A Chat with Cinta Laura Kiehl: Suara Generasi Muda


  • A Chat with Cinta Laura Kiehl: Suara Generasi Muda
    Setelah lalui rangkaian proses pendewasaan, Cinta Laura Kiehl (25) kini jadi pribadi yang lebih mandiri terutama dalam menentukan pilihan. (Foto: Dok/herworldIndonesia)


    Setelah lalui rangkaian proses pendewasaan, Cinta Laura Kiehl (25) kini jadi pribadi yang lebih mandiri terutama dalam menentukan pilihan sendiri. Selain aktif di dunia film dan kembali merilis lagu, sejak bulan Juli silam, ia juga menjadi Duta Anti Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan.

    Seperti apa kesibukannya sekarang? Simak wawancara eksklusif herworld Indonesia berikut ini: 




    Hai, Cinta! Bagaimana studinya? Apa ada rencana untuk lanjut kuliah lagi?

    “Syukurlah semua sudah selesai. Namun saat ini saya masih belum mau ambil S2 karena ingin melanjutkan karier di dunia entertainment. Ternyata saya rindu. Setelah vakum cukup lama, akhirnya beberapa film dan single akan rilis tahun ini hingga 2020 nanti. Doakan semua berjalan sesuai rencana, ya!”  

    Oh, jadi Anda akan kembali jadi penyanyi dan aktris?

    “Untuk sekarang, iya. Karena setelah tujuh tahun absen dari studio rekaman, saya banyak dapat inspirasi saat tinggal di Amerika. Range musik saya bertambah luas dan ketertarikan pada ragam musik Latin jadi luar biasa besar. Sebut saja genre Reggaeton, Baile Funk, dan Afro Pop adalah yang paling saya sukai akhir-akhir ini. Nada-nada itu pula yang akan saya kawinkan pada empat lagu baru saya nanti. Nah, kalau untuk bermain peran, film saya bersama Herjunot Ali yang berjudul 'Jeritan Malam' akan segera tayang pada bulan Oktober mendatang di seluruh bioskop Tanah Air. Semoga bisa diterima dengan baik.”


    (Cinta Laura Kiehl. Foto Wong Sim. Tata Rias Wajah Bubah Alfian Tata Rias Rambut Kiefer Lippens Busana Marc Jacobs)


    Wah, berarti akan ada warna baru di musik-musik kamu?

    “Sangat! Itulah sebabnya saya begitu excited dalam mengerjakan keempat single yang seluruhnya saya tangani. I was very involved throughout the process. Mulai dari memilih genre, mengonsepkan video klip, editing, memilih wardrobe, sampai menulis lagu, everything was approved by me. Tak ada lagi sistem ‘terima jadi’ seperti dulu saat saya masih lebih muda dan clueless. Sebab ketika sekarang sudah mengerti apa yang disuka dan dimau, sebisa mungkin saya pasti coba merealisasikannya. Untunglah Sony Music memang selalu memastikan bahwa musik baru ini benar-benar merepresentasikan siapa diri saya yang sebenarnya. That’s why saya pun diberi kebebasan seluas-luasnya untuk berkreasi dan berkecimpung lebih jauh.”

    Wait, menulis lagu? Jadi seorang songwriter begitu maksudnya?

    “Exactly. Tapi hanya satu lagu saja. Hahaha! Karena ini adalah kali pertama saya menulis lirik dan belajar tentang songwriting, jadi saya coba satu lagu dulu. Selebihnya di tiga lagu lainnya, saya tetap turun tangan sebagai co-writer.”

    Menarik sekali! Boleh tahu judulnya?

    “Tentu. Judulnya adalah Caliente. Dalam bahasa Spanyol, caliente artinya ‘hot’. Namun dalam konteks yang lebih luas, kata ini bisa digunakan untuk menggambarkan lebih banyak hal. Nah, kebetulan di sini, saya akan berkisah tentang sebuah cerita cinta yang menyedihkan. A toxic passionate love song yang bakal diperkaya oleh nada-nada R&B. Kenapa tidak bikin ballad saja? Nope! Karena meski ballad adalah genre yang amat indah, but it’s definitely not me and I don’t find my self enjoy making ballad.”

    Jadi keempatnya nanti benar-benar akan diisi oleh genre Latin?

    “Sepertinya begitu. Inilah yang membuat saya sangat bahagia. Karena selain beat-nya bisa untuk nge-dance dan ‘saya banget’, keempatnya juga berhasil memaparkan perubahan saya seutuhnya sebagai seorang individu sekaligus pekerja seni yang sedang ingin mengenalkan nada baru pada seluruh penikmat musik di Indonesia.”

    So, kalau ditanya tentang mana yang lebih Anda prioritaskan, berkarier di jalur musik atau di layar lebar, apa jawaban Anda?

    “Movie is still my priority. Hanya saja karena masuk dapur rekaman terakhir itu pada tahun 2012, saya pun seketika rindu. Kebetulan juga karena saya tinggal di Amerika yang secara geografis terletak dekat dengan Karibia dan Amerika Selatan, maka aliran musik yang sebelumnya saya belum pernah tahu tiba-tiba jadi nada harian yang sering saya dengar baik dari teman atau dari rekomendasi aplikasi musik yang ada di telepon genggam. I don’t like sleepy music. That’s why I love Latin tunes! Setelah 'Vida' dan 'Caliente' rilis, kalian pasti mengerti selera musik saya sekarang.”

    Memangnya selera musik kamu dulu bagaimana? Punya penyanyi favorit saat kecil?

    “Punya, dong! Britney Spears was my childhood queen. Like literally I could scream out loud when seeing her singing, listening to her song. Hahaha. Terutama albumnya pada tahun 2001 dan 2005. Suka banget!”

    Beralih pada urusan gaya, apakah style kamu juga turut berubah?

    “Definitely, yes. Seperti dalam video klip Vida, saya merasa bersyukur karena dapat kesempatan untuk menggunakan dua baju rancangan desainer yang biasa mendandani Beyonce dan Cardi B. Nicolas Jebran namanya. Wardrobe-nya luar biasa! Nyaman, edgy, dan tetap tampak muda. Di sini, gaya saya bak terwakilkan karena memang saya sekarang seperti itu. Senang memakai buffalo shoes, celana pendek denim atau sweat pants, bodysuit, dan ragam aksesori wajib seperti hoop earrings, cincin bertumpuk, hingga gelang yang seluruhnya berwarna emas. I do love gold colored accessories! And gold hoop earrings is my number one favorite stuff.”

    Siapa inspirasi kamu?

    “Kalau untuk cara berpakaian, saya sangat suka dengan Rocky Barnes. Tampilan Boho Chic-nya begitu enak dipandang dan cukup merepresentasikan diri saya. Jadi bila sedang ingin bergaya seperti itu, saya akan langsung melihatnya. Tapi kalau untuk makeup look, tatanan rambut, dan cara berpakaian formal, saya suka dengan Rosie Huntington-Whiteley. Memesona dan berkelas selalu.”


    (Cinta Laura Kiehl. Foto Wong Sim. Tata Rias Wajah Bubah Alfian Tata Rias Rambut Kiefer Lippens Busana Marc Jacobs)


    Bicara soal gaya hidup sehat yang selalu kamu lakukan, bagaimana bisa terus konsisten menjalaninya?

    “Keluarga saya adalah keluarga yang sangat fit. Kami suka makan enak tapi juga sangat suka berolahraga. At least, kalau habis makan di restoran kami suka menyempatkan diri untuk jalan kaki cukup lama supaya apa yang baru dinikmati tak kemudian tertimbun menjadi lemak jahat. We’d love to eat and workout as well. Ayah saya pun sampai sekarang masih berenang empat kali dalam seminggu. We’re a super healthy family. Karena itulah kenapa saya senang menjalani gaya hidup sehat. Karena memang sudah terbiasa dari kecil dan besar di lingkungan yang mendukung.”

    Ada rencana menjadi vegan?

    “Never! I cannot be a vegan ever! Punya setengah darah Jerman membuat saya sangat suka keju dan roti, serta punya setengah darah Indonesia membuat saya suka makan apa saja. Hahaha! Yes, I love food. Apalagi salah satu makanan kesukaan saya adalah telur. Tapi kalau jadi prescetarian saya bisa karena memang inilah yang sedang saya jalani. Senin sampai Jumat tidak makan daging sama sekali melainkan ikan dan sayuran, Sabtu dan Minggu bebas makan apa saja. Itupun tetap dibarengi dengan olahraga.”

    Kalau begitu, adakah makanan ‘kurang sehat’ yang kamu suka?

    “Segala jenis cokelat dan New York Pizza!”

    Nampaknya kamu sangat suka New York. Apa sih yang menarik di sana?

    “New York is a melting pot city. Ragam budaya, ras, dan etnik berbaur jadi satu di sebuah kota yang ramai sehingga membuat saya sulit lupa. Banyak perbedaan rupa dan warna di sana. Bahkan boleh dibilang, ia adalah one of the most stylish city ever in my opinion (Brooklyn salah satunya), terlebih saat Fashion Week sedang berlangsung. Itulah yang membuat saya senang di sana selain juga pizza tentunya. Hehehe.”

    Wah, terdengar seru. Semoga kamu bisa ke sana lagi lain waktu. Moreover, kamu kan dikenal pula sebagai salah satu public figure yang punya latar belakang pendidikan teramat baik. Adakah tokoh yang menginspirasi sejauh ini?

    “Ada tiga figur. Pertama Sri Mulyani, kedua Margaret Thatcher, dan yang ketiga adalah Angelina Jolie. Kecerdasan dan keberanian Sri Mulyani bersuara membuat saya selalu kagum. Tak hanya itu, beliau juga tampak selalu berhasil dalam membuktikan seluruh perkataan dan poin-poin yang ia usung. Semua disampaikan dengan tegas, gamblang dan berisi. Sama halnya seperti Margaret Thatcher. Sesuai dengan julukannya yaitu perempuan baja, ia tampak tak pernah takut menghadapi apa pun saat ia tahu dirinya benar. Sedangkan Angelina Jolie, selalu saya kagumi sebab ia adalah salah satu strongest and powerful female figure yang kata-katanya mampu mengubah dunia khususnya dalam hal kesejahteraan sosial. Ingin sekali satu hari nanti saya bisa seperti mereka.”

    Pasti bisa! Then, last but not least, what will you do now? Setelah kembali dari Amerika, adakah rencana yang akan kamu lakukan selain berkecimpung di dunia hiburan?

    Surely, yes. Kini saya ingin mengerahkan tenaga dan pikiran saya untuk para perempuan di Indonesia. I want to be an ambassador for women’s right and domestic violence. Sebab mereka masih sering bungkam saat menerima perlakuan tidak menyenangkan (baca: kekerasan, pelecehan, dan lain sebagainya). Saya pun mengalaminya. Oleh karenanya saya tak mau hal ini terjadi pada sesama perempuan. Jika bisa bersuara, bersuaralah! Saya ingin jadi orang yang bisa membantu mereka dalam melewati situasi tersebut. I am a voice of the youth and of the generation too. So, I wanna do part in helping women.”

    Apa yang kamu rasa perlu dilakukan?

    “Di negara Barat, rasanya sudah banyak undang-undang yang melindungi perempuan dari tindakan-tindakan tak mengenakkan. Nah, saya lihat di sini masih kurang. Ini yang ingin saya perjuangkan. Jangan sampai trauma yang menempel pada korban kemudian tak tertangani dan lewat begitu saja sampai mengganggu mental mereka di masa yang akan datang. Saya sendiri mengalami masa yang buruk pada salah satu hubungan yang saya jalani. Meski berat, namun kejadian tersebut berhasil membuka mata dan justru makin menguatkan hati saya untuk lebih berhati-hati dan peduli pada diri sendiri di kemudian hari. Don’t let any bad experiences break you!”

    (Teks: Rengganis Parahita) 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below