Najwa Dan Najelaa Shihab Bagi Pengalaman Nikah Muda


  • Najwa Dan Najelaa Shihab Bagi Pengalaman Nikah Muda
    Kakak-adik, Najelaa dan Najwa Shihab, bagikan pengalaman mereka membangun keluarga masing-masing di usia yang terbilang muda. (Foto: Dok. Instagram/@najelaashihab)

    Bicara soal asmara, kakak-adik Najelaa dan Najwa Shihab sama-sama menikah di usia yang masih tergolong muda, yakni 19 dan 20 tahun. Uniknya, menurut Najelaa, kedua orang tuanya tidak pernah memaksa, apalagi menjodohkan. “Bahkan waktu saya mengutarakan ingin menikah muda, mereka tak langsung setuju. Takut sekolah saya tidak selesai. Tapi saya berpikir, kalau kita menikah dengan niat baik, masa sih akan disulitkan?” ujar Najelaa. Baginya, tantangan dalam pernikahan akan selalu ada, tanpa melihat usia. Hal ini juga diamini oleh Najwa.


    Peran ibu nyatanya tak luntur saat keduanya memutuskan masuk ke dunia pernikahan, khususnya saat terjadi gesekan dalam rumah tangga. “Mama dan Abi tahu kapan harus ikut serta dan biasanya tidak pernah ikut campur langsung. Kami bisa mencontoh bagaimana Mama dan Abi menyelesaikan konflik, membiasakan anak-anak untuk saling terbuka dan percaya. Rasanya itu lebih berarti daripada sekadar diberitahukan harus ini-itu,” lanjut Najelaa.




    Melihat anak-anaknya yang mulai memiliki keluarga sendiri, Fatmawaty tak lupa memberikan nasehat, “Punya ibu mertua dan saudara ipar adalah hal wajar yang harus dihormati, bukan ditakuti. Jika ada sesuatu yang kurang berkenan di hati, beranikan untuk ngomong. Tidak semua harus di-iya-kan. Namun, cara bicaranya tetap sopan.”





    Najelaa justru paling ingat nasehat ibunya bahwa istri harus lebih sayang suami daripada anak. “Banyak perempuan yang merasa bersalah meninggalkan anak demi menghabiskan waktu bersama suami. Padahal, saat masuk ke rumah tangga, kita bukan hanya jadi ibu, tapi juga jadi istri. Jadi harus seimbang,” jelasnya. Mendengar itu, Fatmawaty menganggukkan kepala sambil berkata, “Karena anak masih bisa dititipkan ke nenek, kakak, babysitter. Tapi kalau suami kan tidak bisa dititipkan.” Satu lagi pesan sang ibu yang membekas yaitu untuk tetap menghormati suami, setinggi apa pun karier mereka.


    Nilai Dalam Keluarga

    Kekuatan sebuah keluarga berada pada nilai-nilai yang dipegang di dalamnya. Dalam keluarga Shihab, semua anggotanya terbiasa dengan konsep keterbukaan. “Kami tak pernah dianggap seperti anak kecil di rumah sendiri. Mulai dari hal kecil seperti uang belanja atau saat Mama dan Abi tidak ada uang. Hal-hal inilah yang membuat anak jadi merasa dipercaya, tak ada yang tabu untuk dibahas,” ungkap Najelaa.


    Nilai ini pula yang akhirnya mendorong Najelaa untuk mendirikan Sekolah Cikal. Baginya, saat bicara pendidikan, bukan hanya lembaga sekolah yang bertanggung-jawab, melainkan semuanya dilakukan secara kolektif. “Orang tua pun perlu belajar. Advokat terbesar bukan sekolahnya, tapi bagaimana karakter orang tua di rumah,” lanjutnya.





    Kebiasaan untuk terbuka dan saling berdiskusi selalu dipegang teguh hingga saat ini. “Bahkan saat saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan lama, bukan hanya saya dan suami saja yang membahas, tapi seluruh anggota keluarga. Setiap keputusan penting selalu dibicarakan di forum keluarga. Dan itu juga jadi penyesuaian bagi suami-suami kami,” ungkap Najwa.


    Sang ibu sendiri mengaku nilai keterbukaan tersebut dilakukan lantaran ia ingin anak-anaknya mengerti seperti apa kehidupan yang sebenarnya sehingga mereka tidak akan menuntut terlalu banyak saat keuangan pas-pasan.


    Nilai lain yang diajarkan oleh ibu adalah rasa percaya diri. Jika ingin sesuatu, harus cari dan kejar. Satu momen yang paling diingat Najwa adalah saat sang ibu mengantarnya mengikuti beragam kompetisi baca puisi. “Dari Ancol ke Istiqlal, ikut pertandingan antar kecamatan, pusat, dan lainnya. Jadi tidak pernah ada batasan, mimpi harus setinggi mungkin, sehingga kita punya dorongan atau ambisi,” kenangnya sambil tersenyum.





    Ketika ada ujian dalam hidup, ibu pun jadi sosok support system pertama. Mungkin ini pula yang membuat mereka ingin selalu berada dekat dengan ibu, terbukti dengan letak rumah yang berdekatan. Di saat anak-anak lain ingin lepas dari bayangan orang tua, tidak begitu dengan Najelaa, Najwa, dan ketiga adiknya. “Kami semua ingin dekat Mama. Padahal dulu rumah saya bukan di sini, tapi saat ada kesempatan tanah kosong, saya langsung jual rumah lama dan pindah ke sini. Tanpa disuruh,” jelas Najwa.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below