Semangat Pahlawan Kemerdekaan di Film 'Sultan Agung'


  • Semangat Pahlawan Kemerdekaan di Film 'Sultan Agung'
    Beranjak dari latar sejarah, film 'Sultan Agung' mengangkat kisah perjuangan dengan balutan romansa sosok pahlawan kemerdekaan Indonesia. (Foto: Dok/MooryatiSoedibyoCinema)


    Bertepatan dengan peringatan hari jadi Indonesia yang ke-73 tahun ini, film 'Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta' hadir dengan mengusung semangat pahlawan kemerdekaan.

    Film drama kolosal sejarah ini mengangkat kehidupan dan perjuangan Sultan Agung, Raja Mataram legendaris di abad ke-17 yang mengabdikan hidupnya melindungi rakyat dari penjajahan bangsa-bangsa asing. 



    Diproduksi Mooryati Soedibyo Cinema, film ini diputar perdana di Bioskop Epicentrum XXI, Jakarta, pada akhir pekan lalu. Hanung Bramantyo sebagai sutradara didukung sejumlah aktor ternama Indonesia, antara lain Ario Bayu, Anindya Kusuma Putri, Adinia Wirasti, Marthino Lio, dan Putri Marino, serta Christine Hakim. 

    "Film ini membawa pesan amanah pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terutama tuntunan dan nilai-nilai perjuangan yang tertuang dalam kisah kehidupan Sultan Agung,” ungkap Mooryati Soedibyo, pendiri Mooryati Soedibyo Cinema, seperti pernyataan yang diterima redaksi her world Indonesia. 

    (Baca juga: Kulari ke Pantai: Film Segar yang Sarat Pesan Moral)

    Lebih jauh Pendiri dan Presiden Direktur Mustika Ratu Group serta pendiri Yayasan Putri Indonesia itu juga menambahkan, film Sultan Agung merupakan wujud persembahan bagi masyarakat Indonesia, dan sekaligus upaya untuk mewariskan sejarah dan kekayaan warisan budaya bangsa kepada generasi masa kini. 

    “Upaya menjaga semangat perjuangan dan amanah pahlawan agar tetap hidup di masyarakat adalah tanggung jawab bersama kita semua, dengan berkarya melalui tema-tema yang memiliki semangat nasionalisme, agar film Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, serta menjadi tamu kehormatan di mancanegara,” ungkap Mooryati.


    (Pemutaran perdana film 'Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta' di Jakarta. Foto: Dok/Mooryati Soedibyo Cinema)


    Film ini, kata Hanung, menceritakan perjuangan Sultan Agung memerintah Mataram sesuai dengan cita-citanya, dan upayanya mengatasi rintangan-rintangan serta konflik yang timbul dalam kerajaannya. Yang menarik dari kisah Sultan Agung adalah bagaimana ia memiliki jiwa dan semangat juang yang tidak mau berkompromi dengan penjajah.

    “Sikap beliau yang tanpa kompromi itulah yang saya berusaha hadirkan, dan sampai kini masih saya junjung tinggi,” tegas Hanung. 

    Kisah heroik dan romansa

    Film 'Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta' menuturkan kisah hidup Sultan Agung.

    Setelah ayahnya, Panembahan Hanyokrowati meninggal, Raden Mas Rangsang yang masih remaja menggantikannya dan diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. 

    Ini adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mudah. Sultan Agung harus menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai berai oleh politik VOC yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen, di bawah panji Mataram.  Di sisi lain, ia harus mengorbankan pula cinta sejatinya kepada Lembayung dengan menikahi perempuan ningrat yang bukan pilihannya.

    Kemarahan Sultan Agung kepada VOC memuncak ketika ia mengetahui bahwa VOC tidak memenuhi perjanjian dagang dengan Mataram dengan membangun kantor dagang di Batavia. Ia pun mengibarkan Perang Batavia sampai meninggalnya JP Coen dan runtuhnya benteng VOC. Selama perjuangan ini, Sultan Agung juga harus menghadapi berbagai pengkhianatan yang terjadi padanya.

    Dari deretan pemain, Ario Bayu didapuk sebagai Sultan Agung, dengan Anindya Kusuma Putri sebagai Permaisuri Ratu Batang, dan Adinia Wirasti sebagai Roro Lembayung, teman dekat Sultan Agung muda saat ia menuntut ilmu di Padepokan Ki Jejer. 


    (Salah satu adegan film 'Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta'. Foto: Dok/Mooryati Soedibyo Cinema)


    Set Film Sultan Agung

    Untuk kebutuhan pengambilan gambar film 'Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta', rumah produksi membangun set sendiri di Desa Gamplong, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Set yang dikabarkan dibangun sejak 2017 itu terdiri dari Pendopo Keraton Mataram, Songgo Mataram, Benteng VOC, Jembatan Ungkit, Kampung Mataram, dan Kampung Pecinan. Bangunan tersebut berdiri di atas lahan desa milik pemerintah Desa Sumber Rahayu, yang memberikan izin (ipt/ipl) lahan tersebut kepada pengelola selama 20 tahun.

    Pada 15 Juli lalu, bertepatan dengan hari jadinya yang ke-90 tahun, Mooryati Soedibyo menghibahkan bangunan set film Sultan Agung tersebut kepada masyarakat Indonesia. Prakarsa tersebut merupakan upaya Ibu Mooryati Soedibyo untuk menyampaikan amanah pahlawan-pahlawan nasional kepada masyarakat Indonesia serta membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di Desa Gamplong.

    Film 'Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta' dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada 23 Agustus 2018.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below