Review Film: 'Overlord'


  • Review Film: 'Overlord'
    Overlord hadir sebagai film action-thriller yang menegangkan dari awal hingga akhir film. (Foto: Dok/BadRobotProduction)


    Dengan nama besar JJ Abrams (Cloverfield, Mission Impossible, Star Trek, Star Wars) yang duduk sebagai produser, film 'Overlord' menjanjikan untuk ditonton. Berdurasi dua jam, film action-thriller berlatar perang dunia kedua ini memberi intensitas ketegangan yang membuat bergidik sepanjang film. 

    Disutradarai Julius Avery (Son of a Gun), film ini menggabungkan antara kekejaman tentara Nazi yang brutal, dengan proyek eksperimen yang melahirkan prajurit zombie yang tak kalah sadis dan mengerikannya. 



    Selama hampir dua jam, cerita dibangun dengan ketegangan yang terukur, yang membuat napas tertahan saking seramnya. 

    (Baca juga: Review Film: Mile 22)

    Cerita dibuka dengan 10 menit pertama yang menegangkan, kala pesawat prajurit AS dalam sebuah misi menuju satu desa di Perancis untuk merubuhkan menara gereja yang dikuasai Nazi. Pesawat itu ditembaki brutal, ledakan di mana-mana, para prajurit tak punya pilhan lain selain melompat menyelamatkan diri. Berhasil terjun dari pesawat belum tentu aman, di daratan mereka diburu dan ditembaki lebih brutal. 


    (Adegan film Overlord. Foto: Dok/ParamountPictures)


    Dari yang selamat itu, ada prajurit Boyce (Jovan Adepo), dan Kopral Ford (Wyatt Russell). Keduanya lalu bertemu Tibbet (John Magaro) dan fotografer perang Chase (Iain De Caestecker). Dengan waktu terbatas sebelum pukul 6 pagi, keempatnya mesti menyelesaikan misi menghancurkan menara. Misi yang menggiring mereka menuju hal tak terduga lainnya. 

    Di antaranya, bertemu wanita desa Chloe (Mathilde Ollivier) yang di rumahnya berdiam bibi yang menyeramkan usai menjalani eksperimen Nazi, dan adik laki-laki yang nakal. Sebuah insiden membuat mereka berhadapan dengan tentara Nazi, Franz Wafner (Pilou Asbæk) yang jahat tanpa ampun. 

    Boyce lalu secara tak sengaja masuk ke dalam gereja yang diubah jadi markas Nazi, dan menemukan laboratorium tempat pengujian tentara menjadi zombie menyeramkan. Mereka abadi dan tak mudah dirubuhkan. 

    Seiring waktu yang terus berlalu, keempatnya menyusun strategi menyelesiakan misi. Merubuhkan menara agar serangan di perbatasan Perancis dapat berjalan sesuai rencana dan Nazi dapat dikalahkan. Kali ini mereka tak hanya berhadapan dengan tentara Nazi, tapi juga para tentara zombie. 

    (Baca juga: Review Film: First Man)

    Penuh ketegangan 

    Ledakan pesawat, rentetan peluru, tembakan di kepala dan berbagai kengerian lain akan brutalnya tentara Nazi ditampilkan dengan tanpa ampun. Sekali waktu hidup, semenit kemudian bisa saja lenyap tanpa jejak karena hancur lebur. 


    (Adegan film Overlord. Foto: Dok/ParamountPictures)


    Diiringi musik pengiring atau score yang tepat, ketegangan di film ini dibangun dengan baik, yang membuat nafas tertahan karena saking tegangnya. Seperti saat Boyce selamat dari lompatan pesawat lalu masuk ke dalam sungai dan masih ditembaki. Atau di saat tempat persembunyian mereka ditemukan tentara Nazi dan saling tembak. 

    Di antara kengerian itu, Avery sebagai sutradara memberi sedikit celah untuk merasa lega dengan kehadiran sosok Tibbet, Chloe, dan atau adiknya Paul yang menggemaskan. Di luar itu, adalah kengerian. 

    Dengan intensitas yang terjaga, karakter yang kuat serta cerita yang berjalin baik, Overlord memuaskan sebagai sebuah action-thriller. Meski sekilas akan ada kemiripan atau mengingatkan pada film teror Nazi dan perang dunia lainnya, film produksi Bad Robot dan Paramount Pictures ini stand out dengan kekuatan desain produksi, aktor, dan musiknya. JJ Abrams bisa saja menjadikan ini pijakan untuk membuat serial berikutnya.  

    Film Overlord tayang di bioskop Indonesia mulai 7 November 2018.





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below