'Cromia', Koleksi Tabrak Warna ala Sebastian Gunawan


  • 'Cromia', Koleksi Tabrak Warna ala Sebastian Gunawan
    Sebastian Gunawan mencoba memberontak lewat permainan warna dalam koleksi rancangan busana terbarunya yang ia beri tajuk 'Cromia'. (Foto: Dok/Insan/MRAMedia)


    Pada satu masa, pelukis Perancis era Post-Impresionis, Henri Matisse (1869-1954) memimpin gerakan Fauvisme, yang memberontak atas kelaziman warna. Ia membuat pohon menjadi berwarna merah, tanah berwarna ungu, atau figur orang menjadi biru untuk menggambarkan perasaannya. 

    Terinspirasi dari Matisse, duo desainer Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese lalu mengeluarkan koleksi busana yang juga memberontak akan kelaziman warna, untuk peragaan koleksi Sebastian Gunawan Couture tahun ini. 



    Bertajuk 'Cromia', Seba seolah menawarkan makna baru dan rasa emosional pada warna, namun tetap mencitrakan gambaran keindahan wanita feminin, elegan dan modern. 

    (Baca juga: Sebastian Gunawan Luncurkan Buku Whisper/Roar)

    'Cromia' itu sendiri berasal dari kata chroma yang bermakna kemurnian atau intensitas warna. Dalam bahasa Yunani, khroma berarti warna. 

    Malam itu, Seba menampilkan koleksi 88 gaun cocktail dan gaun malam pada peragaan yang berlangsung di Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta pada Jumat (21/9). 

    Secara keseluruhan, rancangan Seba masih sejalan dengan gaya khas rancangannya yang konstruktif, mewah dan elegan. Hanya saja bedanya, kali ini ia mencoba memberikan hal baru lewat pemberontakannya akan warna, bermain dengan motif bunga, memberinya ikat pinggang berukuran besar aneka warna, dan menutupnya dengan suguhan gaun pengantin grande elegan. 


    (Foto-foto: InsanObi/MRAMedia)


    Tabrak warna 

    Koleksi busana tabrak warna menjadi yang paling menonjol dalam peragaan tahun ini. Seba beralasan ia menghidupkan elemen warna dan menjadikannya sebagai unsur paling krusial untuk menghadirkan gaya, mode mendatang. 

    "Keberanian Matisse untuk menabrakkan warna dalam karyanya, serta bentuk dua dimensi yang kuat dan berpola, menginspirasi kami untuk menginterpretasikannya dalam deretan busana yang penuh nuansa," ujarnya beralasan. 

    Tak hanya mengeksplorasi bentuk, Seba dan Cristina pun juga mengeksplorasi warna-warna yang kontras/berseberangan yang menggelitik mata. Seolah secara sekilat mata tidak harmonis,dan liar, tapi masih terlihat indah. 

    (Baca juga: Intip Koleksi Cheongsam Couture 2018 Sebastian Gunawan)

    Koleksi Cromia secara masif melakukan tabrak warna, dari paduan palet warna komplementer misalnya memadankan ungu dengan oranye kemerahan, kuning kenari dengan biru muda, hijau pupus dengan oranye, dan atau hijau dengan putih. 

    Warna-warna dihadirkan dalam komposisi yang berani, ataupun warna tunggal seperti ungu, hijau, nude, biru, merah, tosca, yang berdiri sendiri atau bermotif bunga dengan bentuk dua dimensi yang naif, maupun dengan teknik digital printing di atas bahan. 

    Parade warna juga hadir dari berbagai bahan, seperti tulle yang tipis, tafetta, tweed, hingga yang tebal seperti lame matelasse, mikado, jaquard, dalam keragaman potongan dan siluet busana yang tak biasa. 

    Potongan kemeja yang biasanya dibuat di atas bahan berstektur tebal, kini digarap di atas bahan super tipis seperti tulle yang ditumpuk-tumpuk hingga menjadi tebal dengan pola lurus yang tak terduga. Lalu, ada terusan mirip jumpsuit, yang merupakan celana palazzo yang dipadankan tunik tanpa lengan. 


    (Foto-foto: InsanObi/MRAMedia)


    Menggali teknik 

    Untuk koleksinya kali ini, tampak Seba juga bermain-main dengan teknik dan craftmanship. Dari teknik melipat, menekuk, dan menyusun bahan yang telah ditampilkan pada peragaan tahun lalu yang kemudian dikembangkan lebih jauh. 

    Makanya, pada beberapa item akan mengingatkan pada busana yang pernah dilihat sebelumnya. Namun, bedanya ada pada warna atau ukuran. Koleksi Cromia mengusung karakter desain yang ringan, berkonstruksi, dan hadir nyaris tanpa bling-bling yang lebih bergaya masa kini sekaligus mewah. 

    Dari delapan puluhan busana yang hadir, deretan ragam busana yang dipersembahkan itu menjadi terikat pada satu benang merah koleksi yaitu ikat pinggang berukuran besar, yang juga hadir dalam warna tak selaras.

    Berkat ukuran dan tabrak warna tersebut ikat pinggang ini mau tak mau menjadi satu yang mencolok selama peragaan berlangsung. Hanya saja, ketika hal baru hadir, ada yang terasa pas dengan padanan warna, ada juga yang tidak. 

    Koleksi Cromia secara keseluruhan masih tampak khas Seba lewat gaya desain gaun konstruksi, mewah dan elegan. Namun, suguhan tabrak warnanya dan penempatan ikat pinggang gigantis masih berasa janggal untuk beberapa bagian. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below