'I La Galigo': Pertunjukan Seni yang Magis dan Sensual


  • 'I La Galigo': Pertunjukan Seni yang Magis dan Sensual
    Sutradara Robert Wilson kembali menghadirkan pertunjukan I La Galigo untuk kedua kali di Jakarta, magis dan juga sensual. (Foto: Dok/YayasanBaliPurnati)


    Layar putih menyala terang benderang. Seorang pemuda berpakaian serba kuning duduk bersila di pinggir kiri panggung. Barisan musisi lalu masuk dan duduk di bagian kanan dekat layar. Diiringi musik dari mulai alat tiup, gendang, dan gesek, satu persatu pemain teater masuk dan berjalan dari kanan ke kiri panggung. 

    Adegan pembuka itu tampil indah dengan diikuti permainan cahaya, tata panggung, musik serta koreografi yang pas. Sedikit mistis dengan bunyi-bunyian yang menyayat hati. 



    Tak lama kemudian, kisah I La Galigo yang beranjak dari epos 'Sureq Galigo' asal Sulawesi Selatan pun dimulai. Nyanyian dalam bahasa Bugis terdengar dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia muncul lewat teks di samping kiri dan kanan panggung. 

    (Baca juga: Ulasan Seni: Pertunjukan Musikal Mamma Mia!) 


    (Pementasan I La Galigo. Foto: Dok/YayasanBaliPurnati) 


    Pentas ini berkisah tentang I La Galigo, putra Sawerigading yang melegenda. Kisah ini menurutnya perlu dituturkan sebelum hilang dan tak dikenal. 

    Terdiri dari 12 babak, termasuk prolog dan epilog, I La Galigo dibuka dengan awal penciptaan Dunia Tengah. Dewa Dunia Atas mengutus Batara Guru, putranya, sementara Dunia Bawah mengirimkan putrinya We Nyiliq Timoq. Keduanya menikah dan memimpin Dunia Tengah. 

    Sempat mengalami kesulitan mendapatkan keturunan, keduanya kemudian dikarunia kembar emas, sepasang, yang dinamai Sawerigading dan We Tenriabeng. Keduanya ditakdirkan saling mencintai, tapi sebelum itu terjadi, We Tenriabeng disembunyikan agar keduanya tak bertemu. 

    Namun, suatu kali rahasia ini terbongkar. Sawerigading dewasa bertemu We Tenriabeng dan jatuh cinta. Percintaan terlarang ini ditentang keras Batara Guru. Demi keselamatan bersama, We Tenriabeng memberi sumpah agar Sawerigading mencari We Cudaiq, putri kerajaan China yang tak kalah cantik dan menjadi takdir jodohnya. 

    Meski patah hati, Sawerigading menuju China untuk menemui kebenaran yang disodorkan We Tenriabeng. Ia benar bertemu dan mengakui kecantikan We Cudaiq, tapi ternyata pernikahan tak semudah yang ia bayangkan. 

    Dari hubungannya dengan We Cudaiq, lahirlah I La Galigo. Namun, lagi-lagi takdir berkata lain. I La Galigo tumbuh menjadi anak yang manja, arogan dan suka berjudi. Dunia Tengah kacau, dan mesti dikosongkan. 

    Musik-teater

    Tampil kali kedua di Jakarta setelah pertunjukan perdananya sekitar 15 tahun lalu, pentas musik-teater I La Galigo diusung Yayasan Bali Purnati yang kali ini bekerjasama dengan Ciputra Artpreneur dan didukung Bakti Budaya Djarum Foundation. Pementasan ini berlangsung pada 3,5,6 dan 7 Juli 2019. 

    (Pementasan I La Galigo. Foto: Dok/YayasanBaliPurnati) 



    Diadaptasi dari ‘Sureq Galigo’ yang merupakan wiracarita mitos penciptaan suku Bugis, pementasan ini menggambarkan petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, pernikahan yang rumit, dan juga pengkhianatan. Elemen-elemen ini dirangkai menjadi cerita besar yang digarap dengan indah oleh Robert Wilson sebagai sutradara, dan musik oleh Rahayu Supanggah. 

    Berlangsung hampir tiga jam, I La Galigo bercerita melalui tarian, gerak tubuh, soundscape serta penataan musik. 

    Konon, untuk menciptakan ekspresi yang lebih dramatis, terdapat 70 instrumen musik yang dimainkan oleh 12 musisi, mulai dari instrumen tradisional Sulawesi, Jawa, dan Bali. Penataan bunyi dan musik ini merupakan sebuah hasil karya dan hasil kerja intensif melalui riset Supanggah.

    Menyaksikan I La Galigo memberi rasa takjub dan kebanggaan tersendiri. Takjub berkat penataan cahaya dan panggung yang begitu matang, perpindahan adegan yang mengalir dengan baik tanpa cela, serta musik yang memberi nyawa di sepanjang pementasan. Sementara, bangga, karena Sureq Galigo adalah karya sastra klasik asal negeri sendiri yang diakui dunia (masuk Memory of the World, Unesco) dan menjadi sebuah pementasan berkelas internasional yang indah. 

    I La Galigo juga menjadi bukti bagaimana sastra Indonesia dapat diadaptasi menjadi seni modern, dan dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga lebih mudah bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih menghargai keindahannya.


    (Pementasan I La Galigo. Foto: Dok/YayasanBaliPurnati) 


    Dengan banyaknya perhatian terhadap pementasan ini, I La Galigo bisa saja menjadi salah satu pentas kisah yang tak kalah menariknya dengan kisah “Mahabharata” maupun “Ramayana”. Dan seperti yang disematkan Robert Wilson dalam catatan produksinya, pentas kisah ini bisa jadi hanya awal untuk kemudian menginspirasi para pegiat teater lainnya untuk kemudian melanjutkan atau memberi interpretasi yang berbeda.