Review Film: 'Keluarga Cemara'


  • Review Film: 'Keluarga Cemara'
    Diadaptasi dari seri drama populer Arswendo Atmowiloto, film 'Keluarga Cemara' memberi fokus pada cerita Ara dan keluarganya yang sederhana. (Foto: Dok/VisinemaPictures)


    "Selamat pagi Emak, selamat pagi Abah,,,"

    Seiring dengan lagu ini, ingatan akan langsung membayang akan sosok gemas Ara, Opak, dan kesederhanaan 'Keluarga Cemara'.  Kedekatan dan kejujuran yang hadir di serial tv legendaris yang tayang dari 1996-2005 itu, kini hadir dalam bentuk baru. 



    Film 'Keluarga Cemara' yang disutradarai Yandy Laurens hadir dengan semangat cerita yang mengusung keluarga dan kesederhanaan, tapi lebih kekinian. Dengan skrip yang ditulis bersama Gina S. Noer, Yandy mengambil plot prolog sebelum Agil (anak ketiga lahir), sehingga kisah 'Keluarga Cemara' itu terdiri dari Abah, Emak, Euis dan Ara. 

    Mengusung kesamaan tokoh dan karakter, film Keluarga Cemara berhasil memberi pesan yang menyentuh hati, menggugah emosi, sekaligus tertawa simpul lewat tingkah polah Ara. 

    (Baca juga: Review Film: A Man Called Ahok)

    Film 'Keluarga Cemara' dibuka dengan harmonisnya kehidupan keluarga Cemara, hingga suatu kali Abah (Ringgo Agus Rahman) dan Emak (Nirina Zubir) dihadapkan pada masalah penipuan dan jatuh bangkrut. Akibatnya, kedua anak mereka, Euis (Zara JKT 48) dan Ara (Widuri Puteri) harus menghadapi keadaan baru yang menimpa keluarga mereka. 

    Pindah dari rumah mewah di Jakarta ke rumah sederhana dan rapuh di kampung halaman Abah, semua mesti beradaptasi lagi dengan 'hidup baru'. Dari serba ada, ke serba kekurangan. Dari serba mewah, ke apa adanya. 


    (Keluarga Cemara. Foto: Dok/VisinemaPictures)

    Persoalan beruntun membuat Abah, Emak, Euis dan Ara mesti saling berdamai dengan diri masing-masing. Abah mencari kerja serabutan. Emak memutar otak untuk buka usaha. Euis yang uring-uringan karena pindah sekolah, juga kemudian membantu Emak menjual opak. Namun, semuanya berbeda dari kacamata Ara, yang melihat semuanya serba positif, dan tak pelak menjadi penyeimbang cerita. 

    Di antara hidup yang sulit itu, ada Ceu Salma (Asri Welas), tempat pemberi pinjaman, dan juga jalan keluar bagi keluarga Cemara. Ada juga Romli teman Abah yang membantunya mencari kerja. 

    Sebelum mencapai klimaks, Abah berniat menjual rumah pada Tante Pressier (Maudy Koesnaedi). Namun, menjual rumah tak semudah itu. Apakah Abah akan melepas 'rumah' dan 'kehangatan' yang dirasakan para penghuninya? 

    Keluarga Cemara Kekinian 

    Diproduksi Visinema Pictures bekerjasama dengan Ideosource Entertainent dan Kaskus, film 'Keluarga Cemara' hidup di era kekinian. Bagi yang lahir dan tumbuh dengan serial tv Keluarga Cemara akan mendapati banyak perbedaan, dan mungkin agak berjarak dengan 'kesederhanaan' yang menjadi ruh dari cerita asli yang ditulis . 


    (Emak (Nirina Zubir) di Keluarga Cemara. Foto: Dok/VisinemaPictures) 


    Abah punya becak tapi tak tampak menarik becak. Ia bekerja serabutan dari mulai tukang bangunan hingga tukang ojek (ya, ada Gojek). Euis bukan lagi gadis lugu biasa yang berteriak kencang saat menjual opak, tapi salah satu penari breakdance yang mengalami masa transisi. Kegelisahan terbesar disematkan padanya berkat 'keguncangan' yang tiba-tiba. Sementara Ara, hadir dengan keluguan khas anak kecil. Semua kerusuhan dan beban yang dipikiran orang dewasa tak ada padanya. Plot waktu membuat Ara di film tak sepenuhnya sama dengan Ara seri tv. 

    Di jajaran aktor, Nirina Zubir sebagai Emak bermain total dan mengesankan. Ada momen di mana air mata akan jatuh karenanya.

    Dan, yang menarik dan mencuri perhatian lainnya, ada pada akting Asri Welas yang selalu ditunggu kemunculannya. Berperan sebagai Ceu Salma, Asri tampil dengan totalitas yang mengocok perut dan juga kadang menyentuh hati. 

    Di luar itu, iringan musik dan soundtrack di film ini patut diapreasiasi. Semua asik, dan menjadi jalinan cerita sendiri. Ada Dialog Dini Hari, Banda Neira, hingga Bunga Citra Lestari. 


    (Ceu Salma (Asri Welas) di Keluarga Cemara. Foto: Dok/VisinemaPictures) 


    Meski terkesan agak sedikit tergesa-gesa di awal, dan placement produk yang bertebaran, film 'Keluarga Cemara' berhasil membuat penonton bernostalgia. Bahwa dulu, di era 90-an ada serial tv dengan cerita yang berasa dekat, jujur dan sederhana. 

    Pesan yang kemudian bisa diambil setelah 110 menit berlalu. Film 'Keluarga Cemara' dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menekankan, betapa hidup sebenarnya sederhana, dan benar adanya, bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. 

    Film 'Keluarga Cemara' tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Januari 2019.




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below