) 


    Beranjak dari skenario film yang ditulis Hanung Bramantyo, Abidah El Khalieqy menulsikan lagi dalam bentuk novel yang membuatnya lebih hidup. Disampaikannya, memahami Kartini, berarti menyelami perasaannya akan nasib Ngasirah yang terusir dari rumah utama. Menyelami pedihnya harus memanggil ibu kandungnya itu dengan sebutan Yu, layaknya kepada pembantu. Menghayati lukanya menyaksikan Kardinah, adik kandungnya, menderita akibat dijadikan istri kedua; melihat kepedihan perempuan yang seolah menjadi-jadi usai pernikahan. Sementara di sisi lain, dia harus pula menghadapi para politisi busuk yang menikungnya dengan berbagai tindakan brutal.


    7. 'Kartini Nggak Sampai Eropa'

    Buku Kartini: Kartini Nggak Sampai Eropa

    (Foto: Dok/bukalapak)

    Ditulis Sammaria Simanjuntak, buku ini mengusung semangat Kartini yang coba dihadrikan lewat dua sosok karakter utamanya Anti dan Tesa. Tidak hanya pintar, Anti dan Tesa juga sama-sama perempuan Indonesia yang haus akan tantangan, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hobi berpetualang, berkebudayaan tinggi, dan berprinsip. Meski tinggal di Eropa, mereka tidak lantas meninggalkan adat timur yang selama ini mereka jalankan. Anti dan Tesa adalah Kartini masa kini yang haus akan rasa ingin tahu dan tidak takut untuk mempertanyakan apapun, meski pada akhirnya tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.


    Bagaimana, mana yang sudah kamu baca? 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below