Melawan Stigma Tentang Jerawat Bersama Novia Nur Ismi


  • Melawan Stigma Tentang Jerawat Bersama Novia Nur Ismi
    Ingin melawan stigma tentang jerawat, Novia Nur Ismi mencurahkan cerita perjalanannya di buku baru. (Foto: Instagram @nvnrsm)

    Dikenal sebagai acne-fighter dengan konten-konten self-love nya di Instagram, Novia Nur Ismi merilis buku yang menceritakan perjuangannya melawan kulit berjerawat. Buku yang berjudul “Indahnya Lukisan di Wajahku” ini baru saja dapat di pre-order hari Rabu kemarin.





    Bukan menulis tentang saran dalam mengatasi jerawat, wanita kelahiran Cianjur itu justru lebih banyak menaruh saran untuk lebih percaya diri dan mencintai segala kelemahan dalam diri.

    Novia berbincang sedikit tentang buku dan pengelamannya itu bersama Her World di serial IGTV #ngobrolbarengHW pada hari Sabtu yang lalu. Mulai dari komentar negatif yang konyol hingga hilangnya rasa percaya diri dan self-worth pernah ia lalui hanya karena kulit yang berjerawat.


    Hai, Novia! Kamu lagi sibuk apa nih?

    Kalau sekarang sibuknya lagi promosi buku dan beberapa urusan pribadi saja.


    Apakah boleh diceritakan kamu mau launching buku apa?

    Aku mau launching buku judulnya “Cantiknya Lukisan di Wajahku.” Itu satu buku menceritakan tentang pengalaman aku, struggle aku sama jerawat sampai akhirnya aku menemukan semangat lagi. Semuanya aku certain di buku itu dengan detail.

    Kapan kamu memutuskan untuk membagikan cerita perjuangan kamu dalam mengatasi jerawat?

    Awalnya aku ingin sharing itu karena dulu aku kalau posting, sudah pasti di edit jerawatnya hingga benar-benar hilang, entah itu pakai efek atau apapun itu. Ya, namanya juga di social media, kita pasti ingin terlihat lebih bagus kan ya gimanapun caranya. Nah, dari situ sering banget banyak temen-temen lama aku yang baru ketemu lagi bilang “kok beda ya yang aslinya sama yang di Instagram.”

    Aku agak tersinggung, sudah sedih sama keadaan jerawat, terus ada yang berkata seperti itu membuat aku makin sedih. Jadi, yang tadinya ingin selalu terlihat bagus di Instagram, dari situ aku ingin terlihat sama antara di media sosial sama di kehidupan nyata, supaya orang tidak komentar tentang keadaan fisik aku.

    Setelah posting, ternyata banyak yang senang dan jadi cerita-cerita pengalaman pribadi lewat direct message dan komentar. Akhirnya, aku jadi sering posting di feeds tentang skincare apa yang aku gunakan. Aku jadi suka sharing karena senang banyak yang merespon positif, akhirnya keterusan sampai sekarang begitu.



    Jerawat itu kan sesuatu hal yang normal, dialami oleh banyak orang. Tadi kamu bilang kalau banyak yang terinspirasi oleh kamu, apakah ada juga yang pernah berkomentar negatif?

    Wah kalau komentar negatif sudah sering aku terima. Banyak jenisnya juga, ada yang memberi saran tapi konotasinya jadi negatif, dan ada yang benar-benar negatif dan jatuhnya menghina.

    Aku pernah di respon seperti ini: “Go use skincare, uneducated woman!

    Kebanyakan orang beranggapan kalau orang yang jerawatan itu pasti jorok dan kotor. Padahal, menurut aku, karena aku jerawatan, justru aku lebih tahu kalau kamar harus bersih, sprei harus di ganti seminggu sekali, jadi yang tadinya aku tidak sadar akan hal itu, karena jerawatan jadi sadar.

    Ada juga yang berkomentar: “Kamu punya kaca gak sih dirumah? Muka udah kayak setan!”

    Ya sakit hati, tapi memang sudah sering lah komentar negatif aku terima, banyak macam dan bentuknya.


    Bagaimana kamu bisa bangkit lagi untuk positif?

    Kalau bagaimana cara bangkit laginya, sebenarnya itu healing ya. Awalnya aku sudah pasti sedih, galau, dan bahkan pernah sampai non-aktifkan Instagram selama seminggu. Pertama aku butuh waktu. Kedua, aku suka cerita sama orang terdekat aku entah sahabat, orang tua, atau pasangan. Aku ceritanya ke orang-orang yang sekiranya menerima sakit hatinya aku, yang tidak akan membandingkan sakit hati aku dengan orang lain. Intinya, cara aku bangkit lagi itu dengan dikelilingi orang yang suportif ke aku.


    Kamu tadi bilang kalau suka sedih dan galau karena komentar negatif. Apakah hal ini pernah mengganggu hubungan kamu ke orang-orang terdekat?

    Pernah, pertama ke sahabat, Ketika aku tidak bisa mengungkapkan perasaan aku, aku jadi suka marah-marah, sedikit-sedikit bete, apalagi sama teman. Kalau sama orang tua jarang sih, karena orang tua selalu support bagaimana pun itu. Mereka pernah bilang kalau hal negatif ini dijadikan ladang pahala saja.

    Kalau sama pasangan, aku sering galau dan minta break, tapi dia tidak mau. Aku sering merasa insecure. Namanya manusia, tidak bisa munafik, kita sama-sama ingin bersama yang cantik, sama yang tampan, atau sama yang bersih atau gimana.

    Pernah aku bilang ke dia: “Udah lah, aku kasihan sama kamu, mending udahan aja.”

    Aku jadi merelakan diri aku sendiri, kasihan sama dia. Tapi, ternyata dia tidak mau. Akhirnya, kita sama-sama bertahan, saling support intinya.



    Balik lagi ke seputar buku kamu. Apa yang dapat diharapkan dari buku kamu itu? Apakah ada tips dalam menangani jerawat?

    Jadi, isinya memang kebanyakan pengalaman aku dari awal sampai sekarang, karena aku tidak pernah bercerita secara detail di Instagram tentang pengalaman aku. Ada juga tips, tapi tips lebih untuk ke percaya diri bukan tips skincare. Karena, struggle yang paling bikin orang lain terjatuh itu rasa insecurity. Aku ingin kasih insight juga kalau banyak orang yang berjuang menghadapi masalah ini dan kalian itu tidak sendiri. Lalu, aku juga ingin menyampaikan bahwa jangan pernah merasa diri kita itu rendah hanya karena jerawat, disaat sebenernya di setiap manusia itu ada kelebihan dan kekurangan.


    Kamu ada saran untuk para acne fighter yang belum bisa membangun percaya diri mereka?

    Pesan yang pertama yaitu jangan takut, karena semuanya itu ada waktunya dan pasti berlalu. Tidak mungkin kita selamanya sampai tua, sampai punya cucu akan jerawatan terus.

    Jangan pernah merasa bahwa kita tidak punya value sama sekali. Terkadang, karena jerawat, kita sering lupa dengan keahlian dan bakat yang kita punya. Kita malah fokus punya jerawat, lalu bakat dan keahlian ini tidak tergali sama sekali. Kita punya value masing-masing, Tuhan pasti kasih kelebihan di tubuh kita.

    Lalu, jangan merasa sendirian, karena di luar sana masih banyak orang yang berjuang, termasuk aku, karena aku juga sampai saat ini belum sembuh dari jerawat. Yang terakhir, sabar. Kalau tidak sabar, kita malah asal melakukan tindakan yang akhirnya malah membahayakan diri sendiri.


    (Penulis: Regina Yohana)



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below