'Eco Age' Ala Moral, NoomNomi, dan Rigio di PIMFW 2019


  • 'Eco Age' Ala Moral, NoomNomi, dan Rigio di PIMFW 2019
    Tiga desainer dari label Moral, Noom Nomi dan Rigio menghadirkan koleksi busana yang ramah lingkungan dalam peragaan busana PIMFW 2019. (Foto: Dok/PIMFW)


    Sejalan dengan semangat sustainable fashion atau gerakan ramah lingkungan yang diusung tema Plaza Indonesia Men's Fashion Week tahun ini, tiga label/desainer menghadirkan rancangan yang patut mendapat perhatian. Tak hanya menarik untuk dikenakan, tapi juga menjalani proses dan penggunaan material yang peduli terhadap lingkungan.

    Ketiganya, Moral yang digawangi Andandika Surasetja, NoomNomi oleh Soetjipto Hoeijaja dan Rigio oleh Sergio Berlino. Ketiganya hadir dalam peragaan busana bertema 'Eco Age', Plaza Indonesia Men's Fashion Week (PIMFW) pada Kamis (26/9). 



    Masing-masing hadir dengan gaya rancangan khas, tapi kali ini juga turut mengusung pesan khusus akan isu lingkungan. Seperti apa? 

    (Baca juga: A Chat with Andandika Surasetja: MORAL Bercerita Lewat Mode) 

    Moral - oleh Andandika Surasetja


    (Koleksi Moral. Foto: Dok/PIMFW)


    Mengusung koleksi bertajuk 'Suaka', Moral menyuguhkan koleksi musim Spring/Summer 2020 yang terdiri dari 24 look koleksi pakaian unisex. Koleksi Suaka mengedepankan eksplorasi material ramah lingkungan yakni tencel yang dipadankan dengan ragam material upcycled.

    Dalam merespons tema eco-fashion yang diusung PIMFW 2019, Moral berpegang pada prinsip evolusi dan bukan revolusi - mengedepankan komitmen serta konsistensi dalam melangsungkan praktik produksi yang etikal. Dalam koleksi ini pula Moral kembali menghadirkan sejumlah pakaian dari koleksi archive yang telah melalui proses re-create to elevate.

    Secara narasi, koleksi ini berkisah tentang relasi manusia dengan alam dan segala interaksi yang terjadi di antara keduanya. What goes around comes back around, serva me serva bote (pepatah latin: save me and I will save you). Merepresentasikan situasi eksploitasi alam berlebih yang berakibat pada ketidakseimbangan ekosistem - mengancam kehidupan umat manusia di masa yang akan datang, menghadirkan kecemasan, serta ketakutan.

    Kali ini Moral melakukan eksperimentasi dengan mengusung muatan emosi yang cenderung kelabu, menyampaikan sebuah pernyataan bahwa fashion tidak melulu soal kebahagiaan dan suka cita.

    Dalam koleksi ini, Andandika menghadirkan rangkaian pakaian yang dapat digunakan untuk berbagai kesempatan mulai dari kasual hingga formal. Padu padan overcoat, kemeja, parka, dan celana berpotongan lurus menjadi item kunci di samping pantsuit, serta bowling shirt yang melengkapi koleksi. Penyematan detachable details pada bagian lengan serta punggung memberi nilai tambah untuk koleksi Moral kali ini.


    Noom Nomi - oleh Soetjipto Hoeijaja 


    (Koleksi Noom Nomi. Foto: Dok/PIMFW) 


    Dalam pengantar peragaannya, Soe mengungkapkan selama 3 tahun terakhir no’om I no’mi juga memiliki visi sejalan dengan sustainable fashion. Selain menggunakan sustainable fabric seperti organic cotton, recycle cloth, label ini juga menggunakan banyak materi yang dibuat oleh pengrajin tanah air seperti recycle Batik maupun natural-dyed Batik, karena penggunaan Batik merupakan local empowerment yang ramah lingkungan.

    Di sisi lain Jakarta merupakan sumber inspirasi koleksi no’om I no’mi di tahun ini sehingga hadir koleksi yang diberi tajuk “Jakarta Vanguard” (#JKTVGD) dengan menampilkan label unisex pria (no’om) dan wanita (no’mi). 

    Soe membuat Jakarta dengan Organized Chaos-nya hadir lewat pendekatan Patch Works pada koleksi ini. Tetap mempertahankan Street Style, inspirasi Jakarta juga hadir lewat Cultural Icon, Ondel-Ondel, yang sangat ikonis. Dengan permainan warna, potongan, dan patch works, koleksi kali ini ditujukan untuk anak muda maupun mereka yang berjiwa muda. 


    Rigio - oleh Sergio Berlino 


    (Koleksi Rigio. Foto: Dok/PIMFW) 


    Berdiri sejak dua tahun lalu, label berbasis di Jakarta ini menghadirkan tren streetwear yang bebas aturan, tanpa batasan. Ia selalu berubah. Sergio Berlino sebagai direktur kreatif sepertinya ingin terus menghadirkan 'keleluasaan' dalam gaya busana. 

    Mengusung koleksi bertajuk 'Perspective', menurutnya setiap orang bisa mengekspresikan diri, dari apa yang menjadi inspirasinya. Entah itu buku yang mereka baa atau orang-orang yang mereka lihat dalam keseharian. Koleksi ini seperti sebuah perayaan keberagaman, dari berbagai banyak kepribadian, dan juga perilaku. 

    “Perspective” menghadirkan 26 look yang memadukan streetwear dengan gaya beragam, dari mulai sporty, militer, formal hingga punk/grunge. Seperti mengusung pesan agar bisa mengekspresikan diri dengan berbagai perspektif atau sudut pandang masing-masing. 

    Untuk penyampaian pesan dan koleksinya ini, Rigio membuat gebrakan dengan memadukan musik dan seni. Musik hadir lewat permainan tempo dari Random Brothers, Nara Anindyaguna dan Randy Danistha, yang menggabungkan musik pop dengan disco, techno, dan synthpop. Sementara, untuk bagian seni, Rigio turut menghadirkan aktris Salvita Decorte yang muncul dengan koleksi khusus yang memamerkan hasil karya lukisnya yang unik. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below