Cukupi Asupan Protein, Cara Efektif Cegah Bayi Stunting


  • Cukupi Asupan Protein, Cara Efektif Cegah Bayi Stunting
    Cara efektif cegah bayi mengalami stunting ialah mencukupi asupan protein yang cukup saat anak masih bayi. (Foto: Freepik)

    Stunting bukanlah sekedar membuat orang jadi bertubuh pendek. Lebih dari itu, stunting membuat kecerdasan orang menurun. Bahayanya, semua dampak tersebut bersifat permanen yang bisa membuat dia susah mendapat kerja di masa depan.

    Oleh karenanya, penting untuk orang tua mengambil langkah pencegahan sejak dini. Bagaimana caranya?

    Dokter Damayanti R. Sjarif, Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, menjelaskan, cara mencegah bayi stunting ialah dengan orang tua memberikan anak protein yang berkualitas dan dalam jumlah yang cukup saat ia masih bayi. Dianjurkan mulai memberi protein hewani pada anak sejak usia 6 bulan, dengan asupan 1,1 gr/BB. Jangan juga sampai berlebihan.



    (Baca juga: Mengenal Stunting dan Bahayanya pada Pertumbuhan Anak)

    “Berbagai penelitian menemukan, umumnya anak mulai mengalami kekurangan nutrisi di usia 3 bulan. Ada berbagai penyebab. Bisa karena memang produksi ASI (Air Susu Ibu) ibu tidak cukup, atau anak memiliki penyakit tertentu.

    Bila asupan dari ASI kurang, anak harus mendapat tambahan (komplementer). Di usia 6 bulan, anak harus sudah mendapat MPASI (makanan pendamping ASI). Sejak awal, MPASI harus mengandung protein hewani, bukannya puree nabati. Protein hewanilah yang akan mencegah stunting,” ungkapnya di Jakarta, baru-baru ini.

    Pencegahan stunting sendiri diberbagai negara sudah menjadi program strategis. Di India, misalnya, pemerintah di sana sampai membuat revolusi putih, yakni anjuran minum susu untuk mencegah stunting. Hal itu langkah yang efektif sejauh ini karena penelitian sudah mengonfirmasi bahwa minum susu bisa menurunkan stunting.

    “Berdasarkan penelitian, tingkat konsumsi susu berbanding terbalik dengan angka stunting. Di ASEAN misalnya, Singapura dengan konsumsi susu tertinggi, angka stuntingnya paling rendah. Namun di Indonesia, susu jarang disebut, bahkan sekarang tak ada lagi anjuran minum susu. Susu jangan dikonotasikan macam-macam. Semua boleh minum susu, asal secukupnya, jangan berlebihan juga,” ungkap Damayanti.

    (Baca juga: Waktunya Peduli Gizi Anak Bangsa)

    Orang Belanda dinobatkan sebagai manusia tertinggi di dunia. Setelah diselidik, ternyata perbandingan antara konsumsi hewani dengan nabatinya berbeda jauh. Di mana konsumsi protein hewani jauh lebih besar daripada nabatinya. 

    Dokter Damayanti bukan menyarankan semua orang harus minum susu sampai harus memaksakan diri membeli susu yang mahal.

    “Negara kita dikelilingi laut. Harusnya ikan bisa menjadi makanan sumber protein. Tidak harus ikan salmon. Ikan kembung juga bisa dijadikan luk karena mengandung omega-3 jauh lebih tinggi dibanding ikan salmon,” ujarnya.

    Lebih jauh ia menganjurkan agar mengonsumsi makanan dari sumber di sekitar. Bila jauh dari laut, ada ikan sungai yang kandungan proteinnya tak kalah bagus. Juga telur, unggas, atau daging merah. Menurut dokter Damayanti, tempe saja tidak bisa mencegah stunting, kecuali bila dikombinasi dengan sumber protein hewani.  

    (Baca juga: Mengembangkan Bakat Sepakbola Anak-anak Indonesia)

    Dokter Damayanti juga menekankan, jangan terlalu berlebihan sampai tidak memberikan garam dan gula sama sekali. Tanpa gula dan garam, makanan tidak enak sehingga anak tidak mau makan. “Makanan Indonesia itu enak. Kenalkanlah pada anak-anak. Kita yang membuat itu jadi sehat,” ujarnya.

    Salah satu penyebab stunting adalah pemberian makanan yang salah. Menurut dokter Damayanti, ini lingkaran setan yang harus diputus. Bila ASI sudah tidak mencukupi, maka MPASI harus diberikan. 

    “Jadi, bukannya ASI di-stop, melainkan ditambah dengan MPASI. Berikanlah anak MPASI yang benar, dengan kandungan nutrisi cukup dan seimbang, mengandung makrinutrisi dan mikronutrisi,” tutupnya.



 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below