Review Film: Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta


  • Review Film: Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta
    Sosok Sultan Agung di film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. (Foto: Dok/ooryatiSoedibyoCinema)


    Film 'Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta' menghadirkan kembali sosok Raja Mataram yang gigih, pemberani, dan tegas tanpa kompromi dalam menghadapi penjajah. 

    Sutradara Hanung Bramantyo tak ingin menjadikan film yang beranjak dari sejarah ini hadir seperti film dokumenter. Atas alasan itu, ia memberinya bumbu percintaan dengan menghadirkan kisah kasih tak sampai Sultan Agung saat masih muda belia dan menjalani pendidikan agama di Padepokan Ki Jejer, dengan karakter fiksi bernama Lembayung. 



    Namun, kehadiran karakter Lembayung justru jauh lebih besar dari sekadar kisah kasih tak sampai itu. Ia mewakili sosok perempuan pemberani, mandiri, dan kuat yang memuat pesan tak kalah penting di film Sultan Agung. Bahwa Lembayung seperti Sultan Agung punya semangat besar yang menginspirasi. Ia bahkan turut berjuang melawan penjajah, menaiki benteng, dan merubuhkan lawan dengan tangan kosong. 

    (Baca juga: Review Film: Mile 22)

    Alur cerita 

    Dengan latar abad 17, film yang beranjak dari sejarah ini diawali oleh penceritaan ketika Sultan Agung masih muda, bernama Raden Mas Rangsang (diperankan dengan sangat baik oleh Marthino Lio). Ia menjalani pendidikan agama dan beladiri di Padepokan Ki Jejer, beberapa kilometer dari istana. 

    Mas Rangsang 'diungsikan' ke Padepokan sejak usia 10 tahun oleh Raja Mataram. Ia merupakan anak dari istri kedua yang diprediksi akan mewarisi tahta di kemudian hari. Dengan konflik yang rumit antara Raja Mataram dengan istri pertama dan anaknya, serta diikuti kematian yang janggal dan tiba-tiba, Raden Mas Rangsang pada akhirnya naik tahta. 


    (Sultan Agung (Marthino Lio) dalam salah satu adegan di Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Foto:Dok/MooryatiSoedibyoCinema)


    Namun, sebelum itu, ia berkenalan dan jatuh cinta dengan sosok Lembayung (muda diperankan Putri Marino, dan dewasa Ardinia Wirasti). Keduanya sama-sama cerdas dan cekatan. Bahkan ada salah satu adegan yang menunjukkan ikatan yang kuat yang membuat penonton turut gemas karenanya. 

    Ketika Mataram menghadapi masa sulit, kisah cinta Mas Rangsang-Lembayung juga turut berakhir. Begitu naik tahta menjadi Raja Mataram, Raden Mas Rangsang pun menjadi Sultan Agung (diperankan Ario Bayu), dan menikah dengan putri Adipati Batang (Anindya Putri). 

    Cerita kemudian bergulir lebih luas. Mataram menghadapi VOC. Karakter Sultan Agung pun turut berubah dari Mas Rangsang yang humoris menjadi lebih tegas dan keras. Ia bahkan tak mau tunduk, apalagi bekerjasama dengan Belanda. 

    Ia membangun armada, membuat senapan buatan yang sama persis dengan kepemilikan Belanda, dan pada akhirnya meminta rakyat Mataram menggepur Belanda di Batavia. Di sinilah aksi heroik yang menjadi klimaks dari penceritaan.  

    (Baca juga: Review Film: Mission: Impossible - Fallout)

    Film kolosal

    Berdurasi cukup panjang hingga hampir dua jam, film ini tak membosankan memang, tapi ada beberapa kejanggalan yang bagaimanapun juga patut dimaafkan, seperti efek visual, busana, bahasa, dan lainnya. 

    Itu tak lain karena para jajaran pemeran di film ini tampil begitu sangat baik dan meyakinkan. Marthino Lio dan Ario Bayu tak hanya mirip tapi juga mampu menghidupkan Sultan Agung muda dan dewasa. Begitu juga Putri Marino dan Ardinia Wirasti yang juga secara fisik dan gaya tubuh mirip dan menghidupkan Lembayung dengan sangat asik. Di luar itu, ada Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Deddy Oetomo, Meriam Bellina, dan Christine Hakim, untuk menyebut beberapa di antaranya. 


    (Sultan Agung (Ario Bayu) dalam salah satu adegan di film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Foto: Dok/MooryatiSoedibyoCinema)

    Dari catatan produksinya, sutradara Hanung Bramantyo dikabarkan mesti menggali informasi dari catatan-catatan tentang Sultan Agung yang berasal dari dua sumber utama. Pertama, catatan penjelajah-penjelajah Eropa, yang ditulis dan dibukukan oleh HJ De Graf. Catatan-catatan ini menghadirkan perspektif Belanda terhadap Mataram, karena ditulis tentang hubungan mereka dengan kerajaan, dan bukan ditulis oleh orang dalam keraton. Sumber kedua adalah catatan dari Mataram, antara lain Babad Tanah Jawi, sebuah kitab yang dianggap sebagai catatan resmi tentang sejarah keraton, dan juga Babad Mataram serta Babad Sultan Agung.

    Masalah yang dihadapi oleh sang sutradara dan tim produksi adalah, semua catatan-catatan sejarah tersebut memuat peristiwa-peristiwa, dan penjelasan-penjelasan fisik tentang kondisi saat itu, misalnya tentang bagaimana bentuk keraton pada saat itu. Tetapi mereka tidak bisa menemukan catatan-catatan tentang hubungan Sultan Agung dengan istrinya, dengan anaknya, dan perasaan-perasaan yang dirasakannya dalam proses pengambilan keputusan-keputusan penting, misalnya dalam penyerangan ke Batavia. 

    Bagaimana dampak psikologisnya, bagaimana dampaknya kepada masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Hanung memutuskan untuk mengembangkannya dari karakter Sultan Agung yang keras dan tanpa kompromi, dan melalui pengembangan konflik yang dialami tokoh utama tersebut dengan tokoh-tokoh di sekelilingnya.

    Dengan alasan itu, bisa jadi film yang diproduseri Mooryati Soedibyo lewat Mooryati Soedibyo Cinema itu menjadi lebih bisa diterima. Upaya Hanung, Mooryati dan para pemeran dalam menghidupkan sosok Sultan Agung patut mendapat apresiasi. 

    Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta tayang di bioskop Indonesia, mulai Kamis (23/8), dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below