Lenny Agustin Eksplorasi Batik 'Lebah' Kepulauan Sula


  • Lenny Agustin Eksplorasi Batik 'Lebah' Kepulauan Sula
    Lenny Agustin Eksplorasi Batik 'Lebah' Kepulauan Sula. (Foto: Dok/LennyAgustin)

     

    Tampil dalam rangkaian pekan mode Jakarta Fashion Week tahun ini, desainer Lenny Agustin menampilkan eksplorasinya akan kain batik dari para pengrajin di Kepulauan Sula, Maluku Utara. 

    Menampilkan 40 busana, ini merupakan hasil kolaborasinya dengan 23 pengrajin batik di Sula, yang sebelumnya dilatih membatik selama enam bulan, dari akhir 2017 hingga pertengahan 2018 lalu. 



    Peragaan busana batik khas Sula pertama ini menjadi menarik, karena sebelumnya, Sula belum pernah memiliki pengrajin batik maupun kain batik sendiri. Mereka pun kemudian memberi label Batik Xoela sebagai untuk menjadi identitas produk kerajinan khas Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. 

    (Baca juga: Inspirasi 6 Kota, 6 Desainer di Jakarta Fashion Week) 

    Dalam pernyataan resminya, Lenny Agustin memaparkan 'Wansosa' yang menjadi tema koleksinya merupakan kata dari bahasa Sula yang berarti 'lebah'. Pemilihan kata ini beranjak dari alasan bahwa lebah merupakan salah satu ikon kebanggaan Sula, yang terkenal dengan madu asli dari lebah liar di hutan (bukan hasil ternak). 

    Tak heran jika di Sula terdapat Taman Wansosa dengan instalasi patung Lebah di tengahnya. Ini juga yang menjadi alasan, Lebah dijadikan salah satu signature dominan dalam motif-motif Batik Xoela.


    (Koleksi 'Wansosa' atau 'Lebah' Lenny Agustin X Kepulauan Sula. Foto: Dok/LennyAgustin) 


    Di luar itu, Lenny sendiri mengatakan dirinya tertarik dengan filososi 'Lebah', yakni selalu bekerja keras bersama-sama untuk menghasilkan sesuatu yang manis, sama seperti kerjasamanya dengan pemda Sula. 

    Wujud lebah, sarangnya, serta lingkungannya berkembang biak dan menghasilkan madu (alam dan bebungaan), ia terjemahkan ke dalam blus-blus berpotongan unik, rok-rok bervolume dan asimetris, jaket-jaket longgar, dan terusan -- yang dipadu-padankan satu dengan lainnya. Warna yang dipilih dominan hitam, dilengkapi warna-warna gelap lainnya seperti biru donker, cokelat, dan marun. 

    Namun warna cerah seperti oranye, biru, hijau, pink, dan ungu pun tetap dihadirkannya mewakili alam lingkungan hidup Lebah. 


    (Koleksi 'Wansosa' atau 'Lebah' Lenny Agustin X Kepulauan Sula. Foto: Dok/LennyAgustin) 


    Bahan batik yang digunakan adalah katun, dipadukan dengan bahan neoprene, kulit sintetis, dan polyester. Sedangkan untuk mempertegas tema, koleksi-koleksi ini juga dihiasi detail, aplikasi maupun aksesori yang terbuat dari sulaman, rajutan, fril dari potongan-potongan bahan neoprene, motif-motif lebah dari potongan kain, sayap-sayapan atau sarang dari kulit sintetis, hingga bentukan akrilik yang di-lazer cut.

    Dalam peragaan busananya kali ini, Lenny menggandeng Wardah Cosmetics untuk riasan wajah para model, Wanni Shoes untuk sepatu, dan Art Square untuk aksesori kalung dan lainnya.

    (Baca juga: Kala Mickey Mouse Hadir di Jakarta Fashion Week)

    Batik Xoela 

    Peragaan busana Lenny Agustin X Kepulauan Sula ini menjadi momen pertama kali untuk melansir Kain Batik khas Sula, yang dihasilkan dari pelatihan membatik (tulis dan cap) beberapa waktu lalu. Identitas Xoela ini, disebutkan, nantinya tak hanya digunakan untuk produk Batik saja, tapi juga untuk Sulam, ragam produk kerajinan lain yang dihasilkan masyarakat setempat, juga sebagai nama Gerai Pamer sekaligus Sentra Oleh-Oleh Kabupaten Kepulauan Sula. 


    (Koleksi 'Wansosa' atau 'Lebah' Lenny Agustin X Kepulauan Sula. Foto: Dok/LennyAgustin) 


    Kata 'Xoela' sendiri diambil dari nama awal Kepulauan Sulabesi yang diberikan pemerintah Belanda di masa penjajahan.

    Mengapa diawali dengan Batik? Lenny mengatakan, karena kain batik bukanlah sekadar bahan dasar baju, tapi juga merupakan media ekspresi yang mewakili pesan adat, budaya serta identitas pemakainya, dan sudah sejak lama, Sangaji dan para Wali Marga (Pemangku Adat Sula) di Desa Waitina & Mangoli, mengenakan Penutup Kepala yang dijalin dari Kain Batik; namun batiknya ternyata dari tanah Jawa.

    Kini, Sula telah memiliki perajin dan motif batik sendiri. Walau meminjam teknik membatik dari Jawa, tetapi motif-motifnya merupakan visualisasi kekayaaan alam dan bahari Sula, seperti Wansosa (Lebah liar penghasil madu khas Sula yang terkenal), Man Sanggia (Burung Hijau), Kena Kawahe (Ikan Julung / Roa), Kena Tukareg (ikan yang dahulu dikeramatkan), serta Ipa (Kenari) yang dikombinasi dengan tetumbuhan serta ragam hias lainnya. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below