A Chat With Nana Mirdad & Andrew White: Cinta Dan Anak


  • A Chat With Nana Mirdad & Andrew White: Cinta Dan Anak
    Nana Mirdad dan Andrew White bercerita tentang kisah asmaranya dan bagaimana cara mereka dalam menjaga anak. (Foto: Dok. her world Indonesia/Wong Sim)


    Belasan tahun menikah, Nana Mirdad, 34, dan Andrew White, 34, bicara asmara dan menjaga anak bersama.




    Herworld Indonesia (HW): Kalian sudah menikah cukup lama, masih ingat pertemuan pertama?

    Nana (N): Saat dikenalkan teman, aku langsung berpikir dalam hati, “Ya Tuhan, aku ingin banget punya suami seperti dia (Andrew)” padahal biasanya enggak pernah begitu. Ternyata memang jodohnya. Tapi perasaan itu hanya ada di aku, ia tidak merasakan hal yang sama, bahkan enggak ingat! 

    Andrew (A): Yang aku ingat waktu itu di lokasi shooting. Mamanya Nana berperan jadi mamaku. Satu tahun setelah itu, Nana hadir jadi bintang tamu. Saat break, kami ngobrol masih dengan kostum berbulu, tapi Nana tetap cantik. Setelah bertukar nomor handphone, sempat enggak komunikasi lagi. Hingga akhirnya kami main film bareng dan jadi pemeran utama. Dari sana mulailah muncul rasa. 


    HW: Kalian menerapkan gaya hidup sehat, seberapa serius?

    A: We’re not health freaks, tapi kami berusaha hidup sehat dengan cara paling mudah seperti mengurangi gula, masak dengan bahan-bahan segar. We still enjoy life.

    N: Kami lebih berusaha menyeimbangkan. Tidak harus semua 100% makan sehat. Intinya, kami membuat hidup sehat tidak jadi beban.


    HW: Lalu, bagaimana cara kalian menerapkan ini ke anak-anak?

    A: Banyak orang mengira kami ‘keras’ ke mereka misalnya menuntut harus jadi vegan atau lainnya, padahal tidak. Intinya kami berusaha untuk jadi contoh yang baik. Kalaupun kami memaksa dan mengawasi mereka, kan tidak selamanya bisa seperti itu. Mereka bisa mengonsumsi makanan sehat atau tidak, yang penting harus balance. Tentu ada influence dari kami soal olahraga, tapi kami tidak pernah memaksa.


    HW: Bicara soal olahraga, apa yang sedang digemari?

    N: Saya senang boxing, HIIT (High Intensity Interval Training), dan kini sedang suka pilates.

    A: Karena saya sering traveling jadi lebih memilih olahraga yang menggunakan body weight agar tetap bisa olahraga tanpa alat, tanpa gym, hanya di kamar hotel.


    HW: Lebih suka olahraga sendiri atau berdua?

    N: Sendiri! Kecuali kalau kami ikut olahraga lari. Perginya bareng tapi larinya sendiri karena kita punya pace masing-masing. Nanti bisa bertemu di garis akhir.

    A: Berarti mobilnya saja yang bareng, orangnya tidak hahaha. Tapi aku memang tidak bisa olahraga bareng dia. Pernah mencoba, eh malah berantem. Aku pernah dua kali mencoba yoga karena ikut Nana dan kurang cocok.


    HW: Kalian cukup aktif di media sosial, pernah jaga image?

    A: Kami berusaha menunjukkan diri sendiri. Tidak banyak orang yang mendapat blessing berupa platform dengan followers banyak. Kami tak ingin platform tersebut disia-siakan demi endorse

    N: Sekarang lebih menjaga privasi anak-anak saja. Setiap kali mau mengunggah Instastory mereka, kami akan tanya dulu, boleh atau tidak.


    HW: Kenapa penting sekali menerapkan ini?

    N: Sempat ada kejadian ketika aku dan Sarah (8 thn) lagi di luar rumah. Aku kebetulan sedang menghadiri acara dan Sarah berenang jadi tidak melihat langsung. Justru aku baru lihat karena ada yang mention di Instagram. Ada perempuan yang mencium bibir Sarah dan mengunggahnya ke Instastory.

    Setelah kejadian, orang tersebut sudah minta maaf, tapi aku tetap mengangkat ceritanya ke Instagram demi meningkatkan awareness bahwa perilaku itu tidak baik. Anehnya, banyak orang yang DM (Direct Message) balik dan bilang bahwa ini salah kami dan sudah jadi risiko.

    Bahkan ada yang balas, "Jangan sampai nanti orang berpikir Nana enggak mau anaknya disentuh.” Ya, aku memang tidak mau kan. Inilah yang kami terapkan ke anak-anak bahwa privasi mereka harus dihargai sedini mungkin. Tidak semua anak senang dipublikasikan, walau kadang orang tua, termasuk aku, suka memaksa.




    (Nana Mirdad dan Andrew White bercerita tentang cara menjaga anak. Foto: Dok. her world Indonesia/Wong Sim)

    HW: Apa anak-anak diijinkan bermain media sosial?

    N: Baru Jason (13 thn), sekitar dua-tiga bulan ini.

    A: Tapi sebelumnya dia memang enggak pernah minta. Untuk akunnya pun kami beri kebebasan. Kami follow dan bisa buka akunnya tapi itu dilakukan bukan untuk mengekang Jason, but to see if someone doing something to him. Tak bisa dipungkiri media sosial punya dampak buruk. Orang dewasa saja bisa terkena, apalagi anak kecil.


    HW: Jadi smartphone baru diberikan sekarang?

    A: Jason sudah, Sarah belum. Itu pun baru satu tahun, tapi sekali lagi bukan karena dilarang, karena ia memang belum pernah minta. Mungkin karena kami tinggal di Bali, jadi ada banyak hal yang bisa dilakukan seperti surfing dan skateboarding.


    HW: Bahas soal parenting, kalian tipe orang tua seperti apa?

    N: Kami lebih ke tipe demokrasi di mana suara anak-anak juga dihargai. Tapi tetap ada saatnya orang tua harus bersikap tegas dan disiplin.

    A: Apa pun yang akan kami terapkan di rumah, kami ajak anak-anak untuk diskusi dulu. Tidak pernah hanya menuntut tidak boleh ini-itu, tapi berusaha untuk melibatkan mereka. Kami mau memberikan smartphone ke Jason pun, Sarah ikut dalam diskusinya. 


    HW: Tapi siapa sih yang lebih strict di rumah?

    N: Andrew.

    A: Nah, nah, baru dibahas! Aku lebih strict soal jadwal tapi Nana juga strict soal hal lain. Jadi 50-50 tapi harus satu suara.

    N: Ya, apa pun yang terjadi walaupun harus berantem di belakangnya, tapi kami selalu berusaha agar tidak membuat anak bingung. Selalu konsisten dan satu suara.


    HW: Seberapa berbeda gaya mengasuh kalian dengan orang tua dulu?

    A: Anak-anak tidak sebebas saya dulu. Mungkin pulang sekolah aku bisa main ke mana saja sendirian. Sekarang, mereka main satu jam tanpa memberikan kabar, pasti langsung aku tanya. Memang zaman pun sudah berubah kan.

    N: Orang tuaku dulu terlalu menjaga anak, misalnya tidak boleh sekolah di luar. Berbeda dengan aku yang memberikan kepercayaan bagi Jason dan Sarah. Aku percaya anak-anak harus learn by doing. Kalau nanti melakukan kesalahan, itu hal yang sangat wajar. Justru bagiku, mereka harus ada ‘jatuh-bangunnya’. Tidak bisa semua aku yang atur dan awasi.


    HW: Konsisten tentang parenting, bagaimana dengan pasangan? Pernah saling cemburu?

    N: Aku dan Andrew cukup saling percaya. Bukan berarti percaya buta, tapi kami berdua sama-sama dewasa dan mengerti posisi kami dalam hubungan ini seperti apa. Kalau itu dirusak, you’re big enough to know the consequences.


    HW: Pernah bertengkar hebat karena cemburu?

    N: Tidak, malah mungkin berantemnya karena enggak pernah cemburu sama sekali hahaha…


    HW: Lalu, bagaimana biasanya ‘memadamkan’ pasangan saat berantem?

    N: Biasanya beri waktu dulu, kalau pasangan terlihat masih emosi, berikan jarak. Kalau sudah reda, baru ajak bicara baik-baik.

    A: Sistem ini tentu awalnya tidak mudah juga, apalagi saat masih muda ketika baru menikah. Toh berantem itu tidak bermanfaat. Misalnya aku yang menang, lalu apa yang aku dapat?


    HW: Terakhir, apa yang kalian sukai dari satu sama lain hingga saat ini?

    N: Andrew baiknya luar biasa. Kalau ia suka akan sesuatu, ia benar-benar akan melakukannya dari hati. Namun terkadang karena terlalu baik, aku jadi suka lama menunggu dia, misalnya ngobrol sama orang bisa lama banget padahal aku sudah lapar hahaha…

    A: Nana punya tenaga yang besar. Biasanya ia bangun pagi, buat sarapan untuk anak-anak, pergi ke kantor, lalu kembali ke rumah untuk masak makan siang agar fresh sebelum kembali ke kantor. Pulang ke rumah, ia masih sempat masak makan malam. Setelah anak-anak tidur, ia kerja lagi. She has so much energy and time for family. Kami benar-benar merasa diutamakan.


    (Disclaimer: Artikel ini sudah diterbitkan di majalah her world edisi Februari 2020 dengan judul "Forever In Love" ditulis oleh Kiki Riama Priskila) 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below