Ulasan 'It's...Show Time': Indonesia Dance Company


  • Ulasan 'It's...Show Time': Indonesia Dance Company
    Pertunjukan ketiga dari Indonesia Dance Company: 'It's...Show Time!' menghadirkan tarian penuh warna, enerjik dan mengesankan. (Foto: ErichSetiadi/IDCO)


    'It's...Show Time' menjadi pertunjukan ketiga dari Indonesian Dance Company (IDCO) yang menyesakkan dada, membuat takjub, dan memanjakan mata.

    Seperti lagu yang membuat tubuh bergoyang karena beatnya, atau menangis karena balad, panggung pertunjukan IDCO kali ini menghadirkan rentang ekspresi yang juga tak kalah luas. Dari mulai ekspresi senang, sedih, kontemplatif, magis lalu menghipnotis. 



    Melihat pertunjukan kali ini seperti menjawab pertanyaan; bagaimana jika para penari dan koreografer tari terbaik Indonesia tampil di satu panggung?

    'Its...Show Time! menyuguhkan 13 nomor tari yang dibawakan dalam dua babak. Bagian pertama menampilkan enam tari klasik balet populer, yang bagi pencinta pertunjukan tari bisa jadi sangat familer. Bedanya, adalah pada para penari. Karena di nomor ini, para penari baru IDCO yang masih belia unjuk kebolehannya, tak hanya saat bersama-sama, atau berdua, atapi juga bagian solo. 

    (Baca juga: Ulasan Seni Pertunjukan Musikal Mamma Mia!)

    Enam tarian itu, diantaranya Swan Lake yang dikoreografi Julius Reisinger. 22 penari mengenakan baju tari dan rok tutu balet putih yang kompak membentuk formasi dan adegan Swan Lake yang apik. 

    Diikuti kemudian dengan Flames of Paris, koreografi Vasily Vainonen, dengan duet Agnes Indira dan Dominic Lor An-Zhen. On-point dan beberapa kali mendapat tepuk tangan berkat aksinya yang membuat nafas tertahan. 

    Tarian trio tampil di Pas de Rois des Odalisque dari Le Corsaire yang dikoreografi Joseph Mazilier. Mariska Febriyanti, Priskhila Yoshika, dan Resti Oktaviani menampilkan aksi terbaiknya.  


    (Le corsaire classic. IDCO It's...Show Time. Foto: Doc/IDCO)


    Pas de Deux dari Giselle, koreografi Jean Coralli & Jules Perrot, menyuguhkan duet asik Michael Halim dan Siti Soraya. Duet tarian Arab, The Nutcraker yang tak kalah enerik dibawakan Johan Sun dan Nadia Mulyono, yang dikoreografi Marius Petipa & Lev Ivanov. 

    Sebagai penutup yang sedikit kontemporer dan penuh humor, hadir lewat aksi Deverrel Alim dan Rebecca Alexander dengan Harlequinade yang dikoreografi Marius Petipa. Aksi penuh ekspresif dan unjuk bagian solo masing-masing mendapat tepuk tangan meriah. Keduanya bisa jadi penari menjanjikan Indonesia di masa mendatang. 

    Magis menghipnotis

    Memasuki babak kedua, penonton dibuat takjub oleh nomor-nomor tari yang setiap detiknya menarik untuk diikuti. Bahkan tak ingin beranjak ke kamar kecil sekalipun. Dibuka oleh 'Galuik Indang', tari tradisional asal Sumatera Barat yang dimodifikasi sedikit jadi lebih kontemporer dan diiringi indang atau alat musik tabuh khas tradisional. 

    Suara indang, bersahut-sahut dengan teriakan khas penari asal minangkabau ini. Dua belas penari dengan kostum mencolok bergerak mengikuti koreografi yang serempak, berbaris, dan melingkar berlarian di atas panggung. Enerjik dan sekaligus magis, menghipnotis. Frank Adam Rorimpandeny, atau biasa disapa Toby membuat koreografi gerakan tari ini menjadi sangat menarik dan memanjakan mata, dan juga telinga. 

    Nomor berikutnya, Time, yang dikoregrafi Michael Halim hadir mengisakan soal waktu yang tak bisa diulang. Dair mulai bangun pagi, bergerak, menggeliat, beraktivitas, hingga menari merayakan sebuah kemenangan dan hiruk pikuk. Gerakan tarian yang kompak dan kontemporer serta sensual ini punya magnet tersendiri. Dengan selipan dua penari pria di antara 10 penari wanita menjadikannya asik. 

    Mengusung kisahnya sendrii, 'Papua Penuh Cinta' menggabungkan yang tradisional dan modern di atas panggung. Tarian ini membuat publik melihat lebih dekat gerakan tari Papua yang bisa saja bersatu padu dengan hip hop dan atau breakdance, dan sebaliknya. Koreografer Ari Prajanegara dan Rayen Rayschool membuat pertunjukan dengan 14 penari ini punya nilai lebih tersendiri. Menimbulkan kebanggaan betapa Indonesia kaya akan tarian tradisinya dan tak bisa ditinggalkan begitu saja, tapi dimodifikasi sedemikian rupa menjadi satu nomor tari yang asik dan kekinian. 


    (Papua Penuh Cinta. IDCO 'It's...Show Time'. Foto: Dok/IDCO)


    Kejutan dari para penari cilik yang kompak kemudian turut hadir pada nomor berikutnya lewat 'Blank Canvas'. Mengusung makna setiap anak tak ubahnya seperti kanvas putih dan perjalanan hidup mereka lah yang akan mengisi kanvas tersebut menjadi penuh warna. Dikoreografi Siti Soraya, tarian yang dibawakan kompak dan masif oleh 16 penari cilik ini unik, ekspresif, dan menyampaikan cerita yang mudah dicerna. Membuat mata tak berkedip karena setiap gerakannya menarik untuk dilihat. 

    'Pink' adalah nomor baru dari kreasi Siko Setyanto. Penari yang sudah lama berkecimpung di dunia tari ini membuat satu nomor kontemporer yang teatrikal, penuh warna, dan sensual. Ditarikan oleh tujuh penari perempuan dengan satu center penari pria (Deverrel Alim yang mencuri perhatian) gerakan tarian ini punya cerita yang kuat. Dari awal dengan properti seperti payung, heels, dan aneka aksesori lainnya membuat tarian ini sangat mengkritisi dunia perempuan, mulai pertemanan, persahabatan dan juga cinta. Asik untuk digeluti. 

    Sebelum masuk ke nomor pamungkasnya, 'Cinta' hadir dengan tarian duet Michael Hailm dan Siti Soraya yang diiringi dengan performa nyanyian dari Fadhilah Intan Pramita Sari, Top 9 Rising Star Indonesia. Sembari menyanyikan lagu dengan judul sama yang membuat merinding, tarian romantis penuh ekspresif hadir melengkapinya. 

    'It's...Show Time! hadir sebagai tarian pamungkas di pertunjukan kali ini. Karya tari yang dikoreografi Fifi Sijangga ini menyuguhkan kreasi variasi tari yang menarik, dari mulai jazz, balet hingga kontemporer. Para penari, dengan dominasi sembilan penari pria berbusana putih tampil enerjik, sekaligus sensual, yang membuat mata tak berkedip di setiap gerakannya. Di bagian kedua dari nomor ini, enam penari perempuan kemudian muncul dengan busana merah menyala, dan kemudian saling melengkapi. Nomor ini menjadi suguhan paling asik dan menjanjikan, tak hanya bagi para penari pria yang hadir, tapi juga panggung tari Indonesia.

    Secara keseluruhan pertunjukan tahun ketiganya kali ini Indonesia Dance Company memberikan variasi dan warna lain dalam pertunjukan tari. Enerjik, menghipnotis dan sekaligus menarik untuk disimak. Mestinya bisa tampil di panggung tari lainnya setelah memukau di Gedung Kesenian Jakarta, pada akhir September lalu.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below