Mengenal Ventilator Dan Fungsinya Di Tengah Wabah Covid-19


  • Mengenal Ventilator Dan Fungsinya Di Tengah Wabah Covid-19
    Di samping alat pelindung diri untuk para petugas medis, ventilator menjadi alat penting buat pasien yang terkena virus corona (covid19). ((Foto: Dok/antara/indonesia.go.id)


    Ventilator atau alat bantu pernapasan menjadi perbincangan utama antara Presiden Jokowi dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pekan lalu. Bahkan, Trump lewat media sosial Twitternya mengungkapkan bahwa ia baru saja bicara dengan Jokowi, yang menanyakan akan ventilator, yang dibantu penyediaannya oleh AS. "Kerjasama yang bagus antara kedua negara," ujar Trump (Jumat 24/4).  





    Di samping alat pelindung diri bagi petugas medis, ventilator menjadi salah satu yang tak kalah penting saat ini, terutama bagi pasien yang terinfeksi virus Corona (Covid-19). Karena infeksi dapat menyerang paru-paru dan menyebabkan pasien kesulitan bernapas. Di sinilah ventilator dibutuhkan, yakni sebagai mesin yang membantu pasien bernapas.

    Apa itu ventilator dan bagaimana fungsinya melawan pandemi virus corona saat ini?  

    Berikut fakta seputar ventilator, dari mulai definisi, sejarah, dan perkembangannya di tengah wabah virus Corona yang patut diketahui: 

    (Baca juga: Kenali Penyebab, Gejala dan Cara Cegah Virus Corona) 


    1. Apa itu ventilator?

    Dalam dunia medis, ventilator juga dikenal sebagai respirator, mesin pernapasan, atau alat bantu napas mekanik. Ini merupakan alat yang dirancang khusus untuk membantu pasien bernafas sementara atau secara permanen agar pasien dapat bertahan hidup. 


    (Ventilator. Foto: Dok.Time) 


    2. Fungsi ventilator

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekitar 80 persen pasien corona bisa sembuh tanpa penanganan khusus. Namun, 1 dari 6 orang mengalami sakit serius dan sulit bernafas. Ventilator dipakai untuk mendorong udara dengan peningkatan kadar oksigen ke paru-paru. Ventilator juga pelembap udara yang memodifikasi panas dan kelembapan udara medis sehingga cocok dengan suhu tubuh pasien.


    3. Peruntukan ventilator

    Selain pasien dengan infkesi virus corona, ventilator juga diperlukan untuk pasien dengan penyakit lain atau kondisi tertentu, seperti koma atau tak sadarkan diri, cedera otak, paru-paru kolaps, overdosis obat, infeksi paru-paru, dan pneumonia.  


    4. Cara kerja ventilator

    Ventilator mengalirkan oksigen ke paru-paru dan tubuh. Dalam praktiknya, ventilator dipasang dengan menghubungkan mesin ke saluran pernapasan seseorang lewat selang ventilator. Selain dipasang melalui mulut, hidung, atau lewat lubang yang dibuat di bagian depan leher pasien. Setelah terpasang, alat vetilator memompa udara dan menyalurkan oksigen ke paru-paru. Pasokan oksien dair mesin ini membantu pasien bernapas secara normal.  


    5. Sejarah tercipta ventilator


    (Respirator drinker. Foto: Dok/sciencemuseum) 


    Mesin pernapasan paling awal ditengarai bernama Drinker Respiratory yang ditemukan ilmuwan Amerika pada 1928. Saat itu, seorang insinyur dan ahli kesehatan industri asal AS, Philip Drinker menemukan alat bantu pernapasan yang kemudian lebih dikenal sebagai 'iron lungs' atau paru-paru besi. Mengutip laporan Time, alat ini ditemukan di tengah pandemi polio pada 1930-an dan 1940-an. Respirator Drinker sendiri saat itu dianggap sebagai alat yang agak rumit, terdiri dari tangki logam silindris dengan penutup dan kerah karet yang terpasang di salah satu ujungnya, sehingga bagian kepala dan leher yang menonjol.  


    Pada 1949, dikabarkan insinyur Amerika Serikat, John Haven Emerson mengembangkan ventilator anestesi yang dibuat untuk mengatur pernapasan pasien sehingga operasi mudah dilakukan. Selanjutnya pada 1952, Roger Manley di London mengembangkan ventilator bertenaga gas, dan menjadi model paling populer di Eropa. Di pertengahan 1950-an, Forrest Bird, mantan pilot militer AS mengembangkan ventilator Bird Mark 7 Respirator yang saat itu ditujukan buat para pilot yang menerbangkan pesawat di ketinggian tertentu. Beberapa pakar berpendapat inilah ventilator modern pertama yang kemudian terus dikembangkan.  

    Teknologi ventilator terus mengalami perkembangan hingga canggih seperti saat ini.  

     

    6. Jenis ventilator

    Alat bantu pernapasan ini dapat dibagi atas dua jenis, yakni alat bantu pernapasan anestesi dan perawatan intensif. Alat bantu anestesi biasanya digunakan untuk menyediakan oksigen dan gas nitrogen kepada pasien selama operasi. Sementara, alat bantu pernapasan intensif biasanya digunakan sementara untuk memberikan oksigen pada pasien di unit perawatan intensif, untuk membantu pasien yang tidak bisa bernapas secara normal.  


    7. Ketersediaan ventilator

    Dari sejumlah laporan di media terungkap pemerintah sudah mendistribusikan lebih dari 8.000 ventilator ke 2.867 rumah sakit di Indonesia. Namun, belum semua rumah sakit memiliki ventilator yang cukup. Sulitnya memenuhi kebutuhan akan ventilator mendorong sejumlah pihak membuat ventilator sederhana.  


    8. Ventilator buatan dalam negeri

    Dirangkum dari sejumlah sumber, berikut beberapa pihak yang mencoba membuat ventilator di dalam negeri:

    - Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan ventilator portabel yang diberi nama 'Airgency: Emergency Automatic Bag-Ventilator'. yang menangani pasien Covid-19 dengan menggunakan teknologi ambu-bag (kantong udara). Dikutip dari laman resmi ITB, ventilator ini merupakan inovasi yang ditujukan kepada pasien covid-19 yang sudah berada di tahap tiga, atau tahap paling kritis di mana ia telah mengalami disfungsi paru-paru yang membuat pasien tak dapat bernapas dan butuh alat bantu pernapasan otomatis.  



      - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan ventilator portabel untuk membantu pasien terinfeksi covid-19 yang mengalami gannguun pernapasan. Ventilator ini dikabarkan siap diproduksi massal dan ditujukan untuk pasien perawatan non intensif. Berbasis ambu bag, ventilator ini mengadopsi desain open source ventilator yang dikembangkan di Eropa dengan modifikasi materi dan komponen lokal.  



    - Universitas Indonesia (UI) mengembangkan ventilator transport lokal rendah biaya berbasis sistem pneumatik (covent-20). Dari siaran persnya, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, ventilator ini menggunakan sistem mode continuous positive airway pressure (CPAP) untuk pasien dalam pengawasan yang masih sadar, jadi hanya perlu dibantu diberikan oksigen ke paru-paru. Sementara mode continuous mandatory ventilation (CMV) digunakan untuk pasien dengan gejala pneumonia berat yang tak bisa mengatur pernafasannya.  

    - Universitas Gajah Mada (UGM) mengembangkan tiga jenis ventilator, yakni versi fully featured ventilator (high end), versi low cost dan versi ambu bag conversion.  

    - Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya mengembangkan simple and low-cost mechanical ventilator atau robot ventilator. Disebutkan, ventilator ini merupakan kerjasama ITS dengan RS Universitas Airlangga dan RSU dr Soetomo. Menggunakan desain open source dari Massachussets Institute of Technologi (MIT) AS.  



     - PT Pindad Persero mengungkapkan sedang dalam tahap pengembangan dua jenis ventilator dengan tiga tipe, yakni ventilator resusitator manual (VRM), dan ventilator Covent-20 hasil kerjasama dengan UI. Ventilator Covent-20 memilik dua tipe, yakni CPAP yang berfungsi memberikan terapi oksigen, dan tipe CMV yang berguna untuk pasien yang mengalami gagal napas.



    - Mahasiswa teknik Universitas PGRI Semarang dikabarkan juga telah membuat ventilator yang dapat bekerja otomatis, dengan hasil data pengecekan dapat dilihat di laptop atau ponsel.

    Dengan penyediaan alat bantu pernapasan lebih banyak, dan harga yang lebih terjangkau diyakini akan lebih banyak pasien yang kena infeksi virus corona yang bisa diselamatkan. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below