A Chat with Tara Basro: Trauma Cinta Terdalam


  • A Chat with Tara Basro: Trauma Cinta Terdalam
    Tara Basro, 29, mengungkap cerita di balik layar untuk cover story herworld Indonesia. (Foto: Dok/herworldIndonesia)


    Mengenal dirinya sendiri ternyata tidak mudah. Oleh sebab itu Tara Basro, 29, kini lebih mengapresiasi rangkaian kegagalan yang pernah terjadi dalam hidupnya.




    Herworld Indonesia (HW): Hai, Tara! Bagaimana antusiasme Anda menyongsong hadirnya Jagat Sinema Bumilangit pada 2020?

    Tara Basro (TB): “Tentu excited sekali! Karena bukan hanya kali pertama akhirnya Indonesia punya kelompok pahlawan supernya sendiri, melainkan juga saya lihat seluruh aktor dan sutradara sama-sama berproses dalam membuat film-film ini. Akan ada banyak sutradara hebat yang bekerja. Akan banyak pula nama besar yang belajar sama-sama untuk membuat segalanya sempurna. That’s why proyek ini berhasil jadi salah satu proyek terbesar sepanjang sejarah perfilman Nusantara khususnya yang digarap oleh Joko Anwar.”


    HW: Bicara Joko Anwar, Anda terlihat sering terlibat dalam karya-karyanya. Apa yang membuat Anda cocok bekerja sama dengannya?

    TB: “Jawabannya sederhana, karena sekarang saya sudah ada dalam fase hanya mau berkolaborasi dengan orang-orang yang satu visi. Nah selama ini, saya lihat sosok Joko Anwar adalah persona yang selalu berusaha memajukan perfilman Tanah Air dengan memasukkan unsur nilai, tradisi, budaya, dan kehidupan sosial yang sejalan dengan kondisi masyarakat Indonesia, begitu juga dengan Nia Dinata. Ini yang bikin nyaman! Saya suka dengan motivasi dan cara ia bekerja. Sebab jujur saja, saya enggak mau hanya main film yang begitu-begitu saja tanpa meninggalkan emotional impact ke penonton. Saya mau jadi jembatan bagi film-maker untuk menyampaikan ide-ide positif yang ingin ditransfer.”


    HW: Emotional impact? Maksudnya?

    TB: “Iya, jadi film-making itu buat saya menyenangkan, but it’s not just about having fun. Saya merasa punya tanggung jawab besar untuk bisa bersuara lewat karya. Mengingat Joko Anwar sendiri adalah seorang feminis yang banyak menyuarakan isu perempuan dengan coba melawan budaya patriarki yang masih merebak di masyarakat luas, saya seolah punya responsibility untuk menyampaikan itu lewat peran dan isi cerita. So, tak cuma sekadar akting, saya ingin ikut mengedukasi banyak orang.”


    HW: Berarti apakah Anda hanya ingin terlibat dalam film yang bisa dikatakan ‘serius’?

    TB: “Not at all! Saya justru ingin main film romantis! Romantic comedy is my next target. Soalnya hanya genre ini yang belum pernah saya coba. Bisa bikin orang senyum-senyum sendiri lewat light romance movie yang saya bintangi adalah salah satu keinginan yang sampai sekarang belum terwujud. Kalau untuk film Indonesia, film jenis ini yang paling saya suka adalah 30 Hari Mencari Cinta.”


    HW: Kenapa romance?

    TB: “Karena sebenarnya saya orangnya hopeless romantic.”


    HW: Seorang Tara Basro menyatakan dirinya sebagai hopeless romantic. Punya pengalaman pribadi?

    TB: “Sejujurnya perjalanan cinta saya begitu berwarna. Tidak mudah dan beberapa kali meninggalkan luka dan trauma mendalam. Saya pernah berada dalam hubungan asmara cukup lama dengan seseorang yang saya pikir akan berakhir bahagia di pelaminan. Tapi ternyata, anggapan saya salah dan harus berujung pada perpisahan yang menyakitkan. Fase ini bisa dibilang salah satu yang terberat dalam hidup di mana saya merasa betul-betul terguncang dan luar biasa sedih sampai punya efek berkepanjangan terhadap psikologis. Sulit tidur, susah makan, tubuh dipenuhi rash, dan lain sebagainya. Di situ saya baru sadar, bahwa mungkin sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, tanda-tanda bahwa relationship ini tidak akan berjalan lama itu sudah ada. Tapi saya selalu menghiraukannya hingga rela melakukan serangkaian pengorbanan untuk sesuatu yang sebenarnya sudah tidak kondusif. Kesadaran untuk lebih mendengarkan kata hati pun jadi sesuatu yang pada saat itu sulit saya terima.”



    (Tara Basro. Foto: Dok/herworldindonesia) 


    HW: Apa yang jadi pelajaran penting bagi Anda saat itu?

    TB: “Banyak. Salah satunya adalah dengan tidak mencari-cari hal yang sebenarnya ada di diri saya, di orang lain. Dengan tidak menuntut orang lain untuk jadi seperti saya dan meminta mereka untuk punya standar yang persis dengan saya ternyata hanya akan berujung heartbreak dan kekecewaan. Dari situ saya jadi tahu bahwa cara hubungan bekerja tidaklah seperti itu. Jadi, meski sekarang sudah move on, masih ada tertinggal sedikit trauma untuk memulai hubungan baru.”


    HW: Bicara tentang trauma healing, bagaimana Anda bisa merasa lebih baik?

    TB: “Wah, perjalanan ini panjang sekali karena proses move on saya pun sangat dramatis. Saking patah hatinya, saya sampai coba semua metode agar bisa menyembuhkan luka dari dalam, seperti meditasi, olahraga, sampai jadi vegan. Tapi kalau untuk kegiatan rutin, saya terbiasa menulis buku harian. Yes, handwritten. Karena dari situ saya bisa lihat diri saya dari kejauhan. Pada saat menulis, saya lepaskan semua emosi dan energi. Begitu dibaca kembali, semua terasa berbeda dengan logika. Dari situ saya baru bisa evaluasi diri. Memang, hanya masalah cinta yang bisa bikin manusia jadi begitu. The most powerful thing in the world is love!”


    HW: Jadi, apa sekarang Anda sudah mencoba untuk membuka hati pada orang baru?

    TB: “Sudah dong, tapi sampai saat ini saya sebenarnya masih mencoba untuk menjalin hubungan asmara yang kuat dengan diri saya sendiri dulu. Because being alone is actually fine! Daripada bersama orang yang salah, lebih baik saya melakukan cek dan ricek terlebih dahulu pada orang-orang yang nantinya akan datang. Jadi, sekarang saya sedang mendalami banyak hal yang bisa membuat saya merasa bahagia dan lengkap dari dalam. Tanpa itu, dengan siapa pun nantinya saya berhubungan pasti akan sulit. Dari sini saya belajar tentang defense system yang sudah saya bentuk selama proses ‘pengobatan’ hati. Karena having relationship pun harus work on yourself terutama dalam menyelesaikan unfinished business dengan orang-orang di sekitar termasuk diri sendiri.”


    HW: So now, self-love is first thing first?

    TB: “Exactly. Selama tiga tahun ini saya jadi vegan pun adalah bentuk self-love yang saya terapkan. Dulu saya benar-benar careless! Punya hubungan cinta yang bikin depresi, gaya hidup tak sehat, jarang minum air putih, tidak merawat diri, tak pernah berolahraga, sampai selalu begadang, I feel like I was killing myself slowly. Sampai akhirnya sampai pada satu titik, saya bilang pada diri saya bahwa I want to feel like myself again. Dari situ saya coba untuk stop konsumsi animal products, rajin exercise, dan semakin belajar mendengar kata hati. Buat saya metode ini cocok. Beda orang pasti berbeda pula cara self-healing nya. Jadi, temukan yang terbaik untuk kalian dan laksanakan apa pun yang bisa dilakukan untuk jadi orang yang jauh lebih baik. Satu hal lagi, untuk tetap positif, saya juga sudah berhenti speak bad things about myself karena pengaruhnya besar sekali pada pikiran dan alam bawah sadar. Start saying good thing in the morning! Karena nyatanya itu sangat membantu.”


    HW: Terakhir, punya tipe lelaki idaman?

    TB: “Yang jelas tidak boleh punya toxic masculinity personality dan harus suportif terhadap karier saya di bidang entertainment sehingga di masa yang akan datang, semuanya bisa sejalan dengan seluruh perjuangan yang telah saya lalui tadi. It wasn’t easy and I want my future to be much better anyway.”


    (Cover story herworld Indonesia edisi Januari 2020) 

    (Teks: Rengganis Parahita, Foto: Agus Santoso Yang, Pengarah Gaya Bimo Permadi, Asisten Pengarah Gaya Yolanda Deayu, Tata Rias Wajah Bubah Alfian, Tata Rias Rambut Ade Ragil, Busana Sapto Djojokartiko, dan Aksesori Tulola Jewelry)   



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below