Menyelami Indonesia, 7 Buku Klasik yang Patut Dibaca


  • Menyelami Indonesia, 7 Buku Klasik yang Patut Dibaca
    Tujuh buku klasik Indonesia pilihan yang patut dibaca dalam rangka menyambut kemerdekaan tahun ini. (Foto: Pixabay/Pexels)

     

    Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73, tak ada salahnya kembali melihat 'Indonesia' dari karya sastranya, terutama buku-buku klasik. Karena, lewat karya ini publik dapat melihat 'wajah Indonesia' yang sebenarnya.



    Dari mulai Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang mengisahkan era sebelum kemerdekaan, hingga Ronggeng Dukuh Paruh yang menghidupkan kembali kisah dukuh Paruk lewat karakter Srintil.

    Dari buku-buku atau novel klasik ini, banyak kisah, ragam budaya, dan kekayaan Indonesia yang bisa digali, di samping tentunya turut menghibur di setiap kisahnya. Dari penelusuran berbagai sumber, berikut tujuh novel klasik Indonesia yang patut dibaca:

    (Baca juga artikel: 4 Buku yang Wajib Dibawa Saat Liburan Panjang)

    1. Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer

    Buku novel berjudul Bumi Manusia sudah tidak asing lagi dikalangan pencinta sastra Indonesia. Buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 silam ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Minke yang hidup di zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Selain mengisahkan perjuangan Minke agar bebas dan merdeka, buku yang merupakan bagian pertama dari Trilogi Buru ini juga menceritakan tentang pandangannya terhadap dunia pendidikan yang identik dengan Belanda pada saat itu.

    Dengan tebal 538 halaman, buku karangan Pramoedya Ananta Toer yang paling terkenal ini juga mengengkat kisah cinta sang tokoh utama dengan Annelies yang digambarkan sangat cantik jelita, sehingga tidak terlalu berat untuk kamu yang kurang gemar membaca.



    2. Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari

    Meskipun buku yang telah ditulisnya belum terlalu banyak, namun nama Ahmad Tohari berhasil dikenal di kalangan pencinta buku Indonesia dengan berbagai karyanya yang menarik. Salah satunya adalah buku novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan gabungan dari tiga seri Dukuh Paruk, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari & Jantera Bianglala.

    Buku yang diterbitkan 15 tahun lalu ini menceritakan tentang Srintil, seorang wanita yang menjadi ronggeng di Dukuh Paruk dan sukses menghidupkan kembali dukuh tersebut. Sayangnya, ada sebuah malapetaka politik yang terjadi dan menghancurkan tempat tersebut, hingga akhirnya para ronggeng dan penabuh calung pun harus dipenjara. 



    3. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk - Hamka

    Ingin membaca buku Indonesia klasik yang romantis? Kamu bisa coba membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang ditulis oleh Hamka. Buku ini menceritakan tentang perjuangan hidup Zainuddin dalam membuka lembaran baru dan kesetiaannya kepada Hayati meskipun telah ditolak oleh keluarga pujaan hatinya. 

    Tak hanya memiliki cerita yang menyentuh hati hingga mampu membuat para pembacanya meneteskan air mata, pembicaraan para karakternya pun bak puisi yang indah untuk didengar. 



    4. Robohnya Surau Kami - A. A. Navis

    Sepanjang hidupnya, Ali Akbar Navis telah menulis lebih dari 20 buku dan menerima berbagai penghargaan, termasuk dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1988 dan 1922. Salah satu karyanya yang patut dibaca adalah Rubuhnya Surau Kami yang merupakan buku pertamanya.

    Terdiri dari sepuluh cerita pendek dengan kisah unik dan mengejutkan namun tetap berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, buku Rubuhnya Surau Kami menggunakan beberapa sindiran dan satir yang menggelitik moral. 



    5. Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai - Marah Roesli

    Nama Sitti Nurbaya mungkin sudah tak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan untuk mereka yang jarang membaca buku sekalipun. Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai menceritakan tentang kisah cinta Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yang seringkali disebut sebagai 'Romeo dan Juliet'-nya Indonesia.

    Selain menceritakan tentang percintaan muda-mudi tersebut, buku ini juga mengangkat tema patriotisme dan perjuangan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa ditemukan setiap zaman.



    6. Roro Mendut - Y. B. Mangunwijaya

    Buku Roro Mendut merupakan bagian pertama dari trilogi dengan judul yang sama. Sang penulis, Y. B. Mangunwijaya, menceritakan kisah Roro Mendut yang dianggap sikapnya menyimpang dari tatanan di lingkungan istana, apalagi karena ia menolak menjadi istri Tumenggung Wiroguno karena lebih memilih pria lain.

    Buku yang diterbitkan pada tahun 1983 ini cocok untuk kamu yang membutuhkan inspirasi dalam menghadapi berbagai tantangan dan tekanan hidup.



    7. Burung-Burung Manyar - Y. B. Mangunwijaya

    Selain Roro Mendut, buku lain karya Y.B. Mangunwijaya yang patut dibaca adalah Burung-Burung Manyar. Buku yang berlatar waktu setelah masa penjajahan Belanda ini menceritakan tentang kisah cinta antara Larasati dan Satadewa dibumbui dengan humor yang mampu membuat pembacanya tertawa.







 
Advertisement - Continue Reading Below