Ulasan Seni: Operet Aku Anak Rusun 2: Selendang Arimbi


  • Ulasan Seni: Operet Aku Anak Rusun 2: Selendang Arimbi
    Setelah sukses digelar dua tahun lalu, Operet Aku Anak Rusun kembali hadir untuk gelarannya yang ke-dua. (Foto: Dok/OperetAAR)


    Setelah sukses digelar dua tahun lalu, Operet Aku Anak Rusun kembali hadir untuk gelarannya yang ke-dua pada tahun ini. Mengusung judul 'Selendang Arimbi', kali ini drama musikal yang melibatkan hampir 200 anak rusun itu berlangsung di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada pertengahan November lalu. 

    Diusung Soundkestra dan Yayasan Waroeng Imaji atas inisiasi Veronica Tan, operet ini menjadi medium dan wadah bagi anak rusun mengembangkan bakat seni musik dan pertunjukan. 



    Untuk pertunjukan kali ini, Operet Aku Anak rusun melibatkan anak-anak dari tiga rusun di Jakarta, yakni Rawa Bebek, Daan Mogot dan Pulo Gebang. Terdapat sekitar 130 anak sebagai penari, 12 anak sebagai pemeran inti dan 40 anak sebagai penyanyi. 

    Dengan penggarapan yang matang dari musik, koreo tari, kostum, dan tata panggung serta properti, Operet Aku Anak Rusun 2 menghibur, memanjakan mata, serta sarat pesan yang tersampaikan dengan mudah. 

    (Baca juga: Operet Aku Anak Rusun: Selendang Arimbi) 


    (Operet Aku Anak Rusun 2: Selendang Arimbi. Foto: Dok/AAR) 


    Operet Aku Anak Rusun dibuka dengan adegan Arimbi kecil bersama ibunya Sinta yang baru pindah ke rumah susun, setelah rumah mereka di bantaran kali kena gusur. Ayah Arimbi sudah tiada saat ia kecil. Adegan beralih cepat, ketika Arimbi sudah beranjak remaja dan unjuk kebolehannya menari dan menyanyi di sanggar tari Atnis Ibmira. 

    Di sanggar inilah persoalan muncul. Arimbi mendapatkan teman baik yang mendukungnya, tapi seiring itu ada juga yang membenci dan menaruh rasa iri padanya. Bertumbuh dengan ibunya sebagai single mother dan sakit-sakitan, Arimbi turut membantu mencari nafkah dengan berjualan selendang jumputan. 

    Di tengah mengejar impiannya menjadi penari handal, seperti ibunya, Arimbi juga mesti berjuang menghadapi bully-an. 

    Drama musikal 

    Operet Aku Anak Rusun ‘Selendang Arimbi’ hadir dengan pertunjukan drama musikal yang menghibur, dengan tarian, nyanyian, dan juga tata panggung. Dari segi cerita, operet mengangkat nilai toleransi, solidaritas, serta semangat mewujudkan mimpi yang melibatkan talenta anak-anak Indonesia dari 3 rusun yang dikoordinasi oleh yayasan nirlaba. Anak-anak ini dilatih oleh para pekerja seni yang mumpuni di bidang drama musikal.

    Dalam catatan produksinya, Veronica Tan, Founder Yayasan Waroeng Imaji, mengatakan, konsep Operet Aku Anak Rusun bertujuan untuk memberikan kesempatan pada anak-anak rusun untuk berkreasi di bidang seni. 

    "Ternyata banyak anak-anak rusun yang memiliki talenta luar biasa dan masih bisa dikembangkan lagi. Setelah keberhasilan Operet Aku Anak Rusun yang pertama di tahun 2017, kami melihat konsep ini dapat terus dilanjutkan, sehingga tahun ini hadir dengan Operet Aku Anak Rusun 2," ujarnya. 

    Konten Operet Aku Anak Rusun 2 yang berjudul “Selendang Arimbi”, kata dia, mengangkat nilai positif yang relevan dengan anak-anak dan masyarakat umum, seperti nilai toleransi, solidaritas dan semangat mewujudkan mimpi. Kami optimis nilai-nilai itu penting untuk anak-anak dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.


    (Operet Aku Anak Rusun 2: Selendang Arimbi. Foto: Dok./AAR) 


    Pertunjukan untuk anak-anak rusun

    Vanda Parengkuan, penulis Naskah Operet Aku Anak Rusun 2 mengatakan, drama musikal AAR: Selendang Arimbi ini dibuat untuk dua kelompok anak-anak yaitu; anak-anak rusun yang memainkan drama musikal ini di panggung, dan anak-anak lainnya yang menonton pertunjukan. 

    "Melalui dialog tokoh-tokoh cerita, alur cerita, lagu, dan tarian, diharapkan, baik anak-anak yang berperan di panggung, maupun anak-anak penonton, semuanya bisa belajar tentang berbagai karakter manusia, budaya, cara berpikir, dan cara mengatasi masalah. Melalui drama musikal ini, semoga anak-anak bisa belajar berempati pada sesama manusia tanpa memandang perbedaan,” ujarnya. 

    Operet AAR mendapatkan dukungan dari Gerakan Kepedulian Indonesia sebagai koordinator rusun dan tim dari Gloriamus yang melaksanakan pelatihan paduan suara. 

    "Ada sekitar 20 lagu-lagu Indonesia, yang berbeda dari musikal kami yang pertama, termasuk lagu anak-anak, tradisional, dan bahkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Chrisye ataupun Koes Plus. Lagu-lagu tersebut diaransemen ulang oleh Soundkestra dan dikemas dengan berbagai genre yang lebih modern," ujar Dovieke Angsana, Producer & Artistic Director.

    Lagu-lagu yang dibawakan antara lain Janger, Marilah Kemari, Padang Bulan, dan rangkaian medley lagu anak-anak seperti Anak Kambing Saya, Naik-naik ke Puncak Gunung, Semut-semut Kecil, dan banyak lagi, yang mungkin sudah tidak dikenal oleh anak-anak zaman sekarang.

    Pertunjukan Operet Aku Anak Rusun kali ini juga memberi tribut dan penghormatan untuk Rita Dewi Saleh, selaku Stage Director & Choreographer yang meninggal beberapa hari sebelum pementasan. Sementara, seluruh hasil penjualan tiket dan keuntungan sponsorship disebutkan akan dikembalikan untuk pelatihan anak rusun.