WOTY 2020: Denica Flesch Kembangkan Bisnis Saat Pandemi


  • WOTY 2020: Denica Flesch Kembangkan Bisnis Saat Pandemi
    Denica Flesch bersama para pengrajin SukkhaCitta. (Foto: Dok. Instagram/denicaflesch)

    Merintis bisnis bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi jika bisnis tersebut bukan sekadar untuk meraih keuntungan, melainkan memiliki nilai dan tujuan tertentu yang ingin dicapai. Hal ini dilakukan oleh Denica Flesch, pemilik brand SukkhaCitta, yang berhasil mengembangkan bisnis saat pandemi.


    (Baca Juga: WOTY 2020: Kesibukan Happy Salma Selama Pandemi)




    Perjalanannya dalam dunia bisnis dimulai saat ia melakukan perjalanan sekaligus penelitian untuk memahami faktor penyebab kemiskinan yang dihadapi sebagian masyarakat di Indonesia. Dalam perjalanan itu, ia menyadari adanya hubungan yang terputus antara konsumen dengan cara pembuatan pakaian yang dikenakan sehari-hari.


    Oleh karena itu, Denica menghadirkan SukkhaCitta untuk mengajak para konsumen untuk ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan permasalahan sosial dan lingkungan. Wanita alumnus Erasmus Universteit Rotterdam ini mendirikan SukkhaCitta dengan satu tujuan, yakni mengakhiri eksploitasi perempuan yang bekerja sebagai pembuat pakaian. Idenya ini membuat bisnisnya terpilih sebagai World Changing Idea Award dalam Fast Company.




    Merintis bisnis sejak 2016, Denica harus melawan rasa takut dan keraguannya untuk memulai brand ini karena tidak memiliki latar belakang untuk merintis sebuah lifestyle brand. Hal tersebut dihadapinya dengan melakukan pelatihan, memberikan upah layak dan pendidikan, hingga akhirnya dapat membangun 1.282 kehidupan pedesaan di Indonesia.


    Sama seperti bisnis lainnya, SukkhaCitta pun harus menghadapi kesulitan selama pandemi. Ibu-ibu yang merupakan para pengrajin harus berperan sebagai satu-satunya pencari nafkah bagi keluarga mereka.


    Namun, melalui microgrants, pelatihan jarak jauh, dan kerja keras, Denica dan timnya memiliki beberapa pencapaian sejak Maret 2020, seperti mendonasikan 3.350 masker untuk garis terdepan di komunitas last mile, 352 pengrajin dan petani yang tetap menerima upah layak tetap, merekrut 75 pengrajin baru yang dilatih dan diberi akses ke upah layak, mulai mencari desa baru untuk melindungi pencari nafkah di Bali, hingga menyiapkan COVID-19 Artisan Fund untuk membantu biaya sekolah anak-anak para pengrajin.




    (Baca Juga: Peduli Lingkungan dengan Elemen Fashion)


    Selama mengembangkan bisnisnya, Denica menyadari bahwa pendidikan merupakan kunci perubahan jangka panjang. Oleh karena itu, bersama SukkhaCitta, ia menginvestasikan 100% keuntungan untuk membangun Rumah SukkhaCitta, sekolah kerajinan pertama di Indonesia, di ketiga desanya.


    Bagi Denica, inti dari pemberdayaan adalah ketika para pengrajin dapat mengubah hidup mereka sendiri dan mengambil langkah aktif untuk menjadi agen perubahan di komunitasnya. Hal tersebut dilihatnya saat berkunjung ke desa pertamanya dan melihat para pengrajin sedang bertukar pikiran untuk meningkatkan pendidikan anak-anak di desanya melalui beasiswa.



    (Penulis: Aurelia Gracia)