Elin Waty: Jangan Menyerah, Selalu Ada Jalan


  •  Elin Waty: Jangan Menyerah, Selalu Ada Jalan
    Elin Waty, (Foto: Qalbi)

    KECELAKAAN. Satu hal yang tak bisa kita tebak, baik itu kapan dan di mana terjadi. Tapi satu hal yang pasti: jika sampai terjadi akan ada biaya yang keluarkan – diluar anggaran yang kita sudah buat.


    Bila seseorang  sampai mengalami kecelakaan, biasanya banyak yang tak menyediakan uang untuk membayar pengobatan. Permasalahannya, bagaimana kalau kecelakaan tersebut membuat Si pencari nafkah tak bisa bekerja lagi, sekonyong-konyong kesejahteraan keluarganya akan menurun.  




    Mengapa? Karena tak ada lagi pemasukan, dan anak-istri jadi hidup susah. Apakah untuk membiayai sekolah anak atau makan.


    Agar tak mengalami masalah tersebut, asuransi jiwa bisa jadi solusi. Sebab, mereka bisa mengkover segala biaya-biaya pengobatan lantaran pencari nafkah mengalami sakit berat yang tidak bisa berkerja lagi. 


    Dan salah satu orang yang punya peran penting dalam memberi solusi tersebut ialah Elin Waty. Sebab, dia merupakan CEO Sun Life Financial Indonesia dengan 183 kantor pemasaran yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan jejaring kantor Sun Life yang sudah menyentuh ke kota terkecil di Indonesia, memudahkan orang untuk ikut berasuransi atau mengklaim. 


    Menariknya, dia merupakan wanita pertama yang dipilih sebagai CEO dari Sun Life Financial global untuk memimpin Sun Life Financial di Indonesia dari kiprahnya selama 150 tahun. Sementara, sedikit sekali wanita yang kariernya bisa mencapai level CEO, pejabat eksekutif tertinggi di perusahaan. 


    Tentu menarik mengetahui perjalanan kariernya bisa sampai di titik ini: bagaimana sepak terjangnya hingga bisa menjadi CEO; faktor apa yang membuat dia mencapai posisi tersebut; dan menjawab tantangan asuransi di era digital saat ini. Barangkali ada yang kita bisa adaptasi agar kita bisa sukses secara karier – seperti dia.



    Kebetulan disela waktu sibuknya, ibu Elin – sapaan akrabnya – bersedia sharing perjalanan kariernya. Dan seperti yang kami duga banyak insight yang bisa kita ambil. 


    Nggak percaya? Simak saja obrolan di bawah ini sampai habis.



    Bila harus dideskripsikan, bagaimana sih awal perjalanan kamu sampai akhirnya jadi sekarang?


    Saya kerja begitu tamat kuliah. Saat selesai sidang, besoknya langsung kerja. Masuk di perusahaan asuransi, dan mulai karier dari bawah. Saya dulu tinggal di Pejompongan, yang kalau kerja naik bemo setiap hari. Dan sekarang sudah bekerja selama 24 tahun. Dan saya masih enjoy.


    Lalu sampai memutuskan berkarier jadi seorang profesional di perusahaan asuransi, mengalir begitu saja atau justru terjebak? 


    Dari SMA saya putuskan bahwa saya harus masuk jurusan sosial. Saya ingin cepat selesai kuliah, dan tidak menyusahkan orang tua. Saya ingin kerja di bank. Dulu kan kerja di bank keren banget.


    Jadi, dulu tante saya nawarin kerja di asuransi, terus saya masukin lamaran dan diterima. Dulu, saya mikirnya, kayaknya bayaran untuk asuransi bagi anak baru lulus lumayan: 700 ribu. Saya dulu masuk kerja termasuk muda, umur 21,5. 


    hmm rekomendasi tante…, Reaksi keluarga sendiri?


    Iya, dari tante. Orang tua nanya: “Kamu pengen kerja di mana?” saya jawab, “Saya ingin kerja di perusahaan yang bisa bikin saya keliling dunia”


    Terus sekarang?


    Sampai enek malah. Haha. Travelling mulu. 


    Mantap…, Kalau kata orang mah gumoh ya, ha-ha-ha. 


    Tapi, dalam artian mengedukasi masyarakat seputar literasi finansial. Hehe. Harus diakui, pengetahuan masyarakat tentang finansial dan asuransi kurang.


    Mhh gitu..., Tetapi dalam perjalanan karier sampai menjadi CEO, kamu sendiri pernah mengalami ‘aha moment’ nggak? Sebuah langkah berani atau langkah dari perubahan positif hingga menjadi seperti sekarang? 


    Dulu kerjaan awal saya, salah satunya bayarin gaji orang, sesudah jalan setahun saya ngerasa “Kok kayaknya ini bukan saya ya?” Setelah itu saya ingin resign dan memutuskan cari kerja yang lain saja. 


    Saya juga pernah nyobain jadi MC (master of ceremony). Akhirnya saya pindah. Saya merasa saya adalah orang yang suka berinteraksi dengan banyak orang.


    Momen kedua saya: saya orangnya ambisius dan pekerja keras. Saat orang pulang jam 5, saya masih mikir apa lagi yang bisa saya kerjakan. Lalu saya ikut sebuah training, dan itu mengubah saya banget. 


    Dalam traning itu kita disuruh tutup mata. Dia menyebutkan tanggal-tahun dan membayangkan perkembangan karir kita; kita sudah jadi apa. 


    Terus, dia menghitung maju – tahun demi tahun. Sampai kita nggak sadar bahwa kita berada di depan gereja. Lalu kita masuk, dan melihat ada peti mati di depan kita. Dan ternyata, isi peti yang ada didalam itu kita.


    Terus, kita duduk. Kemudian, trainer itu bertanya,”Apa yang kamu dengar dari pasanganmu?”


    Saat itu yang saya dengar saya seorang ibu yang baik, saya selalu memastikan anak-anak makanan tersedia, memastikan rumah bersih, dan mendukung kariernya dia. Itu yang saya dengar dari suami saya. 


    Yang saya dengar dari anak-anak saya waktu itu adalah "Mama itu sesibuk apapun selalu memastikan sekolah kita bagus", "Mama itu selalu kalau berhubungan dengan pendidikan pasti support", " Mama memastikan kita makan dengan benar". Yang saya dengar itu. Tapi saya tidak mendengar, “Mama selalu meluk kami pada saat kami butuh.” 


    Nah dari atasan, sama (penilaiannya). Dari karyawan saya konsisten di kepala saya, bahwa saya kalau saya pekerja keras, strong, dan fair. Saya mikir, kalau saya mati masa orang cuma kenal saya kaya gitu saja sih. 


    Sejak saat itu, saya mencoba mengubah sedikit demi sedikit diri saya. Saya mengerti kalau karier kita tidak harus kita capai untuk diri sendiri. Tapi juga dari orang-orang di sekitar kita yang membuat kita kuat.


    Setuju. Karena kami pun percaya hasil luar biasa itu datang dari kerja sama, pencapaian luar biasa nggak mungkin lahir dari satu orang. Tapi konkretnya kaya gimana yang mengubah sedikit demi sedikit itu ? Dan, ngukurnya gimana kalau apa yang kamu lakukan sudah berhasil? 


    Banyak banget. Misal, kalau ada pekerjaan, saya tahu nih kalau saya kerjain sejam selesai. Tapi kan kita harus kerja tim. Iyaudah, jadinya saya harus manggil tim buat menyelesaikan pekerjaan tersebut. 


    Dan pas awal-awal, kesal banget. Karena pasti balik lagi: salah lagi, salah lagi. Tapi, ini jalan yang harus lewati, bahwa saya harus memiliki kepercayaan terhadap tim. 


    Jadi, saya kumpulkan dan suruh duduk. Saya lalu jelaskan: kamu itu salahnya ini, kurangnya ini. Dan setelah itu mereka akhirnya ngerti, dan setelah pekerjaan yang mereka pegang tidak salah lagi.


    Terus, saya juga kadang ngajak mereka ngopi bareng. Tapi saat ngopi, saya tidak pernah ngomongin pekerjaan. Saya bertanya tentang kehidupan pribadi mereka, keluarga mereka bagaimana, atau topik yang ringan-ringan. 


    Nah, itu bisa membuat kita bisa mengerti cara berpikir orang, kita bisa tahu ini orang bisa dimotivasi dari sisi mana. 


    “Ah, ibu mah enak CEO. Pasti kebutuhan tercukupi?”


    “Lha, saya juga pernah kaya kalian” saya bilang gitu. Saya pernah cerita ke mereka kalau saya pernah cuma megang uang 50 ribu untuk satu minggu lagi menjelang gajian. Itu setiap malam saya makannya cuma indomie telor. 


    Nah, di sini saya mengajari ke mereka kalau kamu mau hasilnya ini, caranya begini. Seperti memberikan mentoring kepada mereka gitu. 


    Buat saya, perubahan ini loncatan besar dalam diri saya lho. Karena dulu saya suka mikir yang kaya begini “haduh, ngabisin waktu saya aja”. Saya tuh lebih suka ngisi waktu dengan baca – untuk ngembangin potensi diri sendiri.


    Dan, bagian tersulit bagi saya itu ialah mengambil alih pekerjaan. Tapi, karena kita lebih sering latihan, jadi kita terbiasa. 


    Setuju. Sampai akhirnya punya chemistry dengan karyawan kita, mungkin? Yang kalau ngomong sedikit saja mereka sudah tahu mau kita? 


    Betul. Soalnya bagi saya karyawan itu seperti keluarga. Mungkin karena saya seorang perempuan – seorang ibu. jadi ‘perut’ (Red: gaya kepemimpinan) saya itu 'perut' seorang ibu.


    Mhh… Tapi kan kalau orang yang ambisius tidak semudah bisa melepaskan kan awalnya. Karena, biasanya kalau pekerjaan yang dikasih nggak rapih, biasanya suka ngomel?


    Saya tipenya bukan ngomel, tapi sinis seperti ‘Aduh, ini kayanya nggak bisa kerja sekali selesai nih’. Dan itu yang selalu saya kontrol banget supaya jangan gampang sinis. 


    Nice…, Sampai sejauh ini, untuk urusan pekerjaan sepertinya selalu lancar. Kalau momen soal momen yang membuat kamu down atau yang menguji karir kamu ini, ada nggak? 


    Yang lebih sulit, secara personal, bagi saya: anak saya. Karena, dulu kan mereka masih kecil. Jadi, butuh banget kehadiran kita. 


    Oh, lebih ke anak ya? Semacam ada perasaan campur aduk kalau mereka ngehubungi kita dan butuh kita, tapi kita nggak bisa di samping dia – buat bantuin dia. Gitu ?


    Iyaa.., Terjadi pergolakan emosi saat itu. Terlebih, saya sadar, selama ini kalau saya sudah kerja bisa lupa anak...


    Hm…


    Dan akhirnya saya pernah pindah ke perusahaan deket rumah. Karena waktu itu anak saya yang paling besar mengalami sulit belajar. Jadi, dia tuh susah untuk belajar. Disuruh menghafal susah banget gitu. Dan ada selama hampir 3 tahun cuti saya habis untuk ujian anak. 


    Pas saat ujian, saya mengambil cuti setengah hari. Pagi pas dia ujian saya kerja, nanti after lunch saya pulang karena dia sudah selesai ujian. Pas dia sudah pulang terus saya yang ngajarin. Dulu kan anak SD ada mid semester. Lima hari gitu, kan


    Nah, cutinya saya setengah-setengah hari akhirnya habis deh cuti saya buat ngajarin anak doang. Tapi saya jalanin, karena saya tahu kalau pada titik itu kalau saya nggak spare waktu buat anak saya, ke depannya dia akan susah. Karena saya harus membantu dia menemukan pola belajar dia yang lebih nyaman buat dia. 


    Terus…


    Dan saya harus ada di situ untuk bisa menemukan pola itu. Jadi, tidak sampai satu titik di mana saya harus memutuskan saya berhenti kerja apa nggak. Saya tahu saya tidak bisa berhenti kerja. Tapi, satu titik, saya tahu bahwa saya harus mencari pekerjaan yang traveling-nya lebih sedikit, yang lokasinya lebih deket rumah. Karena memang anak butuh saya. 


    Hmm tidak berhenti bekerja, ya.. Pasti berat ya mengatur waktu agar seimbang sebagai ibu dan karyawan?


    Saya orangnya lebih suka mencari solusi. Bukan menyerah sama keadaan. Jadi awal-awal, waktu itu saya kerja di daerah Kuningan (Jakarta), rumah saya di Gading Serpong. Jadi anak saya bilang, “Ma, jangan pulang malam malam ya, aku besok mau ujian. Aku butuh mama bantuin”. “Iya”, jawab saya. Tapi pas aku sampai rumah dia udah tidur loh, ketiduran di meja belajarnya. 


    Di situ momennya saya mikir gini: apa sih yang mesti saya lakukan kalau saya kaya gini terus nggak benar. Akhirnya saya cari tempat kerja lain. Saya cari tahu, “Oh benar ya ada perusahaan satu yang dekat rumah.” 


    Akhirnya, iyudah, saya coba masukin CV, terus saya ditanya “Kamu mau pekerjaan apa?” terus saya jawab, “Kalau boleh maunya kerjaan yang nggak banyak travelling dulu deh, karena saya ingin kasih waktu yang banyak dulu buat anak saya.”


    Dan syukurnya diterima. Nah itu kantornya dekat banget dari rumah, Cuma 20 menit. Jadi walaupun saya pulang lembur dari kantor, setengah 7 gitu, jam 7 sudah sampai rumah. Apalagi kalau saya pulang setengah 6. Jam 6 sudah ada di rumah.


    Hmm… Tapi sekarang kan di Kuningan-Jakarta lagi kantornya. Kok anak-anak bisa rela?


    Jadi waktu saya pindah ke Sun Life, saya minta waktu di rumah duduk di meja makan. Terus saya bilang, “Mama dapat tawaran kerja nih dari Sun Life, posisinya ini, tapi konsekuensinya adalah mama bakal sering travelling.” Karena kondisinya waktu itu saya megang distribusi. 


    Anak saya yang besar ini sudah kelas 1 SMA. Terus dia bilang, “Ambillah, Ma. Mama kan selama ini sudah nahan diri mama buat aku. Aku udah bisa belajar sendiri kok”. 


    Dan memang iya. Jadi, pas begitu SMP, akhirnya saya menemukan kalau anak saya yang besar itu tipikal yang tidak bisa disuruh, “Eh, ini buku hapalin”. Nggak bisa gitu dia. Jadi, dia harus dijelasin dulu. 


    Dia tipikal yang harus membayangkan hal yang besar dulu. Diajari dulu. Kemudian saya ajarkan cara menghafal, “Nih kamu nanti ngafalnya gini ya nak, pake gambar.” 


    Akhirnya dia menemukan pola belajarnya sendiri. Malah pas SMP sudah bisa dikatakan saya sudah tidak pernah lagi membantu dia. Dan sejak itu saya tidak pernah lagi ngajarin dia. Makanya pas cerita ada tawaran, dia bilang, “Ambillah, Ma.” 


    “Terus adikmu?” timpal saya. Itu karena batin saya belum sepenuhnya lantaran anak saya yang besar sama yang kecil itu bedanya hampir 8 tahun. “Adikmu gimana? “ Tanya saya lagi. 


    Dan kamu tahu apa jawabannya? Dia bilang, “Kan ada aku. Jadi kalau dia ga bisa, aku bisa ngajarin kok.”

      

    Beuh! Apa yang ada di benak ibu saat anak kamu berkata itu? 


    Yes, saya saya sudah mendidik anak saya dengan benar. Ha-ha-ha


    Jiahahaha. Mantap... tadi, jujur, saya sempat merinding lho. Untuk ukuran kelas 1 SMA itu pendewasaan yang datang lebih awal lho – dewasa sebelum waktunya. Tapi, apa iya hanya sekadar ‘yes, berhasil’ luapan emosi saat itu?


    Ya, senang saja. 


    Sudah? Mungkin, ada perasaan emosional yang muncul saat mendengar itu?


    Hmmm..


    Apa kamu orang yang termasuk jago mengelola emosi ?


    Saya mungkin wanita aneh, logis, dan sering mikir “Emang kalau nangis ada yang bantuin?” Paling cuma bilang ‘kasihan’. Terus, tetap aja kita juga yang nyari solusi sendiri. 


    Hmm kamu termasuk orang yang tough ya..., Salut! Nah, kalau selama berkarir ini dan menjadi CEO, value apa yang kamu perjuangkan, baik dari aktivitas atau karya yang dihasilkan?


    Satu, saya tipikal orang yang nggak gampang nyerah. Mungkin karena saya datang dari keluarga nggak punya. Jadi buat saya, saya nggak mengenal kata ‘nggak bisa’ dan ‘nggak mungkin’. Karena buat saya yang paling penting itu adalah walau kita nggak bisa, kita sudah tahu kita sudah mencoba segalanya.


    Kita bisa mungkin bohongi orang, tapi kita nggak bisa bohongi diri sendiri. Yang penting kita sudah coba. Saya nggak gampang menyerah. 


    Kedua, saya dari dulu punya prinsip jabatan itu amanah. Yang buat saya beda sama staf hanya responsibility (Red: tanggung jawab) saya lebih besar dari mereka. Itu saja. di luar itu saya sama. Kita sama sama kerja, kita sama sama ingin maju. Bedanya, tanggung jawab saya lebih besar dari mereka. 


    Makanya, kadang-kadang staf mungkin suka tercengang sendiri gitu sama saya, karena saya modelnya ga ada gap sendiri sama karyawan. Buat saya, keluar dari kantor mau berteman, mau gini, yaudah kita sama. 


    Itu mungkin membuat staf bisa merasakan bahwa konsep itu membuat saya menjadi contoh, kalau saya adalah pemimpin yang mau dekat sama mereka. Dan mau melakukan pekerjaan yang biasanya orang lain tidak mau lakukan.


    Contohnya ?


    Contohnya saat ada event, kalau kursi nggak pas dan mesti dirombak, saya mau ikut angkat kursi bareng-bareng mereka. Kalau buat staf yang jarang melihat saya sehari-hari, mungkin mereka akan bilang, “ih, kok CEO mau ya kaya gitu?”. Seperti yang saya bilang tadi, perbedaan saya dan mereka bedanya cuma responsibility


    Itu yang dua hal yang selalu saya junjung banget. Pertama: jangan menyerah deh, pasti ada jalan. Yang penting kita sudah coba. Kedua: Apapun posisi kita, ingat beda kita sama orang lain itu cuma jabatan. Selain itu, tidak ada hal lain yang membedakan.


    Menarik…


    Setiap bulan saya adain breakfast bareng karyawan. Mereka boleh registrasi sekitar 15 orang. Jadi mereka boleh tanya apa aja. Jadi itu open forum buat karyawan. 1 bulan 2 kali kita lakukan hal itu, dan sudah 3 tahun saya lakukan sejak jadi CEO. Sekarang yang ikut sudah banyak.


    Pernah ada karyawan yang bertanya, “Bagian apa sih yang paling penting di sebuah perusahaan, Bu?” Lalu saya merasa pertanyaan ini mungkin pertanyaan semua karyawan, bukan satu orang saja. Jadi saya kumpulkan mereka semua ke hall


    Lalu saya jelaskan: Perusahaan kayak tubuh manusia. Ada otak, mata, kaki, tangan, dan lain-lain. Apakah mata berani klaim saya lebih penting dari tangan. Nggak ada tangan susahkan kita? Apakah Jantung berani klaim kalau saya lebih penting dari telinga? Kalau nggak ada telinga susah juga hidup kita. 


    Atau yang paling drastis deh, yang paling bertolak belakang, apakah otak berani klaim lebih penting dari anus? Coba kalau anus nggak ada? Susah nggak hidup kita? 


    Jadi, saya jelaskan kalau organisasi itu sebenarnya seperti tubuh manusia. Ada bagian yang berbeda beda, setiap bagian itu memainkan peranan yang sama pentingnya. Tidak ada satu bagian pun yang lebih penting dari bagian yang lain. 


    Dan jika ada satu bagian yang tidak melakukan tugasnya dengan benar, seluruh tubuh akan merasakan akibatnya. Akhirnya di situ mereka bisa mengerti. Saya harus banyak kasih contoh kaya gitu karena karyawan kita banyak milenial.


    Mantap! Ini yang membuat kamu bisa mencapai posisi ssekarang ini?


    Bisa dibilang gitu. hehe



    Makin menarik... Terkait dua value kamu dan kehadiran Sun Life yang sudah 23 tahun di Indonesia ? Apa yang sudah kamu berikan? 


    Sun life di Indonesia sudah 23 tahun, bulan mei kemarin. Tahun ini sudah 3.5 tahun saya jadi CEO. Ada beberapa hal yang spesifik dilakukan: 


    1. Memperluas strategi multi distribution. Kita bentuk dedikatif agensi syariah. Jadi orang itu direkrut benar-benar dilatih, dikasih knowladge untuk berjualan produk syariah. 


    Kita juga yang pertama bekerjasama dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Memastikan program asuransi bisa diwakafkan, dan kita berhasil. Walaupun waktu itu MUI bilang, “Ini kalau Sun Life mau bikin workshop, kalau nanti mau di-approve, approve ke semua ya?” 


    “Iya gapapa,” kita bilang gitu. Karena memang tujuannya buat sosial. Jadi dari distribusi agensi syariah, mungkin kita yang pertama dan satu satunya yang punya dedikatif syariah yang distibusi khusus syariah.


    2. Mengubah strategi agar bisa masuk kota ke 2 dan kota ke 3. Nggak yang cuma fokus di pulau Jawa. Saat ini, kita sudah ada di 183 kota. Kita sudah masuk ke kota-kota kecil. Kita sudah ada di kota Bau-Bau, sampai ke Bima dan Taliwang.


    Ya, memang kita sudah masuk ke kota-kota kecil kayak gitu. Menurut saya itu bagian dari strategi kita, tapi juga salah satu cara kita supaya masyarakat itu punya akses yang lebih baik pada asuransi jiwa. Kita juga berusaha melakukan edukasi mengenai finansial asuransi yang berbeda. 


    Sosial media kita ada, artikel di portal juga up to date. Kami juga buat aplikasi, My Sun Life untuk memudahkan mendaftar asuransi dan mengklaim. Kemudian, kita pernah kerja sama dengan beberapa universitas untuk memberi training, dan kita juga kerjasama dengan bloger. 


    Dari apa yang kita lakukan, memang, kita coba untuk mendukung program bagaimana caranya supaya penduduk Indonesia lebih banyak mengenal asuransi. Terakhir, kita kerja sama dengan TCASH Telkomsel dengan jualan asuransi melalui handphone. 


    Dengan premi cuma Rp7500. Kita ingin orang orang tuh punya akses lebih banyak terhadap asuransi.


    Dengan semua kerja-kerja itu, optimis bisa mengubah kehidupan masyarakat jadi mapan finansial dan sejahtera sosial hanya dari asuransi seperti spiritnya Sun Life?


    Harus. Disitu tantangannya memang.


    Terakhir. Kalau bicara harapan, apa harapan kamu ke depan? 


    Saya itu adalah CEO. Buat saya sendiri ini adalah beban moril karena saya harus bisa membawa perusahaan ini sukses. Kalau nggak, takutnya nanti pihak asing menilai orang Indonesia tidak bisa memimpin dengan baik. 


    Saya pribadi, benar-benar ingin kehidupan semua orang berubah. Saya tahu kalau saya bisa membuat perusahaan ini lebih baik. Maka, kita punya kesempatan lebih banyak buat karyawan.


    Memang sejauh ini apa yang berubah? Apakah kesalahan pemahaman persepsi yang dipegang oleh masyarakat Indonesia?


    Mereka masih mikir bahwa asuransi itu mahal. Padahal premi cuma Rp7500. Coba dapat apa kita dari harga segitu? Itu kan kecil. Permasalahannya, orang Indonesia itu suka beli yang mereka nggak butuhkan. 


    Misal, mereka berobat di Indonesia tapi ikut asuransinya yang global. Kan namanya nggak sesuai kebutuhan. Kaya kamu beli mobil Ferrari tapi dipakai di Jakarta yang macet, ya nggak bakal bisa ngebut.


    Sip-sip… Mantap… 



    Tapi, paham nggak maksudnya? hehe



    Paham-paham… Makasih atas sharing dan waktunya.



    Sama-sama…



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below