Review Film: 'Mia and The White Lion'


  • Review Film: 'Mia and The White Lion'
    Film 'Mia and the White Lion' menceritakan petualangan Mia yang jatuh cinta dengan singa putih dan memperjuangkan keselamatannya. (Foto: Dok/imdb.com)


    Film 'Mia and the White Lion' mengangkat kisah persahabatan Mia dan singa putih yang menyentuh hati sekaligus inspiratif. 

    Dibuat untuk aksi peduli pelestarian populasi singa di Afrika, film ini berhasil menggugah kesadaran, khususnya akan rentannya nasib singa hanya karena perburuan. 



    Mia, remaja perempuan yang pemberani menjadi penyelamat dan sekaligus menjadi pengingat akan kondisi yang memprihatinkan singa-singa di peternakan Arika Selatan. 

    (Baca juga: Review Film: Alita: Battle Angel) 

    Film 'Mia and the White Lion' dibuka dengan adegan Mia (Daniah De Villiers) yang tampak uring-uringan. Meninggalkan London dan tinggal di peternakan singa orangtuanya di Afrika Selatan membuat Mia mengalami sedikit goncangan. 

    Orangtuanya John Owen (Langley Kirkwood) dan Alice Owen (Melanie Laurent), serta saudara laki-lakinya Ryan McLennan (Mick Owen) tak mampu menghibur Mia yang pundung. Hingga suatu kali singa putih lahir di peternakan. 


    (Mia and The White Lion. Foto: Dok/imdb) 


    Menjadi berbeda dari singa biasanya, Charlie demikian ia diberi nama perlahan-lahan mencuri perhatian Mia. Dari awalnya menolak dan enggan bermain dengan Charlie, ia mulai tergugah. Tiga tahun berlalu, Mia tak bisa lepas dari Charlie. 

    Namun, seperti kata ayahnya John, binatang buas seperti singa tetaplah singa. Dia berisiko memangsa siapa saja saat dewasa. Namun, Mia tetap bersikukuh bahwa Charlie berbeda. Satu demi satu persoalan muncul ke permukaan. 

    Dan Mia dihadapkan pada persoalan perburuan singa putih untuk kesenangan. Charlie adalah target berikutnya. Demi melindungi singa putih yang sudah kadung dicintainya, Mia mengambil keputusan berani, kabur menyelamatkan Charlie dengan segala cara. 

    Upayanya tidak mudah. Mia dan singa putih Charlie menjadi incaran banyak pihak, dari mulai kepolisian hingga para pemburu. 

    (Baca juga: Review Film: Happy Death Day 2U)

    Drama keluarga Mia dan singa putih menambah daftar panjang film yang menampilkan persahabatan erat manusia dengan binatang. Kali ini bukan sekadar persahabatan biasa, tapi ada pesan yang ingin disampaikan di dalamnya. Pesan akan kesadaran sekaligus kritik akan peternakan singa di Afrika Selatan. 


    (Mia and The White Lion. Foto: Dok/imdb) 


    Sutradara Gilles de Maistre menyampaikan pesan itu lewat drama yang menyentuh hati. Karakter Mia, remaja perempuan yang awalnya hanya berpusat pada dirinya lalu menjadi sangat peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. 

    Mia juga menjadi seorang yang berani mengambil keputusan akan apa yang ia yakini benar, termasuk menentang orang-orang yang ada di sekitarnya. Keberanian Mia menjadi simbol dan ajakan bagi publik (dalam hal ini penonton) untuk sama-sama berbuat hal serupa. Menghentikan perburuan dan menjadikan singa sebagai tropi. 

    Akting Daniah De Villiers sebagai Mia cukup meyakinkan. Meski di awal tampak ragu, namun interaksinya dengan singa putih Charlie selalu menjadi adegan yang layak tunggu. Menggemaskan sekaligus menyentuh hati. 

    Drama keluarga Mia dengan ayah, ibu dan saudara laki-lakinya juga menjadi nilai tambah dalam pengembangan skenario. Yang menjadi bumbu pelengkap sekaligus membuatnya menarik untuk disimak. 

    Film Mia and the White Lion tayang di bioskop mulai 27 Februari 2019.





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below