Review Film: 'Dragon Ball Super: Broly'


  • Review Film: 'Dragon Ball Super: Broly'
    Film 'Dragon Ball Super: Broly' menghadirkan kisah Songoku dari komik populer Dragon Ball dengan animasi yang lucu dan menghibur. (Foto: Dok/imdb.com)


    Film Dragon Ball Super: Broly menghadirkan kisah Songoku dan tujuh bola naga. Kali ini, selain berhadapan dengan musuh berkekuatan super Frieza, Goku juga mesti melawan Broly, yang tak kalah kuat dan berbahaya.

    Lebih dulu populer lewat komik 'Dragon Ball' karya Akira Toriyama, kisah Goku yang lugu dan polos saat bertemu Burma dan berburu tujuh bola naga memberi keasikan tersendiri. 



    Kali ini, dari gambar kini ia mewujud menjadi animasi di layar lebar yang penuh warna, bergerak dan bersuara. Tokoh-tokoh sepertu Songoku, Burma, Piccolo, dan musuh bebuyutan yang punya kekuatan super Frieza hadir persis seperti di komik. 

    (Baca juga: Review Film: Aquaman)

    Di paruh pertama film 'Dragon Ball Super: Broly', penonton dikenalkan pada bangsa Saiya, di mana Songoku berasal. Ini menjadi jawaban kenapa Goku kemudian terdampar di bumi dan kemudian menjalani kisah serunya bersama Burma. 


    (Dragon Ball. Foto: Dok/imdb.com)


    Tak hanya latar kisah hidup Songoku, tapi juga Bezita (atau Vegeta) yang merupakan putra kerajaan di planet Saiya yang bertahan hidup dan kemudian menjadi teman duel Songoku. 

    Mengangkat alur flashback, cerita lalu maju ke beberapa tahun kemudian ketika Songoku sudah dewasa, dan Vegeta-Burma telah menikah dan punya anak. Tapi kebiasaan mereka mencari dan menemukan tujuh bola naga masih terus dilakukan. 

    Tak hanya Frieza yang menjadi musuh, tapi kemudian hadir Broly, yang sama seperti Goku, berasal dari bangsa Saiya. Broly tak kalah kuat dan bisa jadi berkemampuan setara dengan Goku dan Vegeta. 

    Hingga satu saat, pertempuran antara Songoku-Vegeta dan Broly pun tak terhindarkan. Frieza memanfaatkan momen ini untuk menjadi pemenang tanpa harus ikut campur. Namun, Broly tak terkendali sehingga menjadikan pertempuran hebat antar kekuatan super saiya. 

    (Baca juga Review Film: Firstman)

    Kembalinya kisah Songoku di layar lebar akan menjadi motivasi tersendiri bagi publik, khususnya pencinta komik Dragon Ball buat menonton dan menuju bioskop.

    Tatsuya Nagamine (yang pernah membuat animasi One Piece) sebagai sutradara membuat penonton merasakan kehadiran Songoku dengan gayanya yang polos tapi juga pintar. Burma yang masih saja cerewet dan punya rahasia teknologi canggih. Piccolo yang berdiam diri tapi memantau dari jauh. 


    (Broly di Dragon Ball. Foto: Dok/imdb.com)


    Yang menarik adalah film ini mengambil beberapa petikan khas dari komik Dragon Ball dan menghadirkannya dengan cara yang unik. Seperti kekuatan super Songoku yang bisa berubah menjadi super saiya. Atau senjata andalan 'kamehameha' yang mampu menghancurkan apapun di hadapannya. 

    Di luar itu, Dragon Ball juga mencoba menghadirkan fusion, penggabungan dua energi jadi satu. Bagi yang membaca lengkap seri komik Dragon Ball pasti ingat akan aksi ini dan film ini menghadirkannya dengan cara yang menghibur dan jadi salah satu yang mungkin menempel di ingatan begitu film ini usai.  

    Dengan penggarapan animasi yang dibuat mirip seperti komik aslinya, dan kemajuan teknologi yang canggih, film animasi 'Dragon Ball Super: Broly' dari Jepang ini lebih pada nostalgia para pencinta komik Dragon Ball. Bagi yang tak mengikutinya bisa jadi akan mendapat animasi yang membingungkan, karena banyak kisah kontekstual di balik ceritanya. 

    Film Dragon Ball Super: Broly didistribusikan Toei Animation bersama 20th Century Fox, dan tayang di Indonesia Rabu, 20 Februari 2019. 




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below