Pentingnya Social Media Distancing Selama Work From Home


  • Pentingnya Social Media Distancing Selama Work From Home
    Tak hanya social distancing, nyatanya kamu juga perlu lakukan social media distancing agar imunitas tubuh tetap terjaga. (Foto: Dok. Pexels.com)


    Sejak Pandemi virus Corona mendunia, semua orang lantas panik luar biasa. Media cetak, siar, dan sosial jadi tiga media utama yang menginformasikan segala perkembangan tentang Covid-19 yang pada dasarnya memang wajib diwaspadai. Namun sayang, banyak berita dan informasi yang sifatnya jadi berlebihan bahkan penuh kebohongan.


    Sejumlah narasi pun pada akhirnya tak hanya membuat kita jadi waspada tapi malah menimbulkan ketakutan tanpa jeda. Padahal, di masa seperti ini yang kita butuhkan justru rangkaian masukan positif yang bisa menstabilkan mental wellness. Bukan malah berujung pada mental breakdown. Kesehatan jiwa dan pikiran yang berdampak baik bagi raga supaya tak gampang ambruk dan sakit-sakitan adalah sesuatu yang harusnya lebih diperhatikan.





    (Virus baru yang menggemparkan dunia. Foto: Dok. Pexels.com)


    Oleh sebab itu, mari ketahui lebih lanjut mengenai pentingnya social media distancing selama social distancing atau work from home #dirumahaja.


    Pandemi baru

    Sebagai penyakit anyar yang membuat seluruh dunia gempar bahkan tim dokter dari negara-negara maju sekali pun, Covid-19 Coronavirus memang masih jadi misteri. Vaksin belum ditemukan, obat belum berhasil dibuat, dan penderitanya juga masih terus bertambah setiap hari. TAPI, kemungkinan untuk sembuh dan tak tertular sebenarnya amatlah besar jika imunitas tetap terjaga. Oleh sebab itu, seluruh warga masyarakat terus diingatkan untuk menjaga kesehatan dengan mengonsumsi vitamin, makan makanan sehat, meningkatkan higientias, serta berolah raga yang teratur. 



    (Tingkatkan higienitas agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Foto: Dok. Pexels.com)


    Namun, hal terberat dari masalah ini sebenarnya hanya satu, yaitu mengatur pikiran kita sendiri atas pandemi baru. Memang masih banyak pertanyaan tentang Coronavirus, tapi bukan berarti ia tak teratasi. Justru, diri kita sendirilah yang bisa menjawab seluruh pertanyaan itu. Apakah kita sudah selalu bersih-bersih? Apa sudah mengasup makanan bernutrisi? Atau sudahkan kita ikuti arahan tentang penanggulangan penularan virus dengan benar tiap hari? Jika mayoritas jawabannya 'sudah', maka setidaknya metode penyelamatan diri sudah ditaati. Maka, dengan menjaga kesehatan secara holistik, efek domino juga akan berhenti sehingga bumi bakal bebas dari pandemi. Stay positive! Itu yang utama.


    Dilansir dari The Guardian, "in psychology research that positive emotions help us to undo the negative effects of stress.". Sedangkan Forbes menuliskan "Mental distancing provides for time when you’re not thinking about the virus and emotional distancing gives you the opportunity to take a timeout from worry or anxiety about current conditions.". Artinya, dengan tetap berpikir positif, kita akan bisa menyelamatkan pikiran dari stress yang malah akan berdampak pada mudahnya virus Covid-19 bersemayam dalam tubuh. 



    (Terlalu sering membaca berita negatif akan membuat kita lebih mudah stres. Foto: Dok. Pexels.com)


    Satu tulisan menarik lagi dari American Psychological Association mungkin bisa semakin membuka pikiranmu. Di sana, mereka menjelaskan bahwa "For stress of any significant duration - from a few days to a few months or years, as happens in real life - all aspects of immunity went downhill. Thus long-term or chronic stress, through too much wear and tear, can ravage the immune system.".


    Jadi, sudah jelas kan kenapa kita harus tetap menjaga kesehatan dan kekuatan pikiran? Karena virus ini akan menghilang dengan sendirinya saat tentara imun lebih banyak jumlahnya di dalam darah. Jadi jangan biarkan mereka berkurang! Itu sebabnya banyak penderita yang lama kelamaan membaik dengan hanya dikarantina, diberi banyak vitamin, dan diwajibkan mengasup makanan sehat setiap hari. Jadi, jangan putus harapan, ya. Kita semua baik-baik saja kok jika tetap jaga diri.


    Sehatkan pikiran dengan social media distancing

    Selama dua minggu kerja di rumah atau menjaga jarak dengan orang lain di tempat umum, tentu banyak ketakutan yang bersarang di pikiran. Inilah yang akan berdampak langsung pada poin pertama yang telah dibahas di atas. Nah, bagaimana menyiasatinya? Salah satunya yaitu dengan melakukan SOCIAL MEDIA DISTANCING. What? No way!! Mana bisa kita menjalani hari tanpa intip-intip Instagram atau Facebook? Hei... BISA! 


    Di situasi seperti ini, bukalah media sosial secukupnya. Bukan menjauhinya sama sekali, tapi beri jarak untuk tidak terus-terusan update berita. Tak usah FOMO. Karena cukup berita penting saja yang kamu lihat sekali dalam satu hari lalu tutup atau kalau bisa mute saja akun-akun berita yang seakan tak memberimu jeda untuk bernapas. Narasi-narasi menakutkan yang kerap dibagikan di media sosial akan dengan cepat masuk ke dalam alam bawah sadar yang akan langsung memengaruhi mental dan kondisi psikologis kita untuk kemudian menelurkan kengerian. Padahal, eksistensinya tidaklah dibutuhkan


    "Fear is our greatest enemy. The reason behind failure, sickness, giving up, bad relationships and so on. We are afraid of the past, the future, old age, and the unseen. Fear is a thought in the mind. You listen to that thought; you imagine it and eventually start to believe in it. It then consumes you. When that happens you become afraid of your own thoughts" -Safwan Khan (www.thriveglobal.com)


    Tak heran jika depresi besar yang dialami dunia kini malah banyak ditimbulkan oleh media cetak, siar, maupun sosial. Ketika ketersediaan berita positif kalah telak dengan paragraf-paragraf negatif penuh ketakutan, ini yang kemudian membuat sistem sosial juga jadi berantakan. Panic buying terjadi, isu rasisme mencuat, dan lain sebagainya. Padahal, dunia justru sedang membutuhkan kerjasama untuk mengeraskan rantai kepedulian terhadap sesama. Bukan justru mengedepankan ego dan menyelamatkan kepentingan sendiri. 



    (Batasi penggunaan sosial media di situasi seperti ini. Foto: Dok. Pexels.com)


    Ini yang menakutkan. Efek pemberitaan yang terus menggempur masyarakat dengan berita 'horor' nyatanya membuat kondisi jiwa jadi tak tenang dan tak karuan. Semua jadi ketakutan dan hidup dalam kekuatiran. Padahal seharusnya itu tak perlu terjadi. Oleh sebab itu, di momen WFH ini, di masa-masa social distancing, yang perlu kita lakukan adalah mawas diri. Bukan justru sebaliknya. Di rumah malah sering melihat berita dan sosial media sehingga menanamkan sugesti pada diri sendiri bahwa 'kita tidak baik-baik saja'. Just don't! Masih banyak kok konten positif yang berpotensi membangkitkan semangat seperti sedia kala. 


    Bahkan Centers for Disease Controls and Prevention (CDC) pun telah mengingatkan "Take breaks from watching, reading, or listening to news stories, including social media. Hearing about the pandemic repeatedly can be upsetting.". Ini yang harus diperhatikan sehingga jadi alasan pentingnya membatasi diri dalam penggunaan media sosial. Agar tak panik berlebih dan tak memberi makan sugesti.


    Fokus pada berita positif dan suportif

    Jika kamu merupakan followers dari sejumlah selebgram atau akun-akun yang lebih sering membuatmu bahagia, tertawa, dan terinspirasi, lebih baik fokuskan perhatian pada postingan mereka. Selain bisa membuatmu lebih tenang dalam menghadapi hari, kamu pun tak perlu memupuk stress untuk tumbuh subur dalam hati.


    Perhatikan sesuatu yang menyenangkan dan belajarlah untuk mensugesti diri bahwa dunia hanya sedang butuh istirahat. Ia tidak sakit. Ia hanya tengah rehat. Jadi sudah waktunya untuk membibit positivitas dengan mencoba lihat ke sisi yang lebih baik. Antisipasi memang sangat disarankan. Namun ingat, antisipasi akan jadi bumerang jika energinya justru ditransfer jadi ketakutan.



    (Tetap bahagia dan pertahankan imunitas tubuh. Jangan sampai merosot. Foto: Dok. Pexels.com)


    Coba mulai arahkan perhatian pada titik terang. Wuhan saja sudah mulai menutup rumah sakit tambahan dan klinik-klinik daruratnya. Mereka sudah memulangkan banyak tenaga medis yang bekerja siang malam. Artinya, semua bisa teratasi.



    (Tetap lakukan penanggulangan saat akan keluar rumah. Foto: Dok. Pexels.com)


    So, stay healthy, fit, and happy, all. Tetaplah bekerja dengan baik dan sehat selama di rumah. Keluar rumah memang dibatasi, tapi kalau harus pergi, patuhi semua aturan yang diberlakukan, ya. Pakai masker, selalu sediakan hand sanitizer, dan jangan lupa cuci tangan pakai sabun atau langsung mandi begitu sampai di rumah.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below