Sengitnya Lelang Amal Karya Seni di Art Jakarta 2018


  • Sengitnya Lelang Amal Karya Seni di Art Jakarta 2018
    Art Jakarta 2018 menggelar lelang amal karpet dan lemari pendingin karya kolaborasi dengan sejumlah seniman. (Foto: Dok/ArtJakarta2018)


    Kegiatan seputar seni rupa semakin diminati warga Indonesia, terutama ibukota. Pameran seni Art Jakarta 2018 berhasil menarik ribuan pengunjung hanya dalam waktu empat hari saja. Tak hanya sekadar menampilkan lukisan maupun instalasi, pameran ini juga menghadirkan beragam program lainnya, mulai dari talkshow, workshop, seni pertunjukan, teater boneka, hingga lelang amal.

    Dipandu Deborah Iskandar selaku pendiri dan principal Indonesian Luxury, acara lelang amal ini dihadiri banyak pengunjung dan berlangsung dengan sengit. Tahun ini, karya yang dilelang merupakan lemari pendingin dan karpet yang dirancang khusus oleh sejumlah seniman ternama Indonesia.



    Ada tiga lemari pendingin Modena bertajuk "Masterpiece Retrofridge" yang dirancang secara eksklusif dengan lukisan tangan karya tiga seniman kenamaan Indonesia. Mereka adalah Darbotz, Indra Dodi, dan Naufal Abshar. Ketiga mahakarya ini berhasil terjual dengan harga sekitar Rp50 juta hingga Rp68 juta untuk setiap produknya.

    (Baca juga: 17 Program Menarik di Pameran Seni 'Art Jakarta' 2018)

    Sementara itu, sepuluh karpet hasil kolaborasi Mohoi Design dan 10 seniman juga turut dilelang pada kesempatan kali ini. Tak hanya sekadar karpet biasa, setiap karpet tersebut dirancang dengan latar belakang yang mendalam dan dibuat hanya satu setiap itemnya. 


    (Suasana lelang amal karpet dan lemari pendingin karya kolaborasi seniman di Art Jakarta 2018/ Foto: Dok/ArtJakarta2018)


    Salah satunya adalah 'The Nation in Between' karya Aditya Novali, sepasang karpet bulat berwarna merah dan putih yang merupakan bentuk metafora dari status quo jiwa patriot masa kini. Karpet ini berhasil terjual dengan dengan harga paling tinggi dibandingkan dengan yang lainnya, yaitu lebih dari Rp50 juta.

    Yang tak kalah diperebutkan juga adalah karpet "Tumbuhan" karya Wedhar Riyadi. Sesuai dengan namanya, karpet ini menjadi bentuk ungkapan bahwa setiap hal besar berawal dari hal kecil. Jika hal tersebut dijaga dan dimengerti, maka sesuatu yang lebih besar dan lebih bermakna pun akan tumbuh darinya.

    (Baca juga: Memasuki Tahun Ke-10, Art Jakarta Resmi Dibuka)

    Ada juga karpet rancangan Darbotz dengan judul 'The Mask' yang merupakan bentuk ungkapan dari beberapa kepribadian yang kita butuhkan untuk menghadapi berbagai jenis orang demi mendapatkan yang kita inginkan.

    Lalu, karpet rancangan Indieguerilas dengan judul 'Say ¥ € $ : V  ¥ € $ $ $ !' yang diciptakan sebagai bentuk pengingat untuk bekerja lebih keras, sehingga suatu saat akan menjadi "real money" dan tidak sekadar "loose change".

    Selain keempat karpet itu, ada enam lainnya yang tak kalah mencuri perhatian publik, di antaranya karya dari Abenk Alter, Bambang Toko, Hendra ‘Hehe’ Harsono, Mujahidin Nurrahman, Radi Arwinda, dan Roby Dwi Antono. 

    Dengan total 13 benda yang dilelang di acara ini, Art Jakarta berhasil mengumpulkan dana hingga ratusan juta rupiah. Hasil bersih dari lelang tersebut akan disumbangkan kepada Yayasan Mitra Museum Jakarta (YMMJ) dan Yayasan Doctor SHARE untuk Floating Hospital.




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below