'Mataguru', Koleksi Unik Iwan Tirta Private Collection


  • 'Mataguru', Koleksi Unik Iwan Tirta Private Collection
    Iwan Tirta Private Collection menghadirkan koleksi terbaru dan unik lewat 'Mata Guru'. (Foto: Dok/IwanTirta)


    Iwan Tirta Private Collection kembali menghadirkan koleksi terbarunya yang diberi tajuk 'Mataguru'. Mengusung 36 look dengan konsep peragaan yang terinspirasi dari pertunjukan wayang, koleksi Mataguru juga menandai potongan busana batik Iwan Tirta yang mengikuti zaman, dan kekinian. 

    Didominasi motif mencolok 'Mataguru', beberapa busana yang dihadirkan juga mengambil gaya sartorial melalui kombinasi material sutra satin dan sutra tenun dengan material tulle. Lewat koleksinya kali ini, Iwan Tirta Private Collection seolah ingin menyampaikan tentang konsep batik yang modern namun tetap mewah.



    Rangkaian koleksi pakaian wanita ditampilkan dalam berbagai pilihan kombinasi dress dan outer, serta pada beberapa look terlihat kombinasi outer dengan celana yang kekinian. Koleksi “Mataguru” juga dipercantik dengan aksesoris dari Rinaldy Yunardi, seperti brooch, oversized earrings dan clutch. Sedangkan untuk koleksi pria, masih didominasi dengan kemeja yang tampil dalam variasi motif utama “Mataguru”.

    (Baca juga: 7 Label Batik Stylish untuk Hari Batik Nasional) 


    Tampil dengan styling kombinasi etnik modern yaitu dengan paduan coat, sarung, hingga celana pendek, untuk memberikan inspirasi alternatif paduan kemeja yang cocok untuk kesempatan formal yang edgy. Seluruh tampilan koleksi pakaian pria “Mataguru” ini disempurnakan oleh koleksi sepatu pria dari Mario Minardi. 


    (Koleksi Mataguru. Foto: Dok/IwanTirtaPrivateCollection) 


    Warisan budaya batik 

    Melalui koleksi bertajuk “Mataguru”, Iwan Tirta selaku maestro sekaligus pendiri label tersebut, kembali menjadi sumber ide dan inspirasi dalam melahirkan kreasi. Widiyana Sudirman, CEO Iwan Tirta Private Collection mengungkapkan, "'Mataguru' adalah apresiasi kami sebagai generasi penerus kepada sang maestro Iwan Tirta, dalam membawakan batik hingga menjadi suatu warisan budaya yang tetap relevan dari generasi satu ke generasi lainnya."

    “Mataguru” dalam pergelaran ini diartikan sebagai visi seorang Iwan Tirta dalam perjalanannya hingga menjadi seorang maestro budaya. Di mana dalam setiap perjalanan tersebut, sang maestro banyak belajar dan menyerap dari berbagai sumber, dalam menghadirkan karya-karya batik sepanjang hidupnya, sehingga menjadi karya adiluhung. Pergelaran “Mataguru” menjadi pergelaran ketiga Iwan Tirta Private Collection dengan didukung oleh PermataBank Priority.

    Peragaan diawali dengan memperkenalkan tim senior Iwan Tirta Private Collection, dimana beberapa di antaranya bahkan pernah bekerja langsung bersama dengan sang maestro, Iwan Tirta. Prosesi pembuka ini adalah simbol sebuah kerjasama tim sehingga pergelaran ini dapat terjadi. Pergelaran ini adalah karya hasil dari orkestrasi masing-masing individu yang memiliki peran penting di setiap lininya.

    Prosesi ini kemudian akan dilanjutkan dengan pemutaran film pendek “Perjalanan Sehelai Kain” yang telah diluncurkan pertama kali pada Hari Batik Nasional ke-10, 2 Oktober 2019 lalu. Film pendek tersebut dibuat dengan tujuan untuk mengedukasi khalayak bahwa batik adalah warisan budaya yang membutuhkan proses demi proses untuk menjadikan sehelai kain yang indah. Film ini juga diharapkan dapat menjadi medium komunikasi untuk meneruskan misi sang maestro dalam melestarikan batik sebagai warisan seni dan budaya kebanggaan Indonesia. 

    “Lebih dari itu, kami ingin memberikan gambaran bahwa proses membuat batik adalah tentang kerjasama. Setiap prosesnya dilakukan oleh orang atau tim yang berbeda,” ungkap Widiyana.


    (Koleksi Mataguru. Foto: Dok/IwanTirtaPrivateCollection)


    Konsep wayang 

    Peragaan 'Mataguru' mengadaptasi konsep yang biasa diaplikasikan dari elemen pertunjukan wayang yang disuguhkan melalui parade 3 (tiga) babak (sequences). Masing-masing babak terinspirasi oleh babak dalam pertunjukan wayang yaitu: Talu, Adeg Jejer, dan Adeg Sabrang. 

    Pada babak “Talu”, koleksi “Mataguru” didominasi dengan motif Pohon Hayat dan Gunungan Kekayon yang juga kerap dipakai sebagai simbol pembuka pada pertunjukkan wayang. Dalam sequence ini, motif Pohon Hayat dan Gunungan Kekayon banyak didominasi warna abu-abu.

    “Mataguru” dilanjutkan dengan babak “Adeg Jejer” yang didominasi oleh motif-motif Keraton dengan palet khas batik Keraton yang klasik yaitu cokelat. Rangkaian koleksi sequence “Adeg Jejer” ini adalah simbol tentang perjalanan Iwan Tirta dalam mempelajari batik dari balik tembok Keraton Jawa. Motif Parang, Mangkuto (mahkota) dan Gurdo sebagaimana banyak ditemukan dalam simbol-simbol pada Keraton Jawa pun banyak mewarnai sequence ini.

    “Mataguru” kemudian ditutup dengan sequence “Adeg Sabrang” dengan menampilkan motif-motif yang terpengaruh budaya Eropa dan China. Stilasi bunga dan burung dalam kombinasi warna cerah menjadi porsi utama dalam babak ini, sebagaimana ciri khas motif-motif batik pesisir Jawa yang banyak terpengaruh oleh budaya asing yang masuk ke Indonesia tersebut. “Adeg Sabrang” adalah juga tentang bagaimana Iwan Tirta mengadaptasi paparannya terhadap fashion internasional ke dalam batik tradisional.

    Meski tidak mengadopsi sepenuhnya, konsep Wayang dihadirkan melalui permainan light and shadow. Elemen pohon besar diaplikasikan sebagai dekorasi pada panggung sebagai terjemahan dari Pohon Hayat, yang membawakan cerita tentang bagaimana asal-muasal kehidupan alam semesta, juga sebagai simbol siklus perjalanan kehidupan.

    Secara keseluruhan, “Mataguru” dapat dikatakan sebagai koleksi yang mengadaptasi visi sang maestro Iwan Tirta yang kemudian juga mengimplementasikannya sesuai relevansi gaya hidup saat ini.

    Dan untuk pertama kalinya Iwan Tirta Private Collection bergabung dengan e-commerce, dimana JD.id sebagai platform e-commerce pertama yang dipilih oleh Iwan Tirta Private Collection dalam menjual koleksi ready-to-wearnya.




 
Advertisement - Continue Reading Below