Ajang Penghargaan Women Of The Year 2020 Digelar Virtual


  • Ajang Penghargaan Women Of The Year 2020 Digelar Virtual
    Ajang Penghargaan Women Of The Year 2020 Digelar Virtual (Foto:Dk/MRA Media)


    Untuk pertama kalinya ajang apresiasi Women Of The Year 2020 digelar secara virtual dan dapat disaksikan oleh sejumlah orang dari rumah. Bukan tanpa alasan, hal ini melainkan untuk mematuhi protokol kesehatan yang telah dianjurkan pemerintah di masa pandemi COVID-19.

    Selaras dengan itu juga, khusus di gelarannya yang ke-14 ini Her World Indonesia memberikan apresiasinya untuk sejumlah wanita yang tak hanya inspiratif dari berbagai bidang, tapi juga peduli pada masyarakat terutama di tengah wabah virus corona saat ini. Dengan melewati hasil kurasi, terpilihlah 10 sosok Women Of The Year dari dengan latar belakang yang berbeda.




    (Baca Juga: WOTY 2020: Bicara Sustanation, Dari Blog Ke Komunitas)


    Di antaranya adalah dr. Debryna Dewi (Dokter Relawan Wisma Atlet, Influencer, Anggota Tim INASAR, Indonesia Search & Rescue), Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, PhD, DIC (Ahli Epidemiologi & Informatika), Ratri Anindyajati (Aktivis Seni, Penyintas Covid-19), Najelaa Shihab (Founder

    Sekolah Cikal) dan Dwi Sasetyaningtyas (CEO Sustaination). Kemudian ada pula Aprishi Allita (Pishi Yoga & Mediatasi), Maurilla Sophianti Imron (Founder & CEO Zerowaste.id_official), Anbita Nadine Siregar, Janice Belinda Widjaja, dan Crystal Widjaja (Founder Generation Girl.id), Happy Salma (Seniman, Penggagas Sandiwara Sastra, Co-founder Tulola), Denica Flesch (Founder Sukkha Citta). 

    Shantica Warman, Editor in Chief Her World Indonesia menjelaskan bahwa, terpilihnya sejumlah nama ini dengan melihat berbagai proses mereka yang tetap aktif dalam berkarya di tengah pandemi Covid-19. Di mana perhatian dan rasa pedulinya juga tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang banyak.


    (Baca Juga: WOTY 2020: Generation Girl Lahir Untuk Perempuan & STEM)


    “Di masa Pandemi ini, passion, kepedulian dan ketangguhan mereka semakin jelas terasa. Mereka melangkah keluar dari comfort zone untuk terjun jadi relawan di garda depan, memimpin tim pengolahan data nasional COVID-19, membangun lingkungan yang lebih sehat, menyembuhkan luka mental dari sekian banyak masyarakat terdampak, hingga mereka yang tetap berkarya dalam seni dan sastra,” ujarnya.

    Sebelum malam penghargaan digelar, penyelenggaran WOTY 2020 sudah berlangsung beberapa minggu sebelumnya, dengan menyelenggarakan Webinar series. Menghadirkan narasumber kompeten yang merupakan penerima penghargaan Women Of The Year di tahun-tahun sebelumnya, tiga kali webinar selalu dipenuhi peserta. Para pembicara tersebut adalah Cynthia Wirjono, Yovita Lesmana, Andra Alodita, Chitra Subyakto, Alamanda Shantika, dan Tety Sianipar. Tak usai sampai di situ, Her World Indonesia juga mengajak beberapa nominee WOTY 2020 untuk Live bersama di Instagram @herworldindonesia.

    Bekerjasama dengan kartu kredit UOB Ladys Card dan Sulwhasoo acara ini juga melihat bagaimana mereka sebagai wanita tetap tangguh dan kreatif di masa pandemi virus corona yang telah lebih dari delapan bulan mewabah di Indonesia. 

    Penyelenggaraan Woman Of The Year oleh Her World Indonesia dapat dinikmati secara luas oleh publik melalui YouTube premiere. Malam penobatan berupa video yang dapat diakses di akun YouTube Her World Indonesia secara Gratis pada 20 Oktober 2020, pukul 20.00 WIB. Women Of The Year 2020 turut didukung oleh sejumlah pihak yang menjadi pendukung utama, UOB Indonesia dan Sulwhasoo Indonesia.


    (Baca Juga: WOTY 2020: Ratri Anindyajati Berdayakan Seni Lewat Identitas)


    Kisah Para Women Of The Year 2020


    (Para perempuan peraih penghargaan Women of The Year 2020.Foto:Dok/MRA Media)


    Sosok-sosok yang masuk dalam daftar penerima penghargaan Woman Of the Year 2020 tidak membiarkan pandemi Covid-19 membatasi ruang geraknya dalam berkarya dan bersuara. Seperti dr. Debryna Dewi, dokter muda kelahiran Magelang, Jawa Tengah yang menjadi panutan dan inspirasi bagi calon dokter, petugas kesehatan, dan generasi muda Indonesia. Debryna kerap membagikan cerita keseharian di media sosial, dalam menjalankan tugas sebagai relawan di Wisma Atlet dengan tujuan semakin banyak masyarakat yang tahu informasi sebenarnya seputar kondisi Wisma Atlet, dan tidak menyerah untuk menuntaskan tugasnya di garda terdepan. 



    Selain itu, Dewi Nur Aisyah, SKM, MSc, PhD, DIC, yang merupakan pakar penyakit menular yang direkrut oleh Komite Penanganan Covid-19, untuk pengumpulan dan pengolahan data yang menjadi dasar pengambilan kebijakan menangani kasus Covid-19 di Indonesia, dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Prestasi terakhir yang didapatkan yaitu sebagai penerima Travel Grant Award For Young Investigators pada 19th International Congress on Infectious Disease di Kuala Lumpur Malaysia, Februari lalu. 



    Ada pula dia yang peduli pada seni pertunjukkan, Ratri Anindyajati, salah satu dari tiga pasien terinfeksi Covid-19 pertama di Indonesia yang telah dinyatakan sembuh, dan aktif menggalang dana lewat salah satu akun crowdfunding untuk disumbangkan pada tenaga medis rumah sakit atau puskesmas. Saat ini, Ratri juga menjadi salah satu duta dari program Saweran Online dan Program Manager Indonesia Dance Festival untuk pekerja seni. 



    Sosok perempuan inspiratif lainnya adalah, Najelaa Shihab yang memiliki fokus terhadap Pendidikan di Indonesia terlepas karena banyak yang harus dibenahi, Najelaa mendirikan sekolah Cikal dan membangun komunitas inibudi.org. Najelaa juga menginisiasi gerakan “Semua Murid Semua Guru”, yang mengajak masyarakat untuk turut memajukan Pendidikan di Indonesia khususnya daerah pelosok. Najelaa juga menggagas platform digital Sekolahmu, aplikasi blended learning pertama di Indonesia yang menjadi wadah kolaborasi antar sekolah dan korporasi. 



    Ada pula Dwi Sasetyaningtyas, merupakan pendiri Sustaination dengan tujuan untuk mengenalkan gaya hidup berkelanjutan untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang, melalui edukasi SustainBlog dan SustainTalks. Dwi juga kerap mengadakan workshop seputar membuat kompas dan kiat zero waste lainnya. 



    Sementara itu, Aprishi Allita seorang Founder Pishi Yoga & Meditation yang telah bangkit dari masa lalunya dan memberikan perhatian pada masyarakat di tengah pandemi COVID-19 dengan mengadakan meditasi daring bersama setiap minggunya. Sebagai instruktur yoga dan meditasi ia pun mengajak banyak orang melakukan proses healing bersama. 



    Selanjutnya ada Maurilla Sophianti Imron sebagai lulusan universitas di Belanda yang kini menjadi Founder dan CEO dari Zerowaste.id, komunitas dengan fokus mengkampanyekan cara meminimalisir sampah. Saat ini, Maurilla bekerjasama dengan komunitas Sedari Sedari, Workplay, Living Loving Net, hingga National Gegraphic Indonesia untuk membuat gerakan #tukarbaju untuk mewujudkan mode berkelanjutan dan slow fashion yang telah banyak diaplikasikan di berbagai negara. 



    Selain itu, tiga nama pendekar teknologi dibalik Go-Jek yaitu, Anbita Nadine Siregar, Janice Belinda Widjaja, dan Crystal Widjaja, pendiri Generation Girl untuk meningkatkan kesadaran perempuan tentang dunia Science, Technology, Engineering dan Mathematics (STEM), yang masih banyak didominasi oleh kaum pria. Selama pandemi Covid-19, organisasi non profit tersebut memperbanyak kelas hingga ke luar Jabodetabek dengan ilmu yang lebih luas, termasuk kelas animasi, membangun robot, membuat website, dan lainnya.



    Sosok Happy Salma juga jadi salah satu Women Of The Year 2020. Panutan dikalangan Seniman Indonesia. Happy Salma membuat Sandiwara Sastra, sebuah ahli wahana karya sastra, dari buku menjadi tata suara yang ditayangkan lewat podcast “Budaya Kita”, misinya yaitu mengenalkan generasi muda pada karya-karya sastra pujangga Indonesia. Karier bermula dari ajang sinetron, bermain film dan teater, produser teater, hingga menyutradarai serial TV berjudul “Masakan Rumah”, hingga butik perhiasan Tulola Jewelry. 



    Yang terakhir adalah Denica Flesch sosok pendiri Sukkha Citta, yang merupakan industri kerajinan yang kini bekerja dengan hampir 50 pengrajin di empat desa di Jawa. Berhasil memproduksi 80-100 kain dalam sebulan yang dipasarkan ke 20 negara. Di tengah pandemi Covid-19, Sukkha Citta mendapatkan penghargaan World Changing Idea Award 2020 oleh Fast Company pada April 2020. 



    Woman Of The Year akan terus mengamati gerak dinamis wanita Indonesia, yang berdampak besar bagi sekitarnya. Harapannya, acara ini bisa menjadi penyemangat wanita Indonesia untuk terus saling mendukung dan membangun negeri ini. WOTY yang diadakan dari tahun ke tahun ini menjadi sebuah komunitas perempuan inspiratif yang dapat memberdayakan sesama, memperbaiki lingkungan dan menginspirasi lebih banyak lagi perempuan di seluruh Indonesia




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below