Hati-hati ‘Zoombombing’ Dan 7 Fakta Seputar Aplikasi Zoom


  • Hati-hati ‘Zoombombing’ Dan 7 Fakta Seputar Aplikasi Zoom
    Aplikasi Zoom untuk panggilan video, baik private maupun grup, ternyata tidak sepenuhnya aman. Bisa jadi disusupi tamu tak diundang. (Foto: Dok/Zoom)


    Seiring dengan penerapan kebijakan social-distancing terkait pencegahan virus corona (covid-19) dalam beberapa bulan terakhir, aplikasi video call Zoom pun jadi ramai digunakan. Baik untuk belajar online, maupun buat meeting urusan pekerjaan.  

    Tak hanya untuk kebutuhan belajar dan bekerja, ada juga yang memanfaatkannya untuk bersosialisasi, ikut kelas yoga online, dan lainnya. Karena, bagaimanapun kondisi saat ini membuat publik mau tak mau dari yang biasanya fisik kini semua berubah menjadi online.



    Dalam laporan yang dimuat Business Insider, dikabarkan hingga Maret 2020, Zoom telah memiliki 200 juta pengguna, yang meningkat tajam dari 10 juta pengguna di Desember 2019. Kenaikan ini ditengarai karena Zoom menyediakan platform video call yang kini dibutuhkan, dan juga mudah digunakan.

    Namun, baru-baru ini, terungkap jika Zoom ternyata mengalami sejumlah kendala dan kelemahan. Sejumlah pihak pengguna Zoom melaporkan bahwa mereka kena ‘Zoombombing’, atau pembajakan di mana di tengah video call disusupi tamu tak diundang yang kemudian menyebar kata-kata tak senonoh dan atau gambar pornografi. Loh, kok bisa? 

    Berikut 7 hal yang kamu patut ketahui soal Zoom dan resiko bahaya Zoombombing yang menyertainya. 

    (Baca juga: Pentingnya Dana Darurat di Tengah Wabah Virus Corona) 


    1. Apa itu Zoombombing?

    Mengutip laporan The New York Times, beberapa orang kena Zoombombing dan terpaksa membatalkan video conference mereka yang sedang berlangsung. Chipotle misalnya yang terpaksa mengakhiri agenda chat publik Zoom mereka dengan musisi Lauv setelah salah satu peserta ‘membajak’ dan mulai membagi gambar-gambar porno.

    Lalu, seperti dilaporkan TechCrunch, video conference antara Hunter Walk dan jurnalis Casey Newton juga terpaksa gagal tayang setelah kena Zoombombing. Dialog saat happy hour yang rencananya digelar dua kali sepekan itu pun batal. Tak sampai di situ, dengan alasan keamanan, Zoom pun dikabarkan dilarang digunakan di Jerman dan Taiwan.  


    2. Kenapa bisa terjadi?

    ‘Zoombombing’ memungkinkan terjadi karena dalam pengaturan Zoom memberi kesempatan pada pesertanya untuk membagi layar mereka tanpa izin dari yang jadi ‘host’ meeting. Siapapun yang punya link ke pertemuan tersebut dapat bergabung di dalamnya. Link-link ini pun sangat mudah didapat, apalagi jika ada yang membagikannya di media sosial.


    3. Bagaimana agar tak dibajak? 

    Mengenai insiden Zoombombing ini, jurubicara Zoom Video Communications dalam pernyataannya seperti dikutip dari The New York Times, mengungkapkan kekecewaaan akan serangan yang dialami banyak orang. Ia menyarankan bagi yang menggelar conference call dalam skala besar, seperti grup meeting, host dapat mengubah pengaturan menjadi hanya mereka yang bisa membagi layar. Sementara, buat yang private meeting, dianjurkan untuk melakukan proteksi password di pengaturan dan pengguna terus melakukan proteksi untuk mencegah ‘tamu yang tak diundang’ bergabung.

    Zoom pun disebutkan telah melakukan update aplikasinya sehingga tidak lagi menampilkan ID rapat di bagian atas alar. ID yang tersembunyi diharapkan dapat melindungi peserta rapat dibajak di tengah meeting. Di samping itu, ada juga fitur Waiting Room di mana peserta meeting ditentukan oleh host.


    4. Persoalan keamanan dan privacy

    Namun, persoalannya ternyata tak hanya di pembajakan. Dalam laporan berbagai media teknologi, Zoom juga dinilai bermasalah dengan keamanan dan penyalahgunaan data pribadi para pengguna akun. Mengutip laporan Forbes yang beranjak dari organisasi Consumer Reports, terdapat beberapa hal terkait keamanan data dan privacy ini yang jadi persoalan. Diantaranya, ada tudingan data pribadi saat pembuatan akun tersebut diberikan ke Facebook dan pihak ketiga dalam hal ini periklanan. Laporan lainnya menyebut aplikasi juga mengekspos alamat mail pengguna ke orang lain.


    5. Bagaimana dengan data yang dishare selama video conference berlangsung?

    Ini juga menjadi kekhawatiran banyak pihak. Terutama bagi mereka yang misalkan lagi video call untuk interview kerja, atau dalam konsultasi bersama dokter. Beberapa data pribadi yang di-share di dalamnya bisa jadi berisiko, dimiliki atau berpotensi tersebar. Kebocoran data ini juga cukup menganggu. Apalagi ditengarai Zoom juga memberi akses terhadap rekaman pengenalan wajah, gestur tubuh, dan aktivitas pengguna kala berpindah ke jendela lain sembari video call berlangsung.   



    (Aplikasi Zoom video conference. Foto: Dok/BusinessInsider) 


    6. Lalu, bagaimana menyiasatinya? 

    Dengan berbagai pertimbangan di atas, dianjurkan jika menggunakan Zoom untuk video call, usahakan kamera dan mikrofon dimatikan saat tidak berbicara. Jika kamera mesti dihidupkan maka dianjurkan punya latar khusus saat melakukan video call, sehingga host tidak bisa melihat seisi rumah. Dan demi privacy lebih aman, saat mendaftarkan diri, buatlah dengan alamat email unik yang khusus buat Zoom, sehingga menghindari kemungkinan cookies atau penyalahgunaan data sebisa mungkin.  


    7. Apakah ada aplikasi alternatif lain?

    Kendala yang dihadapi Zoom saat ini tersebut membuat banyak pihak melarang penggunaannya, termasuk New York City Department of Education yang kemudian mengalihkan para guru menggunakan alternatif aplikasi ke Microsoft Teams. Selain Microsoft, kini sejumlah orang juga beralih ke Google Meet and Hangout untuk kebutuhan video call yang aman dan tanpa gangguan.

    Keduanya, Microsoft dan Google diyakini memiliki kekuatan yang sama, dari mulai infrastruktur, kredibilitas dan skala bisnis yang saat ini dibutuhkan oleh banyak orang di seluruh dunia.

    Dengan masa work from home atau social distancing yang masih belum tahu kapan akan berakhir, kebutuhan dan akses terhadap aplikasi yang menyediakan video call masih akan terus berlanjut. Jika Zoom diragukan keamanannya, publik punya pilihan entah itu menggunakan Microsoft Teams atau Google Meet and Hangout.

    Hal yang patut dipahami, teknologi yang memudahkan, juga kadang tak aman. Zoom mesti terbuka dan meningkatkan pengamanannya jika ingin kembali mendapatkan kepercayaan publik.




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below