Mengenal Amanda Nguyen, Nominator Muda Nobel Perdamaian


  • Mengenal Amanda Nguyen, Nominator Muda Nobel Perdamaian
    Amanda Nguyen, Nominator Peraih Nobel Perdamaian, (Foto: instagram/amandangocnguyen)


    Di usianya yang masih 26 tahun, Amanda Nguyen, penyintas pemerkosaan dan juga aktivis peduli perempuan, masuk dalam daftar nominasi peraih Nobel Perdamaian.

    Nguyen dinilai memberi kontribusi besar berkat upayanya yang fokus membantu orang-orang, khususnya wanita korban pemerkosaan. Wanita berumur 26 tahun ini telah mengubah sistem peradilan pidana Amerika serikat mengenai kekerasan seksual dan korban pemerkosaan. Di tahun 2014, saat dia masih berumur 23 tahun, Nguyen mendirikan RISE, organisasi nirlaba untuk masyarakat yang fokus pada perlindungan korban kekerasan seksual. 



    Lalu beberapa tahun kemudian dia membuat Rancangan Undang-Undang Hak Asasi Korban Penyerangan Seksual. Di mana undang-undang tersebut memberikan hak-hak dasar kepada korban pemerkosaan terutama perlindungan saat ia menjalani proses pemeriksaan medis dan hukum. Hasil dari dedikasi panjang, akhirnya undang-undang itu disahkan Presiden AS Barack Obama pada 2016.

    Terkait nominasi, Amanda merasa tidak menyangka bisa mendapatkan nominasi tersebut. 

    "Perasaaan saya campur aduk antara terkejut, bahagia dan bangga," kata Amanda seperti dilansir Huffington Post, Rabu (25/7).  "Sebab, saya tahu nominasi ini bukan hanya tentang saya, ini tentang para jutaan korban yang selamat bahwa mereka sudah melihat hak-hak mereka telah jadi undang-undang." 



    Lebih jauh, ia cerita bahwa usahanya membuat RUU Kekerasan Seksual berangkat dari pengalaman yang pernah jadi korban pemerkosaan. Betapa susahnya mendapat perlindungan hukum dan aturan hukum belum maksimal mendapat perlindungan hukum.



    Hal itu bermula setelah Nguyen mengalami kekerasan seksual di tahun terakhirnya kuliah di Universitas Harvard. Di tahun 2013, ia merasa undang-undang pemerkosaan tidak mengakomodir korban pemerkosaan.

    Setelah melapor bahwa dia jadi korban pemerkosaan dan menjalani pemeriksaan, polisi menginformasikan kepada Nguyen bahwa bukti pemerkosaan akan 'hangus' setelah enam bula bila dia tidak memperpanjang permohonannya -- sekalipun tuntutan untuk tersangka pemerkosaan di negara bagian Massachusetts itu 15 tahun.



    Dan akhirnya setiap enam bulan, Nguyen terus memperpanjang permohonan bukti pemerkosaannya, berharap itu jadi pertimbangan menjerat terdakwa pemerkosanya.

    Lalu dari sinilah ia tergerak untuk memperjuangkan nasib para korban pemerkosa. "Ada yang harus diubah," ungkapnya.

    "Kehidupan wanita sering tidak dihargai sebagai manusia seutuhnya, khususnya wanita Asia-amerika. Ras Asia-Amerika distereotipkan sebagai berorientasi hiperseks yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kekerasan seksual. Dan ini kalau dibiarkan, bakal menciptakan peluang yang lebih besar, itulah langkah awal mendirikan RISE," ungkapnya. 



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below