WOTY 2020: Bicara Sustanation, Dari Blog Ke Komunitas


  • WOTY 2020: Bicara Sustanation, Dari Blog Ke Komunitas
    Mengulik kisah berdirinya Sustaination. (Foto: Dok. Instagram/@dwisasetyaningtyas)

    Sebagai sebuah social enterprise yang fokus untuk memberikan dampak pada orang sekitar dan lingkungan, Sustaination berusaha untuk terus membagikan pengetahuan dan edukasi melalui online platform. Sang pendiri, Dwi Sasetyaningtyas, atau akrab disapa Tyas, mengungkapkan Sustaination tak hanya menyajikan program edukasi tapi juga menawarkan ragam produk lokal yang ditujukan untuk memudahkan perjalanan masyarakat yang tertarik dengan gaya hidup ramah lingkungan.


    "Tujuan kami adalah agar Indonesia bisa menjadi negara yang lebih sustainable," ujarnya dalam wawancara eksklusif bersama Her World. Tyas, yang juga merupakan salah penerima penghargaan Her World Women of the Year 2020 mengungkapkan ada 3 hal yang membedakan Sustaination dengan komunitas serupa.







    "Pertama, lebih dari 90% produk yang kami tawarkan adalah produk lokal atau hasil karya para pengrajin dan petani lokal. Kedua, we're an impact-driven company, jadi kami berusaha sebisa mungkin agar apa yang kami lakukan sebagai perusahaan bisa memberikan dampak positif baik secara sosial dan lingkungan. Ketiga, sebagian dari hasil setiap penjualan di Sustaination disisihkan untuk penanaman pohon di Desa Bedono, Jawa Tengah," jelas Tyas.


    Berawal dari blog

    Niatan untuk membuat sebuah komunitas ramah lingkungan nyatanya terwujud di tengah masalah serius dalam rupa yang kecil. Kala itu, Tyas yang sedang tinggal di Belanda bersama sang suami, baru melahirkan anak pertamanya. Sebagai ibu baru, ia merasa overwhelmed. "Jauh dari orang tua, keluarga, dan teman dekat. Apalagi saat itu aku baru lulus S2 dan belum mendapatkan kerja. Hingga akhirnya aku mengidap post-partum depression," kenang Tyas. 





    Akibat depresi, ia pun berusaha untuk menyalurkan semua perasaannya ke hal-hal yang positif. Untungnya saat itu ia sedang gemar menulis, khususnya blog. Pada waktu yang bersamaan, Tyas dan suami memang bertekad untuk mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan saat punya anak. Akhirnya, berkat dorongan sang suami, Tyas pun menuliskan perjalanan hidup sustainable tersebut dalam bentuk blog. Pada 2018, Sustaination pun lahir.


    Namun tantangan masih harus dipikulnya. "Karena semuanya dikerjakan sendiri, belum punya tim. Artikel hanya di-publish sekenanya, bahkan kadang harus menunggu jam tidur anak dulu. But, it's getting better now. Tim kami sekarang ada 9 orang. Jadi, Sustaination bukan sekadar platform bagiku, tapi jadi media untuk menyembuhkan diri sendiri," jelas Tyas.


    Kontribusi Sustaination terhadap lingkungan

    Sejak berdirinya, Tyas mengungkapkan bahwa Sustanation telah memiliki program-program yang berhasil memberikan kontribusi positif bagi tanah air. Lewat program edukasi yang sering disiarkan via Instagram, setidaknya ada 50 ribu followers yang bisa mendapatkan tips seputar hidup ramah lingkungan.





    Selain itu, dari produk-produk yang dijual dalam situs Sustaination sendiri memang ditujukan untuk bisa menggantikan produk konvensional yang digunakan sehari-hari. "Misalnya, kami menjual menstrual cup dan menstrual pad yang bisa dipakai berulang kali. Dari penjualan produk kewanitaan ini saja, setidaknya dalam 1 tahun terakhir, kami telah men-divert  sekitar 1,2 juta pembalut sekali pakai yang harusnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)," ungkap Tyas.


    Pada 2018, Sustaination juga mengenalkan produk mengompos yang langsung menjadi produk paling dicari. "Composter kit ini dijual beserta workshop. Hingga sekarang, dari teman-teman yang belajar mengompos tersebut, setidaknya kami telah men-divert 1 juta kg karbondioksida ekuivalen yang tidak sampai ke TPA," lanjutnya.





    Tak berhenti di situ, lewat penyisihan sebagian penjualan untuk penanaman pohon yang sempat disebut di atas, Sustaination telah menanam hingga 4.500 pohon selama 1,5 tahun ke belakang. Jika 1 pohon menyerap hingga 12,3 kg jejak karbon, maka sekitar 50 ribu kg karbon telah terserap. "Tentu ini tak akan terjadi tanpa dukungan teman-teman dan komunitas," ungkap Tyas.


    Saat ditanya soal harapan bagi masyarakat Indonesia, wanita berambut pendek ini ingin agar kita bisa menyadari bahwa semua tindakan yang kita ambil bisa memengaruhi keberlangsungan hidup kita dan masa depan anak-cucu kita nanti. Karena saat masyarakat sudah sadar dan mulai peduli, kita bisa maju bersama untuk mewujudkan Indonesia yang sustainable. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below