A Chat with Luna Maya: 'Life After the Storm'


  • A Chat with Luna Maya: 'Life After the Storm'
    Luna Maya buka-bukaan perihal perjalanan hidupnya dari mulai kehidupan pribadi(Foto:Dok.Rajasiregar/Her World Indonesia)


    Jadi tahun yang tak terlupakan, 2019 jadi momen Luna Maya, 36, untuk belajar mengedepankan kebahagiaan diri. 




    Herworld Indonesia (HW): Hai, Luna! Selamat untuk bisnis baru, 'Nama Beauty'. Kenapa berani terjun di sini?

    Luna Maya (LM): Awalnya sempat tidak percaya diri tapi saya melihat pasarnya bertambah besar. Saya sendiri memang pencinta makeup, jadi kenapa tidak mencobanya? Akhirnya saya beranikan diri untuk memulai. 


    HW: Dari sekadar suka hingga berani berbisnis, apa yang paling menantang?

    LM: Proses ini berjalan setahun mulai dari memilih warna, formula, bolak-balik ke lab, membuat PT dan BPOM. Tak semudah yang dikira. Tapi melihat antusias yang besar, saya merasa lega dan bangga. Paling menantang justru saat membuat formula karena terlalu banyak yang ingin dibuat.


    HW: Bicara karier, apa yang sedang Luna fokuskan sekarang?

    LM: Masih film dan bisnis. Kebetulan saya baru selesai berakting di Rumah Kentang: The Beginning di mana saya berperan sebagai Sophie, seorang ilustrator novel horor yang mengungkap suatu misteri.


    HW: Bagaimana kamu mempertahankan eksistensinya?

    LM: Setiap dapat pekerjaan, saya harus memberikan yang terbaik. Selalu berusaha meng-upgrade diri dan selalu berpikir bahwa pekerjaan ini untuk menyambung hidup sekaligus jadi passion. Kalau kita dapat popularitas, itu hanya bonus, jadi jangan terbuai dengan semua itu.


    HW: Pernah terbuai?

    LM: Pasti pernah, tapi setelah dilalui ternyata biasa saja. Intinya, kalau masih ada orang yang percaya dengan kemampuan kita, pasti kita akan terus eksis. Caranya seperti di atas tadi dan always be humble.


    HW: Saat googling ‘Luna Maya’, kebanyakan artikel membahas soal asmara. Opini Anda?

    LM: Sebenarnya saya tak terlalu peduli tapi lumayan tragis ya, kenapa orang tertarik dengan kisah asmara. Mungkin karena kepo atau mungkin karena secara adat di budaya Timur, perempuan seusia saya sudah menikah dan berkeluarga. Padahal bagi saya, usia hanya sekadar angka. Jika belum ada yang cocok dan bikin nyaman, enggak harus dipaksa. Kalau hanya untuk memenuhi status, dari dulu mungkin saya sudah nikah. Tapi saya bukan tipe itu. Lebih baik telat menikah tapi yakin bahwa satu untuk selamanya. Jadi, melihat artikel seperti itu, saya enggak sedih, justru jadi bahan tertawa. Mungkin itu adalah bentuk perhatian orang, mereka enggak ingin saya kesepian.


    HW: Tapi, apa arti cinta bagi Luna?

    LM: Simple and beautiful yet complicated. Perlu banyak pengorbanan dan rasa sakit, karena saat kita mencintai seseorang, pasti ada rasa cemburu, ada ekspektasi lebih. Namun, juga ada rasa nyaman dan kehangatan dalam hati. Love can really hurt you, but it can also make your day full of smile.


    (Luna Maya bercerita tentang kehidupan pribadinya.Foto:Dok.Raja Siregar/Her World Indonesia)


    HW: Soal perasaan, apakah kamu tipe yang tertutup atau terbuka?

    LM: I have nothing to hide. If you wanna know about my life, I will tell you. Di media mungkin saya terlihat lebih tertutup. Sebenarnya bukan karena sengaja menyembunyikan, tapi kalau baru satu-dua bulan pacaran lalu tiba-tiba gagal, malu kan? Nanti terkesan banyak banget pacarnya! Makanya saya baru akan memperkenalkan setelah arahnya jelas. Masalah nanti jadi nikah atau tidak, semua tergantung rezeki. Soal kasus kemarin, walaupun hubungan sudah lama ternyata tidak lanjut, berarti memang segitu saja jodohnya. Saya tidak bisa memaksakan sesuatu yang sudah ditakdirkan.


    HW: Punya kriteria khusus dalam mencari pasangan?

    LM: Saya punya daftar yang lumayan panjang, sekitar 30-an. Artinya, saya memang cukup spesifik dan ada high expectation, tapi tidak boleh jadi patokan juga sih. Intinya, yang bikin saya nyangkut itu biasanya selalu yang tidak terduga, misalnya obrolan nyambung, humoris, bisa bikin nyaman, dan yang pasti bisa bikin saya jadi diri sendiri.


    HW: Ada tip untuk move on?

    LM: Cukup jalani dan nikmati saja. Kalau hari ini ingin menangis, ya menangislah. Kalau besok ingin tertawa, ya tertawa. Tapi akan ada waktu di mana kita merasa enough is enough. Hati enggak perlu tip dan trik. Ia tahu cara menyembuhkan dirinya sendiri. Saya hanya berusaha menjalani hari ini sebaik mungkin. Walau masih mengganggu, namanya juga patah hati, tapi saya yakin akan ada hari di mana rasa sakit mereda.


    HW: Punya mantan dalam satu circle, pernah takut tak sengaja bertemu?

    LM: Mungkin bukan takut, tapi kadang bingung akan apa yang harus dilakukan. I think we should be the bigger person, we have to have that strength and courage. Soal nanti diterima pihak lain secara tidak baik, tapi berjiwa besar dan mengalahkan ego akan membuat kita lebih positif.


    HW: Patah hati di depan publik, terasa lebih sakit?

    LM: Kita semua manusia yang punya masalah. Hati ya tetap hati. Tapi tentu tekanan di publik memang lebih besar, namun tidak banyak orang yang bisa mengerti. Makanya, yang menentukan kita bisa kuat atau tidak adalah diri sendiri. 


    HW: Siapa saja orang terdekat yang menyemangati Luna?

    LM: Ada banyak, biasanya via telepon atau teks. Serunya teman-teman tidak bahas masalahnya, jadi bisa buat kita lupa sesaat.


    HW: Fans salah satunya?

    LM: Tentu! Mereka selalu menyemangati lewat kata-kata suportif yang tidak bisa saya balas satu per satu. I just wanna say thank you for being there for all these times. Tanpa demand mereka sebagai fans, saya tidak akan ada di sini. Siapa pun di luar sana, tidak harus nge-fans, tapi di saat kalian bisa merasakan apa yang saya rasakan dan masih tetap mendukung, terima kasih! It means a lot.


    HW: Jelang akhir tahun, pelajaran apa yang Luna dapat selama 2019?

    LM: I’ve been loving myself, so I’m gonna love myself more. Selama ini saya menyepelekan diri sendiri dengan selalu menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Ternyata dengan melajang dan belajar mencintai diri jadi hal terbaik dalam hidup. Rasanya, saya kembali hidup! Where have I been all these years? Kini, saya terlihat lebih cerah, lebih bersemangat, dan tak mudah sakit.


    HW: Ada hal-hal yang ingin kamu ubah di masa lalu?

    LM: I wish I was this smart when I’m younger. Tapi harusnya sih tak ada penyesalan, karena Luna yang sekarang, tetap saya suka. Kalau saya menyesal dan ingin mengubah sesuatu, mungkin saya tak jadi seperti ini. Tapi, apakah akan jadi lebih baik atau malah memburuk, saya juga tidak tahu.


    HW: Apa yang paling kamu nantikan pada tahun 2020 nanti?

    LM: Lebih banyak traveling ke tempat baru, bertemu orang baru, menemukan cinta baru. Sudah lumayan lama jomblo hahaha…


    HW: Terakhir, di tengah gejolak yang ada, bagaimana cara Luna tetap positif?

    LM: Saya selalu mencoba merasakan apa yang dialami orang lain. Walau kadang masih khilaf saat bersama teman-teman, tapi setelahnya saya selalu berpikir enggak enak lho jadi omongan, pasti ada alasan mengapa mereka seperti itu. Intinya, saya selalu berusaha untuk tidak menyakiti orang karena saya tahu rasanya sangat menyakitkan.



    (Teks: Kiki Riama Priskila, Fotografer: Raja Siregar, pengarah gaya Bimo Permadi, Asisten pengarah gaya Yolanda Deayu, Tata rias wajah Bubah Alfian, Tata rambut Rangga Yusuf, Busana Sebastian Gunawan Couture, aksesori Rinaldy A Yunardi)