Review Film: 'Robin Hood'


  • Review Film: 'Robin Hood'
    Taron Egerton berperan sebagai Robin Hood. (Foto: Dok/imdb.com)


    Film 'Robin Hood', si ahli panah yang murah hati itu kembali lagi, tapi kali ini dibawakan aktor Taron Egerton. Sukses sebagai Eggsy di Kingsman, aksi Egerton hampir kurang lebih sama, dan membuat Hood tampil lebih muda dan enerjik. 

    Dibuka dengan narasi bahwa kisah ini bukanlah kisah yang pernah ada, dan mengusung kebaruan, Robin Hood menjadi ladang bagi Egerton menujukkan kepiawaian aktingnya menjadi lead dari film yang selalu ditunggu banyak orang. 



    Di bawah arahan sutradara Otto Bathurst, Robin Hood hadir lebih kekinian dengan segala efek visualnya. Hanya saja sayang, lemah dalam penceritaan dan penggarapan, sehingga tak lebih sekadar sambil lalu yang akan mudah dilupakan, dan berlalu begitu saja. 

    (Baca juga: Review Film: Overlord) 

    Cerita dibuka dengan narator yang mengungkapkan 'lupakan sejarah.' Ini adalah kisah legenda asal Inggris dari sudut pandang berbeda. Robin of Loxley (Taron Egerton) adalah seorang bangsawan di abad 12 yang tinggal di kastil di Nottingham. Pertemuan tak sengajanya dengan pencuri perempuan, Marian (Eve Hewson) membuatnya jatuh cinta. 

    Namun, Robin diminta ikut wajib militer, berperang di Irak, dan terpisahkan dari Marian. Janji untuk kembali membuatnya mendapati kisah lain. Marian tak lagi sendiri begitu ia kembali, tapi menjadi pasangan dari Will 'Scarlet' Tillman (Jamie Dornan). Namanya pun sudah dihapus karena dianggap tiada di medan perang. 


    (Film Robin Hood. Foto: Dok/imdb.com)


    John (jamie Foxx) mentor yang sebelumnya ia temui saat berperang di Irak mendampingi dan menjadikan ia mahir dalam memanah, dan menolong yang lemah. Lawannya tak lain adalah Sheriff Notingham (Ben Mendelsohn) yang punya agenda terselubung dalam menaikkan pajak dan merenggut kebebasan masyarakat. 

    Robin yang kini mengenakan penutup kepala (hood) tak lagi hanya mencuri koin untuk dibagikan pada yang lemah, tapi memimpin pemberontakan untuk melawan penguasa yang semena-mena. Berhasilkah?  

    (Baca juga: Review Film: Firstman) 

    Dari segi action, Robin Hood cukup menghibur dan penuh adegan aksi yang menarik sepanjang film. Salah satu adegan yang menarik itu ketika Hood menyelamatkan diri dari kejaran para pasukan Sheriff dengan kereta yang melintas di antara pemukiman pertambangan. 

    Aksi melompat di udara dan melayangkan anak panah dalam slo-mo bisa jadi menarik tapi jika terlalu sering bisa jatuhnya berlebihan. 

    Dari segi pemeran, Egerton bermain asik di film ini. Foxx dan Mendelsohn mestinya bisa dapat porsi dan karakter lebih kuat. Akting Eve Hewson juga masih tak mendukung, meski ia sebenarnya bisa saja menjadi sosok inspiratif yang kuat dan tak pasif. 


    (Film Robin Hood. Foto: Dok/imdb.com) 


    Kelemahan di beberapa elemen lainnya tak mendukung untuk menjadikan Robin Hood sebagai satu keseluruhan film yang utuh untuk dinikmati dan diingat. Beberapa karakter justru membuat dahi berkerut, seperti sosok John yang jadi mentor Robin Hood yang dari Irak ke Inggris dan memahami sistem politik dan rahasia tersembunyinya. 

    Beberapa adegan juga tak mengusung kebaruan, bahkan mengingatkan pada adegan serupa atau meng-copy beberapa adegan yang pernah ada dari film sebelumnya. Termasuk adegan akhir atau ending cerita yang menandakan bahwa akan ada sekuel dari kisah Robin Hood. 

    Namun, bagi penggemar berat Robin Hood, adegan memanah yang khas dari Hood bisa jadi cukup menghibur. 

    Film 'Robin Hood' tayang di bioskop Indonesia mulai 20 November 2018.




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below