Hari Puisi Dunia: Penyair Dan Kata-Kata Dalam Film


  • Hari Puisi Dunia: Penyair Dan Kata-Kata Dalam Film
    Hari Puisi Dunia menjadi momen dalam merayakan kekuatan kata-kata. Bagaimana jika menikmatinya kini lewat medium film?(Foto:Dok/Rappler)


    Puisi punya kekuatan unik dalam menangkap semangat kreatif dari pikiran manusia. Ini menjadi dasar ditetapkannya peringatan World Poetry Day atau Hari Puisi Dunia setiap 21 Maret sejak 1999 lalu oleh Unesco. 

    Siapa yang tak setuju dengan hal itu? Rangkaian kata-kata di puisi disadari atau tidak telah memberi pengalaman dalam memaknai kata-kata. Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono misalnya atau Istirahatlah Kata-kata milik Wiji Thukul yang dalam penuh makna. 



    Puisi kemudian menunjukkan bahwa ia tak hanya sekadar bentuk ekspresi, tapi juga banyak dipakai sebagai medium untuk mengkritisi kondisi sosial politik dan juga kemanusiaan. 

    (Baca Juga: Tebaran Puisi di Panggung 'Cinta Tak Pernah Sederhana')


    Indonesia sendiri memiliki sejumlah penyair yang mumpuni dengan karya-karya yang melegenda. Sapardi, Wiji hanya dua di antaranya. Di samping mereka, masih ada Chairil Anwar, WS Rendra, Sitor Situmorang, dan Aan Mansyur. 

    Yang menarik, beberapa di antaranya juga pernah hadir dalam medium film. Wiji Thukul menjadi ‘nyata’ lewat film Istirahatlah Kata-Kata, Chairil Anwar muncul di Ada Apa Dengan Cinta lalu menyusul Aan Mansyur lewat Tak Ada New York Hari Ini yang jadi bagian penting dalam Ada Apa Dengan Cinta 2. 

    Merunut lagi lebih jauh, dunia kata-kata penyair yang muncul lewat film turut memberi cara baru dalam menikmati puisi, dan sekaligus menciptakan trennya sendiri. Entah itu memberi ruang terhadap kisah hidup sang penyair, atau dalam menyebarkan gaya bertuturnya. 

    Di antara film-film tersebut, berikut beberapa diantaranya yang bisa jadi bagian dalam peringatan Hari Puisi Dunia tahun ini. 

    (Baca Juga: Saksikan Pertunjukan Puisi Goenawan Mohamad)


    1. Istirahatlah Kata Kata – Wiji Thukul 

    Istirahatlah kata-kata

    Janganlah menyembur-nyembur

    Orang-orang bisu

    Tidurlah kata-kata

    kita bangkit nanti

    menghimpun tuntutan-tuntutan

    yang miskin papa dan dihancurkan.

    Kekuatan kata-kata dimaknai dengan dalam oleh Wiji Thukul. Penyair yang juga aktivis ini ditangkap dan hilang saat kerusuhan 1998. Namun, karya-karyanya terus dibaca dan dikenalkan. Lewat film ini, sutradara Yosep Anggi Noen menghadirkan sepenggal pengalaman hidup Wiji dan bagaimana tulisannya mengupas dengan lugas mengupas kehidupan rakyat kecil dan pahitnya kemiskinan serta penderitaan pada masa Orde Baru kala itu. 


    2. Ada Apa Dengan Cinta – Chairil Anwar

    Bukan maksudku mau berbagi nasib

    Nasib adalah kesunyian masing-masing.

    Sosok Chairil Anwar dan sajak-sajaknya menjadi salah satu kekuatan cerita di film Ada Apa Dengan Cinta yang tayang 2002 lalu. Menikmati film ini, juga diajak untuk menelusuri salah satu karya Chairil Anwar yang terkenal bertajuk Aku. Karya yang kemudian menginspirasi Sjuman Djaya membuatnya dalam bentuk buku sehingga menjadi perekat hubungan Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Film remaja yang juga hadir dengan sangat puitis dari awal hingga akhir film. 

    Konon, kabarnya produser Mira Lesmana beberapa waktu lalu pernah mengungkapkan pada media bahwa ia juga dalam rencana menggarap film tentang Chairil Anwar yang diberi judul Aku, Chairil!. Riri Riza disebut akan menjadi sutradaranya. Menjadi film yang paling ditunggu untuk dibuatkan kisahnya. 


    3. Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono 

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

    Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

    Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    Dibintangi Adipati Dolken dan Velove Vexia, film ini diangkat dari puisi dan novel berjudul sama dari karya Sapardi Djoko Damono. Dipenuhi untaian kata puisi romantis, film ini mengisahkan akan sepasang kekasih Pingkan dan Sarwono yang terpisah dan merasakan bagaimana indahnya saat jatuh cinta sekaligus menunjukkan betapa besar pengaruh kekuatan kata-kata. 


    4. Bulan di atas Kuburan – Sitor Situmorang 

    Semoga kasih tahu jalan kembali

    Pada pintu yang membuka dinihari

    Ke mana angin membawa diri.

    Sitor Situmorang juga disebut sebagai penyair tersohor setelah meninggalnya Chairil Anwar. Film Bulan di Atas Kuburan disebut beranjak dari salah satu karyanya yang berjudul Malam Lebaran. Puisi itu pendek saja memang hanya terdiri dari empat kata tapi penuh makna. Rima akhiran "n" dan huruf "a" di setiap suku kata membuatnya menarik. Malam Lebaran, Bulan di Atas Kuburan karya sutradara Asrul Sani pernah mencuri perhatian ketika merilis film berjudul unik ini pada 1973. Setelah hampir empat dekade, pada 2015, film berjudul sama kembali dibuat. Kali ini, disutradarai Edo W.F Sitanggang dengan dibintangi Rio Dewanto, Donny Alamsyah, dan Atiqah Hasiholan. 


    5. Lari dari Blora – WS Rendra 

    Suatu malam aku mandi di lautan

    Sepi menjadi kaca

    Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit

    Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada

    Sepi menjadi kaca.

    Penyair yang kerap dijuluki Burung Merak ini terkenal berkat karya-karyanya yang mengejutkan. Sebut saja di antaranya seperti Ballada Orang-orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, atau Orang-orang Rangkasbitung. Selain aktif di puisi, Rendra juga bermain film, diantaranya Lari Dari Blora yang dirilis pada 2007 dengan sutradara Akhlis Suryapati. Selain membaca buku karyanya, melihat aksinya di layar kaca juga melengkapi pemahaman akan kisah hidup Rendra.


    6. Gie - Soe Hok Gie 

    Mari sini sayangku

    Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku

    Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

    Kita tak pernah menanamkan apa-apa/ Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa. 

    Film produksi 2005 dari Miles Film ini menjadi film yang menceritakan tentang Gie, mahasiswa sastra Universitas Indonesia yang berpikiran kritis. Dibintangi Nicholas Saputra, film ini menunjukkan sosok Gie yang vokal dalam menyuarakan suara hati dan pertentangannya. Sepanjang film, bertebar kutipan puisi Gie yang kuat dan juga penuh haru.


    7. Ada Apa Dengan Cinta 2 – Aan Mansyur 

    Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. 

    Puisi masih jadi benang merah dan perekat cerita di film kelanjutan Ada Apa Dengan Cinta?. Kali ini, puisi karya Aan Mansyur, Tak Ada New York Hari Ini yang menjadi pijakannya. Puisi ini merujuk pada kisah Rangga yang sedari duduk di bangku SMA sudah suka menulis puisi. Aan sendiri sebelumnya pernah menerbitkan sejumlah buku di antaranya Kukila (2012), dan Melihat Api Bekerja (2015). Membaca lagi ketiganya turut memberi pengalaman bermain kata yang asik.

    (Baca Juga: 7 Rekomendasi Buku Menarik Untuk Liburan Akhir Pekan)


    Film Rekomendasi Tentang Penyair dan Puisi 

    Di tingkat dunia, sejumlah penyair pernah dituangkan kisah hidupnya dengan baik lewat film. Sebut saja kisah hidup Emily Dickinson, John Keats, Allen Ginsberg, Bob Dylan atau Arthur Rimbaud. Masing-masing punya pengalaman hidup berbeda yang menuangkan karya dengan perspektif yang unik. Di antara banyak film mengupas akan syair dan atau kisah hidup para penciptanya tersebut, berikut 10 film dan kutipannya yang bisa jadi menginspirasi. 


    1. Paterson (2016) 

    "When you’re a child you learn there are three dimensions/ Height, width and depth/ Like a shoe box/ Then later you hear there’s a fourth dimension/ Time/ Hmm/ Then some say there can be five, six, seven…/ I knock off work/ Have a beer at the bar/ I look down at the glass and feel glad." (Another one - Paterson) 


    2. Dead Poets Society (1989) 

    "O Captain, my Captain.' Who knows where that comes from? Anybody? Not a clue? It's from a poem by Walt Whitman about Mr. Abraham Lincoln. Now in this class you can either call me Mr. Keating, or if you're slightly more daring, O Captain, my Captain." 


    3. Bright Star (2009) 

    "A poem needs understanding through the senses. The point of diving in a lake is not immediately to swim to the shore but to be in the lake, to luxuriate in the sensation of water. You do not work the lake out, it is an experience beyond thought. Poetry soothes and emboldens the soul to accept a mystery." - John Keats in Bright Star. 


    4. Kill Your Darlings (2013) 

    “Be careful, You are not in wonderland. I have heard the strange madness long growing in your soul. But you are fortunate. In your ignorance. In your isolation. You who have suffered find where love hides. Give. Share. Lose. Let’s we all die unbloomed." - Allen Ginsberg in Kill Your Darlings. 


    5. Endless Poetry (2016) 

    “One day, someone showed me a glass of water that was half full. And he said, "Is it half full or half empty?" So I drank the water. No more problem.” - Alejandro Jodorowsky in Endless Poetry.


    6. Howl (2010) 

    “Poetry is a rhythmic articulation of feelings. I started writing poetry cause I fell in love and needed to express my feelings.” - Allen Ginsberg in Howl. 


    7. Total Eclipse (1995)

    “I understood that what I needed to become the first poet of this century is to experience everything in my body. It's no longer enough for me to be one person, I decided to be everyone. i decided to be a genius. I decided to originate the future." - Arthur Rimbaud in Total Eclipse.


    8. I am Not There (2007) 

    "Some people feel the rain. Others just get wet." - Bob Dylan.


    9. Sylvia (2003)

    “Sometimes I dream the tree, and the tree is my life. One branch is the man I shall marry, and the leaves my children. Another branch is my future as a writer, and each leaf is a poem.” - Sylvia Plath in Sylvia. 


    10. A Quiet Passion (2016) 

    “The heart asks pleasure first and then excuse from pain. We deceive ourselves and then others. Poems are my solace for the eternity which surrounds us all. If I can't have equality, then I want nothing of love.” - Emily Dickinson, A Quiet Passion. 


    (Teks: Rai Rahman Indra) 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below