Review Film: 'A Man Called Ahok'


  • Review Film: 'A Man Called Ahok'
    Diangkat dari buku berjudul sama, film 'A Man Called Ahok' mengangkat kisah Ahok kecil dan pembentukan karakternya di Belitung Timur. (Foto: Dok/TheUnitedTeamofArt)


    Diangkat dari buku yang ditulis Rudi Valinka berjudul sama, film 'A Man Called Ahok' memberi fokus pada kehidupan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kecil hingga dewasa di Belitung Timur. 

    Sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian si Boy) lebih memilih menampilkan hubungan Ahok dan ayahnya Kim Nam, serta bagaimana karakter Ahok yang kritis dan peduli orang lain terbentuk. 



    Hampir tak ada persoalan politik Jakarta, jerat hukum, dan hubungan asmaranya seperti gambaran banyak orang. 'A Man Called Ahok' juga bukan sekadar tentang Ahok, tapi ayahnya yang berperan lebih besar dari yang dibayangkan, dan pentingnya arti keluarga. 

    (Baca juga: Review Film: Aruna dan Lidahnya)

    Cerita dibuka dengan narasi Ahok yang membacakan surat untuk para pendukungnya yang berdemonstrasi kala ia diputuskan di penjara. Sebentar saja lalu film berkilas balik pada latar 1972, saat Ahok kecil berusia 6 tahun di Belitung Timur. 

    Dibanding dua adiknya, Fifi dan Harry, Ahok (diperankan Eric Febrian), kerap memerhatikan gerak-gerik ayahnya Kim Nam (Denny Sumargo). Dari mulai sifat dermawannya pada orang lain, hingga sikap tegasnya pada orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari usaha tambang yang dibangunnya. 


    (A Man Called Ahok. Foto: Dok/TheUnitedTeamofArt)


    Di meja makan, Kim Nam juga kerap menyelipkan banyak petuah-petuah yang bakal menjadi bekal Ahok di kemudian hari. Di antara selipan pembangunan karakter itu, pada suatu waktu lahir Frans, adik bungsu Ahok yang bisa jadi tak banyak publik ketahui. Frans meninggal dunia di usia remaja karena kecelakaan dan menjadi titik balik buat keluarga Ahok. 

    Dan seiring berjalan waktu, Ahok dewasa (Daniel Mananta) seperti mengadopsi sifat dermawan dan keras Kim Nam (versi tua diperankan Chew Kin Wah). Persoalan makin kompleks, ketika kondisi kesehatan Kim Nam memburuk. Ahok dihadapkan pada persoalan meneruskan usaha di Belitung atau tetap mencari kerja di Jakarta usai menamatkan studi perguruan tingginya. 

    Kerap terbentur dengan pejabat yang korup, Ahok kemudian memutuskan maju ke ranah politik dengan mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Belitung Timur (2004-2009), dan kemudian Bupati Belitung Timur (2005-2010). Di balik kiprah bisnis dan politiknya, ada keluarga, dan saudara-saudara yang berada di sampingnya, siap sebagai pendukung utama.  


    (A Man Called Ahok. Foto: Dok/TheUnitedTeamofArt)


    Nilai keluarga 

    Dengan mengangkat cerita dari dua latar waktu berbeda, Ahok kecil dan dewasa, film ini berhasil menekankan nilai penting pembentukan karakter anak dalam keluarga. Sosok ayah Ahok, Tjoeng Kim Nam mendapat porsi lebih besar, hampir separuh film. 

    Putrama Tuta juga memberi ruang lebih akan interaksi Ahok-Kim Nam. Bagaimana Ahok dibangun karakternya dari hal-hal kecil di meja makan, hingga obrolan di tepi tambang. 



    (A Man Called Ahok. Foto: Dok/TheUnitedTeamofArt)


    Banyak selipan dialog ajaran ayah untuk anak yang menyentil dan terasa benar. Seperti saat Kim Nam menekankan agar anaknya menjadi orang besar yang berguna bagi masyarakatnya. Atau saat Ahok bertanya: "Apakah saya China atau Indonesia?", Kim Nam memberi jeda lama sebelum menjawab: "Jangan pernah berhenti mencintai negara ini, hok." 

    Kutipan dialog -aka petuah ayah untuk anak- itu hanya satu dari beberapa yang dilontarkan Kim Nam, dan menyentuh hati. Sepanjang film, penonton akan melihat betapa nilai keluarga menjadi sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Bagaimana karakter seorang Ahok kemudian terbentuk, dari seorang anak pengusaha tambang disegani yang hidup berkecukupan lalu kekurangan, dan kemudian menjadi mandiri dan tegas berprinsip. 

    Bagaimana seorang Ahok yang di luar sikap tegasnya itu juga dermawan dan berani membela yang lemah. Namun, tak ada yang sempurna. Begitu juga Ahok. 


    (A Man Called Ahok. Foto: Dok/TheUnitedTeamofArt)


    Kisah inspiratif

    Dari jajaran pemain, Daniel Mananta bermain cukup baik sebagai Ahok. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah Denny Sumargo sebagai Kim Nam muda. Ekspresi keras dan tegasnya menjadi momen penting di sepanjang film. Para penyelamat film lainnya, yakni Eric Febrian, Chew Kin Wah, Eriska Rein dan Sita Nursanti sebagai ibu Ahok, Jill Gladys sebagai Fifi dewasa, dan Donny Damara sebagai pejabat korup. 

    Dengan alur ceritanya yang lebih menekankan kisah hidup Ahok kecil - dewasa di Belitung Timur, film 'A Man Called Ahok' bukanlah soal politik seperti yang orang lain ketahui akan sosok Ahok. Film ini lebih menekankan sosok Ahok sebagai anak yang dibangun karakternya dari seorang ayah bernama Kim Nam. Itu saja. Dan oleh karenanya, film ini terasa bukan hanya untuk para Ahokers, tapi lebih luas dari itu.

    Film ini menjadi cocok buat siapa saja, terutama keluarga, dan mereka para perantau yang kerap lupa akan tanah asal kelahirannya. Berkat itu, film ini menjadi menarik untuk ditonton dan sayang dilewatkan begitu saja. 

    Film 'A Man Called Ahok' mulai tayang di bioskop Indonesia, Kamis (8/11). 





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below