Review Film: 'Green Book'


  • Review Film: 'Green Book'
    Dengan garapannya yang baik dan pemeran yang pas, film Green Book jadi salah satu film road-trip terbaik yang asik buat ditonton. (Foto: Dok/GreenBook/imdb.com)


    Film 'Green Book' menjadi salah satu road-trip movie terbaik tahun ini. Berkat garapan skenario yang baik serta pemeran yang pas, film ini menghibur dari awal sampai akhir. 

    Mahershala Ali bermain sebagai maestro pianis jazz hebat sembari mengkonronftasi rasisme dengan sopir pribadinya yang diperankan Viggo Mortensen. 



    Diangkat dari kisah nyata berlatar 1960-an di selatan Amerika Serikat yang kental isu kulit hitam dan putih, Green Book membuka mata akan perbedaan dan sekaligus mengingatkan akan bahwa semua manusia itu sama, meski berbeda warna kulit. 

    (Baca juga: Review Film: The Upside) 

    Film Green Book dibuka dengan adegan Tony Vallelonga aka Tony Lip (Mortensen) yang bekerja di klub malam sebagai petugas penjaga. Pria kulit putih berdarah Italia-AS ini bertugas mengamankan klub dari kerusuhan dan siap pasang badan jika terjadi apa-apa. Namun, satu insiden membuatnya kehilangan pekerjaan. 

    Ayah dari dua anak dan suami romantis ini lalu mendapat tawaran kerja sebagai sopir pribadi Dr Don Shirley (Ali), pianis jazz Afrika-Amerika yang ingin melakukan tur selama 8 minggu ke kawasan selatan AS. Perjalanan ini menjadi tak biasa, karena kawasan tersebut dikenal sangat rasis. 


    (Green Book. Foto: Dok/imdb.com)


    Berdasarkan buku hijau (green book) yang memuat panduan traveling bagi warga kulit hitam (memuat restoran dan hotel khusus terpisah dari kulit putih), Tony dan Don memulai perjalanan. 

    Perbedan yang kentara membuat banyak persinggungan sepanjang jalan. Ali yang elegan, perhitungan dan 'berkelas' bersebrangan dengan sikap Tony yang urakan, liar dan seenaknya. Namun, perbedaan itu tak sampai membuat mereka bersitegang lama. 

    Berbagai persoalan yang dijumpai justru membuat mereka saling dekat satu sama lain. Ali membantu Tony membuatkan surat untuk istrinya. Tony membantu Ali menikmati hidup tanpa banyak beban dan aturan. Berbagai hal yang terjadi selama dua bulan di perjalanan membuat mereka sadar akan arti menerima dan persahabatan. 

    Pesan hangat yang hadir lewat tatapan, dan juga pesan yang disampaikan satu sama lain. Peter Farrelly (Dumb & Dumber, dan There's Something About Mary), berhasil membuat film ini menghibur seklaigus menghangatkan hati. 

    (Baca juga: Review Film: Robin Hood) 

    Beranjak dari kisah nyata, skenario film ini ditulis bersama Nick Vallelonga (putra Tony Vallelonga), Peter Farrelly, dan Brian Hayes Currie, dengan pengembangan karakter sedemikian rupa. 


    (Green Book. Foto: Dok/imdb.com)


    Green Book, panduan khusus untuk warga kulit berwarna ini saja sudah mencerminkan adanya tindakan diskirminasi. Dan dua tokoh utama Tony dan Don adalah dua orang yang juga berseberangan. Dari sini saja film ini sebenarnya sudah menjanjikan. 

    Interaksi peran karakter kulit putih-hitam sekilas mungkin akan mengingatkan pada Driving Miss Daisy atau yang baru-baru ini hadir The Upside. Semua kemungkinan terbuka, terutama akan dialog mengenai perbedaan dalam situasi yang menghibur alias komedi. 

    Di samping skenario yang matang, dua aktor utama Green Book bisa jadi penyelamat film ini. Mahershala Ali adalah maestro aktor yang seolah akan membuatnya tampak seperti maestro pianis di layar. Dalam salah satu wawancara di media, ia mengungkapkan dirinya dibantu Kris Bowers, komposer film ini dalam memainkan peran saat bermain piano. 

    Sementara, Viggo Mortensen juga bukan aktor biasa. Aksinya di film ini membuat orang tak lagi mengenal Viggo tapi sebenarnya Tony Lip, yang urakan, dan penuh omong kosong. Tak mengherankan jika ia masuk nominasi best actor di berbagai ajang penghargaan berkat peran ini. 

    Dengan sederet keunggulan dialog yang mengena, dan aktor yang pas, film Green Book menjadi drama komedi yang menghibur dan asik buat dittonton. Setidaknya ada pesan yang menempel di ingatan. Akan bagaimana pentingnya bersikap dan resspect terhadpa orang lain, dan tak kalah penting terhadp diri sendiri. Dan buat para pejalan atau traveler, akan ingin merasakan ayam goreng KFC yang sebenarnya saat melewati Kentucky. 

    Film Green Book adalah salah satu film wajib tonton tahun ini. 





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below